alasan-tak-terdefinisi

Rabu, 10 September 2008
sejauh mana sih sesuatu menjadi "kesabaran"? dan di titik mana semua itu hanyalah sepenggal "kebodohan"?

ternyata tipis banget kain pembatasnya..

melakukan sesuatu demi suatu tujuan yang sama, bersama dengan pihak lain, entah satu dua tiga empat atau bahkan seribu orang, pasti banyak terjadi konflik. konflik ini muncul karena perbedaan cara pandang, perbedaan cara komunikasi, perbedaan stabilitas emosi, dan berbagai perbedaan lainnya.

ada satu jalan paling manjur untuk menghadapi itu semua, kesabaran! sabar dalam mengungkapkan emosi, sabar dalam menyampaikan pendapat (yang mungkin kontra dengan pendapat pihak lain), sabar dalam bergerak, sabar untuk membimbing, sabar dalam dibimbing, dan sabar untuk yang lainnya..

bukan ga mungkin konflik itu terus-terusan dateng dengan hal yang sama. konflik bisa terjadi (dari semua pihak) karena kesalahan yang sama, terus-terusan. yah memang perlu sabar.. tapi sampai mana batas kesabarannya? kalo terus diterusin, tidakkah justru lama kelamaan hal itu bisa jadi sekedar kebodohan yang menghambat kemajuan?

ada emosi, yang melahirkan ego, menyatakan: "aku tidak akan menyerah!! aku akan coba terus sampai berhasil!!".
tapi rasionalitas dengan stabilnya terus berujar, "semua hal yang bisa dilakukan sudah dilakukan, semua yang perlu dilakukan sudah dilakukan, sekarang aku hanya perlu menunggu perubahan itu terjadi, tetapi bisakah aku memberi kepastian kapan perubahan itu terjadi? dan apakah perubahan itu memang ke arah yang aku inginkan?"

entah..
tapi jauh di dalam sana,
ada suatu alesan yang (ternyata) tidak terdefinisi yang mengatakan dengan kuat bahwa semua ini belum selesai..

dan kembali lagi, entah kenapa, aku memutuskan untuk mengikuti saja alesan-tak-terdefinisi itu, whatever it takes..


-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar