Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

sedikit pikiran

Minggu, 04 Januari 2015

ada yang bilang kadang kita baru akan menyadari pentingnya sesuatu setelah kita kehilangan sesuatu itu. tapi ga selalu begitu. pengalaman gw bilang kadang ketika kita kehilangan sesuatu, tiba-tiba mindset bisa berubah dengan cepat menyesuaikan dengan kondisi terbaru. dan kita tetap tidak menyadari sesuatu yang hilang tersebut karena, mungkin, di mindset yang baru sesuatu itu hilang dari posisi vitalnya, menyesuaikan misalnya dengan arah gerak atau tujuan baru.

dan ketika tiba-tiba si sesuatu itu datang kembali, mindset pun berubah lagi tetapi tidak dengan cepat. dan proses mengembalikan ke mindset awal tadi itu lah yang menyadarkan bahwa ada sesuatu yang selama ini hilang, dan akhirnya sekarang telah kembali.

teringat juga tentang sebuah ide yang cukup lama terlupakan. ide yang ditanamkan pada masa-masa perguruan tinggi. 'the last strong hold', sebuah benteng yang jujur dan berusaha mengutamakan kepentingan semua golongan, setia pada basis kemampuan. benteng yang kokoh. lama terlupakan, apalagi terimplementasikan.

2014, satu tahun waktu yang dibutuhkan untuk akhirnya menyadari itu. dan kini setelah kembali sadar, dengan segenap jejak dan pengalaman yang telah berkembang, apa yang mau dilakukan berikutnya? apa yang perlu dituang ke dalam langkah-langkah kecil untuk dijalankan mulai dari 2015?

karir
pembekalan kemampuan diawali dengan mindset survival. untuk bertahan hidup. melakukan sesuatu dengan keterampilan tertentu, untuk mendapatkan sesuatu yang bisa ditukar dengan kebutuhan dasar. di titik awal, apa pun dilakukan dengan tujuan sederhana: bertahan hidup.

ketika tujuan bertahan hidup telah tercapai, berikutnya adalah mengembangkan kemampuan lebih luas lagi. mencari tantangan di dunia yang baru, dengan tanggung jawab yang lebih besar. juga menuntut untuk ditukar dengan alat tukar yang lebih besar jumlahnya. dan seterusnya.

di 2014, tanpa sadar mindset telah berubah. melupakan salah satu hal utama yaitu bekerja sebagai kegiatan pembekalan kemampuan. terfokus pada tujuan lain yang materialistik yang, sejauh review saat ini, arahnya malah kontra produktif terhadap tujuan pembekalan kemampuan. ini tentu perlu diubah di 2015 dan seterusnya.

keluarga
setelah bisa menghidupi diri sendiri, kita mulai untuk berusaha menghidupi orang lain. minimal membantu mengurangi beban untuk orang-orang terdekat.

dari dulu selalu hadir di pikiran, betapa hebatnya sebuah pelataran, digunakan sebagai tempat berpijak bagi orang-orang yang melakukan berbagai kegiatan di atasnya untuk mengembangkan bakatnya masing-masing. betapa berartinya sebuah mercusuar, yang tegak dalam ombak dan memberi secercah sinar sebagai panduan dalam gelap. betapa menyenangkannya sebuah aliran air, digunakan untuk membersihkan, atau sarana bersantai menikmati aliran alam yang tenang, maupun aliran deras yang kadang terjadi dan digunakan sebagai sarana memacu adrenalin bagi penikmatnya. betapa hangatnya api yang memberi hangat dalam dingin. betapa bergunanya sebuah pisau, dengan karakter yang tajam bisa digunakan untuk menyiapkan makan maupun sebagai senjata.

aku ingin jadi itu semua, minimal untuk orang-orang terdekat, keluarga. karir dan kemampuan yang berkembang dalam perjalanannya, harus bisa digunakan sebagai pelataran, mercusuar dan pisau. karakter yang terbentuk dalam perjalanan harus bisa digunakan sebagai aliran air dan juga api. bagi orang-orang terdekat. masih banyak utang soal ini di 2014, semoga di 2015 bisa lebih baik.

lingkungan
ada banyak masalah di luar sana. berusaha menjadi bagian dari solusi. minimal, tidak menjadi bagian dari masalah. menuju lingkungan yang ideal, diperlukan ide. satu idealisme yang sama, berarti perlu satu ide bersama. spread out your idea! speak up! toleransi, hargai perbedaan sebagai suatu kekayaan. menuju indonesia yang damai dan berkemajuan tinggi.



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

mendadak islami

Jumat, 18 Juli 2014
awalnya pas lagi nyari2 detail timezone (standard time dan daylight saving time) untuk tiap airport code (standard iata) buat kerjaan kantor, tiba2 nyampe ke stackoverflow.com (http://stackoverflow.com/questions/20553371/how-to-get-timezone-from-airport-code-iata-faa). trus malah jadi bengong soal stackoverflow.

stackoverflow tuh semacem socmed yg tujuannya untuk saut2an soal computer programming, ada yang nanya, ada yang njawab. kalo jawabannya bagus dapet reputasi dalam poin, kalo jawabannya jelek (ga nyambung sama pertanyaan) bisa dikurangin reputasinya dalam poin.
It features questions and answers on a wide range of topics in computer programming. The website serves as a platform for users to ask and answer questions, and, through membership and active participation, to vote questions and answers up or down and edit questions and answers in a fashion similar to a wiki or digg. Users of Stack Overflow can earn reputation points and "badges"; for example, a person is awarded 10 reputation points for receiving an "up" vote on an answer given to a question, and can receive badges for their valued contributions, which represents a kind of gamification of the traditional Q&A site or forum. All user-generated content is licensed under a Creative Commons Attribute-ShareAlike license. Closing unsuccessful questions is encouraged as a mechanism to differentiate from competitors such as Yahoo! Answers. -http://en.wikipedia.org/wiki/Stack_Overflow

di situs ini keliatan ada banyak orang pinter yang baik, suka ngajarin orang. gimana yang ngajarinnya bagus, gimana yang ngajarinnya sok tau, gimana yang ga ngajarin. ada yang ngajarin konsep, ada yang ngajarin cara codingnya (pake contoh code yg dia bikin), dan lain-lain. intinya sih di situs ini banyak orang-orang yang suka berbagi. berbagi masalah, berbagi solusi.

sampe lah akhirnya orang-orang lain yang lagi belajar tentang sesuatu, lagi nyoba2 trus eror, trus googling, dapet link yang sesuai sama keyword2 yang ada di pertanyaannya (karena sempat ada orang lain yang menanyakan hal yang sama) yaitu stackoverflow. dan seterusnya dan makin banyak juga orang yang dateng, bertanya, atau menjawab di stackoverflow. dan makin banyak juga lah keyword yang dia perluin untuk bisa kebaca sama mesin pencari cem google.

dia ga repot2 ngurusin SEO (http://en.wikipedia.org/wiki/Search_engine_optimization), tapi para pengguna sendiri lah yang mbantuk mereka untuk 'njaga' SEO tentang pentingnya keyowrds. yang terus menerus lahir dari perkembangbiakan para penggunanya. cerdas! ya cem gw ini lah 'korban'nya. gara2 ngebahas stackoverflow, liat aja di posting ini ada berapa kata stackoverflow. keywordnya tebel banget, disebut berkali2, iklan gratis buat dia :D

yah, intinya pengguna dan pengunjung situs ini meningkat terus. mereka udah dapet trust dari orang2 (thanks to search engines). selanjutnya mau bisnis apa lagi nih?

modalnya jelas, ada banyak orang pinter berkeliaran di situsnya. banyak orang nyari solusi di websitenya dia. 'gw jualin aja lah ni orang2 pinter', pikirnya. bikinlah dia program ini http://careers.stackoverflow.com/products. ada job listing, ada developer listing. developer nyari job, perusahaan nyari developer. dua2nya saling mencari, lalu berpadu cinta di dalam lapaknya. makin kuat aja lah brandingnya. tanpa perlu repot2 mikirin keberlangsungannya, toh 'produk' dan 'pasar'nya saling mencari satu sama lain di dalam brandingnya. cem prostitusi, pasti bakal bertahan terus lah :D

ide bisnis ini cerdas banget dan akan makin berkembang. selanjutnya apa lagi ya?

btw, kenapa judulnya mendadak islami, kok ga nyambung sama isinya?
ya justru biar rusak SEO nya, kalo judulnya 'tentang stackoverflow' jadi nambah lagi iklan dia di tempat gw.


baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

trip singapura

Sabtu, 29 Maret 2014
sekali lagi berkunjung ke singapura. kali ini dibayarin sama kantor. saat trip pertama dulu, fokus perhatiannya ada pada transportasi publik yaitu MRT dan bis, namun kali ini karena dateng untuk keperluan kantor, jadi ga punya banyak waktu untuk jalan2 jauh yang pake MRT atau bis. akhirnya aktivitas perpindahan lokasi lebih banyak dilakukan dengan jalan kaki, sambil ngamatin kendaraan-kendaraan (mobil/motor/bis) yang mengisi jalan dan juga sambil ngamatin para pejalan kaki lainnya.

tata kota
salah satu yang cukup gw soroti di singapura adalah marka jalan. tiap jalan memiliki marka yang jelas. garis putih pemisah lajur, maupun kotak kuning (YBJ) menjadi standar di semua jalan yang gw lintasi, termasuk di jalan kecil. cukup miris ketika gw liat lagi kondisi jalan raya di Jabodetabek yang biasa gw lalui, garis pemisah lajur pun belum tentu ada. mungkin di jalan protokol garis pemisah lajur tercetak cukup jelas, tapi di jalan2 lain, tidak jelas dimana batas lajurnya. garis pinggir jalan pun jarang ditemui di jalan2 jabodetabek.

YBJ (Yellow Box Junction), bisa dilihat penjelasan fungsinya di http://catatan.tmcpoldametro.net/, tujuannya untuk menghindari deadlock di bagian jalan yang menjadi perpotongan antara beberapa jalur. di jabodetabek, YBJ hanya gw temui di beberapa perempatan besar yang rawan macet, dan itu pun banyak pengguna kendaraan pribadi yang tidak mengindahkan fungsi YBJ ini. di singapura, YBJ diterapkan dengan baik, bukan hanya di perempatan besar tapi juga bahkan di putaran antara 2 jalur, perpotongan jalan kecil dan jalan besar, hingga di samping lokasi perhentian bus selain halte.

ybj di putaran jalan

ybj di perpotongan jalan kecil

ybj di samping stop bus

para pengguna kendaraan di singapura pun menaati marka tersebut. suatu pagi yang gw amati, ketika lampu sedang merah, pengendara mobil yang kebetulan berada di 'belakang' YBJ, mengerem kendaraannya di belakang YBJ sampai lampu hijau kembali.

dengan ketaatan pengguna kendaraan seperti itu, selama seminggu gw di singapura, gw cuma denger 3 kali orang nglakson. sangat berbeda dengan suasana di jabodetabek.

enak banget jalan kaki di singapura. jalur pejalan kaki didesain dengan serius, trotoarnya lebar, tersambung terus di semua jalan. bahkan untuk nyebrang jalan, tersedia lampu merah untuk pejalan kaki. kalo lampu merah untuk kendaraan punya 3 warna (merah, kuning, hijau) dimana kuning artinya siap2 (siap2 jalan atau siap2 stop), bagi pejalan kaki lampunya cuma 2 yaitu merah dan hijau.

pada warna hijau pejalan kaki, ada nyala kedip2 dan nyala terus. nyala terus artinya orang bisa mulai menyebrang, sedangkan jika lampu hijau berkedip, pejalan kaki dihimbau untuk tidak mulai menyebrang. kadang ada sih yang tetep mulai nyebrang waktu lampu udah kedip-kedip, tapi konsekuensinya adalah si orang itu biasanya harus jalan cepet atau lari dari tengah jalan karena lampu kendaraan yg akan lewat udah hijau.

hal tersebut menunjukkan adanya perhitungan durasi berapa rata-rata waktu yang dibutuhkan orang-orang untuk menyebrang. jika lampu merah untuk kendaraan yang akan melewati jalur terebut akan berakhir (segera menjadi hijau), durasi rata-rata tersebut dibutuhkan untuk menentukan apakah lampu hijau pejalan kaki sudah perlu dikedipkan. detail sekali sistemnya dibuat.

kondisi ini membuat pejalan kaki (yah setidaknya gw dan temen gw) merasa dihargai sebagai pengguna jalan yang setara dengan mobil atau motor atau bis. dan entah bagaimana awalnya dikondisikan, para pengguna kendaraan pribadi akan selalu mengalah pada pejalan kaki ketika pejalan kaki hendak menyebrang.

jalan kaki dan kesehatan
dengan kondisi yang didesain nyaman untuk berjalan kaki, para penduduk singapura cenderung lebih memilih untuk berjalan kaki jika lokasi tujuan berjarak sekitar 1km dari lokasi awal. hal demikian akan mengimbangi kebutuhan para pekerja singapura untuk berolahraga minimal. dengan pola kerja yang lebih banyak dihabiskan di belakang meja atau di depan monitor, jalan kaki akan menyeimbangkan kebutuhan badan akan gerak.

jarang sekali gw ketemu pekerja/warga singapura berusia sekolah sampai usia kerja yang bertubuh gemuk. di jalan sehari2 yang gw temui mayoritas bertubuh langsing, baik pria mau pun wanitanya. gw rasa ini ada hubungannya juga dengan kebiasaan jalan kaki sehari-hari. seminggu gw di sana, lemak di perut gw banyak berkurang :D

berdasarkan data dari http://www.worldlifeexpectancy.com/country-health-profile/singapore, terlihat bahwa life expectancy warga singapur secara historis meningkat dari taun ke taun, dan pada taun 2011 menempati peringkat 8 besar terbaik di dunia.

walaupun termasuk nominasi negara dengan tingginya tingkat penduduk yang tidak bahagia (http://www.scmp.com/news/hong-kong/article/1131222/singapore-hong-kong-face-happiness-deficit?page=all), walaupun belum tentu tidak bahagia adalah sama dengan stress atau sedih, seperti dikatakan di artikel ini http://www.gallup.com/poll/158882/singapore-ranks-least-emotional-country-world.aspx bahwa penduduk singapur sedikit menggunakan emosi (positif ataupun negatif), tetapi data di paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa singapur berada di nominasi negara dengan tingkat kesehatan terbaik.

hal di atas dapat dijadikan pelajaran bahwa dengan meningkatkan kualitas transportasi publik dan fasilitas pejalan kaki, membuat orang-orang akan memilih untuk menggunakan transportasi publik dan/atau berjalan kaki, dapat mengurangi potensi minimal dua masalah sekaligus yaitu kemacetan dan kesehatan.

etika sosial (formalitas)
banyak didenger bahwa di singapura orang2nya cenderung individualistik. ga peduli masalah orang lain, ga mau mengganggu dan ga mau diganggu. selama gw di sana, ketemu macem-macem orang dari negara dan budaya yang beda-beda, satu hal yang (mungkin tanpa sadar) dilakukan bersama-sama adalah meminimalisir gesekan yang mungkin terjadi akibat perbedaan budaya atau latar belakang antar individunya.

hal ini bukan berarti ignorant atau ga bersosialisasi satu sama lain, tetapi justru saling bersosialisasi tetapi dengan menciptakan suatu formalitas tertentu yang dilakukan bersama. hal kecil sebagai contoh, yang gw dapet fotonya, adalah foto ini

say thank you when someone holds the lift door for you

salah satu hal yang cukup menonjol di singapura adalah kebiasaan tidak memetingkan diri sendiri ketika berada di lingkungan sosial. entah itu di jalan raya, di stasiun MRT, di halte bis, mau pun di lift. cukup sering terlihat seseorang yang berada dekat tombol lift menahan pintu lift agar tetap terbuka agar orang-orang yang akan keluar dari lift tidak perlu terburu-buru atau hati-hati takut pintu tertutup saat dia akan lewat. dan untuk contoh demikian, formalitas yang dibentuk adalah dengan mengucapkan terima kasih kepada yang melakukannya.

kita tidak bisa menilai apakah mereka tulus atau tidak saat mengucapkan itu. tetapi bagi orang yang menahan pintu, tiap ucapan adalah apresiasi yang baik. gw pernah coba melakukan itu, dan gw cukup surprise karena banyak ucapan2 terima kasih yang disampaikan (biarpun sebagian dari mereka mengucapkannya dengan kepala menunduk tanpa kontak mata).

di kejadian lain, seorang kawan saya yang asli singapura menahan pintu, dan sambil gw keluar gw bilang 'thank you' ke dia dan reaksinya adalah dia dan beberapa kawan lain justru tertawa-tawa sambil menepuk punggung gw. ini gw artikan bahwa ucapan itu adalah formalitas bagi mereka-mereka yang tidak terlalu mengenal (atau bahkan tidak kenal sama sekali).

dan yang baik menurut gw dalam hal ini adalah, walaupun himbauan ini ditempel secara tertulis di lift, walaupun (mungkin) merupakan formalitas saja, tetapi tetap ada kesadaran untuk melakukannya. walaupun mungkin bukan dilandasi empati, tetapi memang mereka menyadari bahwa untuk meminimalisir gesekan, ada formalitas tertentu yang 'perlu' dilakukan dan tidak memalukan untuk melakukannya.




baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

sinetron pailit

Sabtu, 15 September 2012

ga sengaja tiba2 nemu berita ini Pengadilan.Pailitkan.PT.Telkomsel, akhirnya lanjut googling2 tentang kasus telkomsel prima.

-> syarat pailit: punya utang yg jatuh tempo ke 2 kreditur atau lebih.
-> kondisi: telkomsel punya utang yang udah jatuh tempo ke prima jaya dan extent media indonesia.
-> hasil sementara: telkomsel kalah tapi belom selesai, masih mau ngajuin kasasi.

ngikutin berita2 itu ky nonton film. ada 2 pihak yang punya kepentingannya sendiri2, trus kepentingannya ternyata ada senggolan, dan mulai berantem. terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang bener (peduli amat!), lucu aja ngamatin jalan cerita berantemnya.

kita bayangin tiap pihak yg disebut2 di berita2 itu masing2 sebagai objek.

*naro sebungkus sampurna ijo ke atas meja ( -> objek A ) 
dan sebungkus samsu ( -> objek B).

ada objek A, ada objek B.
objek A dan objek B janjian maen bareng, temenan.
udah setengah jalan, menurut objek B, objek A ngelanggar perjanjian.
langsung dipukul sama objek B.
panggil objek ketiga, jadi penengah.

*naro asbak ke atas meja ( -> objek C )

objek C ngasih tau lagi aturan2 maennya.
objek B nyeritain kejadiannya, trus ngasih tau juga kerugian2nya, menurut dia.
objek A nyeritain juga kejadiannya menurut dia.
biar lebih meyakinkan simpatinya, objek B nyeritain kalo ada objek D yang ikut dirugiin juga.

.... *objek A speechless (untuk sementara)

ngeliat objek A ga bisa ngelawan lagi, objek C memutuskan kalo objek A KO. objek B menang.
trus ada objek lain

*naro toples makanan ke atas meja ( -> objek E)

ternyata objek E ini yang melingkupi objek A.
objek E ngasih statement politis yang cenderung ngasih semangat ke objek A.

--
kalo di scene setelah objek A kalah sampe datengnya objek E kita sisipin sebuah kalimat dari objek A "gw bilangin bapak gw loh!", berarti plot penokohannya bisa jadi -> A=anak kecil 1, B=anak kecil 2, C=orang agak gedean dikit, D=temennya anak kecil 2, E=bapaknya anak kecil 1.

mau perusahaan gede atau anak kecil, ternyata ga jauh beda kelakuannya. kalo kepentingannya ga terpenuhi trus bawa2 pihak laen yang bisa mbelain, sambil bawa2 nama temennya biar narik simpati, trus yang kalah juga dibelain dikit sama bapaknya yang tetep berusaha jaga wibawa di depan anak2 kecil.

jadi siapa yang salah? ga adakah yang bisa dipersalahkan lagi?
kata pepatah 'tiada rotan, ram punjabi'
jangan2 ini studi pasar utk skenarionya ram punjabi untuk sinetron yang bakal dikeluarin nanti..
entah lah.



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

something must be written

Senin, 23 Juli 2012

something must be written.

why?

udah 3 bulan sejak posting terakhir. bahkan posting di bulan april itu pun sebenernya tulisan lama yang udah sekian lama ngendap di draft :D berarti tulisan terakhir adalah 'what a year', desember 2011. 7 bulan! lama juga ya..

lalu? emangnya knapa juga mesti nulis sering2?

nulis itu perlu konten. trus konten itu mesti dirumusin dulu biar penyampeannya (agak) enak. perumusan dan penulisan konten itu juga butuh waktu, dan yang paling penting = mood :D

keliatannya ga ada masalah dengan konten. selalu ada konten dimana aja, mulai dari konten kerjaan, perjalanan berangkat/pulang kantor, kehidupan seputar kerjaan (lingkungan kerja, becandaan2 sambil kerja, dll). yang cukup jadi masalah adalah perumusannya. konten yang sama, bisa disampein dengan banyak cara. bisa jadi wadah curcol, atau wadah evaluasi, atau bahkan wadah untuk berbagi tutorial.

gw sih pengennya nulisin evaluasi, biar kesannya keren gitu..

tapi sampe sini aja kok malah jadi curhat ya?

suk asu ka ludah.

--

evaluasi.
eva·lu·a·si /évaluasi/ n penilaian: hasil -- itu hingga saat ini belum diperoleh;
-- penggamakan Min upaya penilaian secara teknis dan ekonomis thd suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya; (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)
kalo menurut gw, evaluasi itu mbandingin langkah demi langkah yang udah kita jalanin, trus dibandingin dengan 'big picture' atau keseluruhan peta. nyambung sama definisi dari kbbi tadi, dengan mbandingin langkah yang kita ambil dengan keseluruhan peta, kita bisa menilai langkah kita udah tepat atau belom. kita salah langkah atau ngga.

kerja di dapur. di tempat produksi. sebagai teknisi. ketemunya sama masalah2 teknis. gimana caranya ngevaluasi hal-hal teknis tanpa jadi semacem laporan ilmiah?

menjelajah di 'dunia baru' banyak nganter untuk ketemu wilayah2 besar yang masing-masing punya 'gaya teknis'nya sendiri2. misalnya programming dan networking. biarpun keliatannya berdekatan, tapi masing2 adalah wilayah yang berbeda, masalah2nya beda, cara nyeleseinnya beda, tools2 yang dipake pun berbeda. tapi ya itu lah konsekuensi logis kalo maen di zona middleware atau perangkat tengah. komunikasi antara 2 aplikasi pasti isinya senggolan2 antara programming dan networking.

coba kita main analogi. entah bener entah salah, yang penting coba digambarin secara general dulu, biar ga terperangkap dalam wilayah detail. menyelam tanpa tau apa yang diselami, cuma nunggu waktu untuk tenggelam. dan kita berusaha menghindari tenggelam :D

bntar2, gimana taunya kita udah tenggelam atau belom?

menurut gw, misalnya ada orang nanya sesuatu, dan kita jawab dengan bahasa yang terlalu teknis (bukan bahasa awam) artinya bisa jadi kita udah tenggelam.

--

lanjut, tiap sistem punya prosedur/program. jaman sekarang, program yang lagi banyak dikembangin sifatnya 'OOP' (object oriented programming). konsepnya sih, pengolahan data 'dilempar-lempar' antar object yang masing-masing punya fungsi spesifik.

hati2 tenggelem lu ntar! pake analogi dong!!

analoginya, misalnya kita beli sate di tukang sate. yang diakses sama pembeli adalah daging. awalnya daging ini (misalnya daging kambing), wujudnya kambing yang ada di peternakan. trus si kambing (masih berwujud kambing) 'dilempar' ke tempat penjagalan. di sini si kambing dengan naasnya disembelih, dikulitin dan dipotong2. trus potongan2nya 'dilempar' lagi ke pasar.

trus potongan daging ini dibeli (misalnya sama istrinya tukang sate) dibawa ke rumahnya, yang dijadiin dapur, ditusuk2, trus disimpen doang atau mungkin dibumbuin. dan kita, dateng ke tukang sate, minta sate. potongan daging yang udah ketusuk2 tadi diambil dari tempat penyimpanan, dibakar, dikemas (disajikan di piring atau dibungkus kertas) dan dikasih ke kita deh.

di analogi itu, yang (mungkin) bisa disebut objek adalah: peternakan, kambing, penjagalan, pasar, istri tukang sate, rumah/dapur, tukang sate, dan kita. 'data' yang diolah/diakses adalah: daging kambing.

kita ambil dua object, kita anggep sebagai sistem. pasar dan rumah.
begitu potongan daging sampe pasar, si pemilik lapak naro potongan2 daging di tempat tertentu, kalo ada pembeli, potongan2 yang dipilih akan ditimbang dan dikasih harga. aktivitas ini adalah prosedur atau program.

program pertama adalah naro potongan di tempat tertentu. tinggal nunggu 'trigger' utk jalanin program berikutnya yaitu ada pembeli.

ga lama istri si tukang sate dateng, milih2 potongan daging, nentuin beberapa yang mau dia ambil. program 'pasar' jalan lagi ke program berikutnya, yaitu ngambil daging2 yang dipilih dan naro di atas timbangan, trus ngasih harga. setelah program ini selesai, terjadi transaksi, dan daging pun berpindah tangan. data pun berpindah object (dari object pasar ke object istri tukang sate).

--

istri tukang sate adalah object yang tugasnya mbawa data (baca: daging) dari pasar ke rumah. object istri tukang sate ini jadi titik persinggungan antara programming dan networking. bayangin istri tukang sate ini naik busway utk pulang-pergi pasar-rumah.

kalo di programming ada OOP, di networking ada 'routing'. antara pasar dan rumah, ngelewatin beberapa 'router', bisa kali kita anggep halte. tiap halte bisa dilewatin lebih dari satu trayek angkot. halte tertentu 'tertutup' untuk trayek tertentu, jadi tiap trayek angkot rutenya relatif fix. gitu juga dengan jalur routing network tertentu, ada jalur2nya, diarahin sama network administrator.

kalo pake linux, coba aja ketik di command prompt traceroute google.com, atau kalo pake windows ketik tracert google.com. nanti akan keluar list url yang dilewatin sama data request kita ke google.com. atau dengan analogi tadi, akan ditampilin list halte2 yang mesti dilewatin antara pasar sampe ke rumah.

info halte busway -http://www.rutebusway.com/

trace route -windows

mirip kan? :D

permasalahan di networking kira2 misalnya jalur antara terminal lebak bulus sampe pondok pinang macet, lagi jam berangkat kerja. jalur yang disediain ga bisa nampung semua kendaraan yang lewat. kan jalur busway khusus, harusnya ga kena macet dong?? antara terminal lebak bulus dan pondok pinang emang ada jalur khusus busway yg kepisah dari jalur kendaraan biasa? kynya nggak deh. atau misalnya ada bis transjak yang rusak di tengah jalur, berarti bis2 di belakangnya juga terpaksa ikut2an 'ngantre'.

atau kemungkinan problem lain, kalo routernya rusak. atau halte busway tiba2 kebakar. berarti rute bis yang lewat sana mesti dialihkan dulu selama maintenance halte. pengalihannya, kemungkinannya ya jalurnya digabung sama kendaraan2 lain, jadi ikut2an kena macet juga :D

--

itu tadi semua proses di belakang layar.
di depan layar ada user. atau ada pembeli sate. yang fungsinya request dan terima beres.
pokoknya pembeli pengen beli sate, dan yang diharapkan adalah daging yang udah ketusuk dan mateng kebakar, dituker sama duit, lainnya ga urusan.

pas pembeli sate dapet sate yang dia inginkan, berarti bisa kita asumsiin semua proses tadi (baik prosedur2 (ternak, jagal, pasar, dapur) atau network2 (busway)) berjalan dengan lancar.

pas pembeli sate dapet jawaban "maaf mas/mbak, saya ga jualan, dagingnya ga ada..". nah, ini yang mesti diselidiki, dimana letak akar masalahnya kok stok daging kambing ga nyampe ke tukang sate.

semua prosedur atau jalur harus ditelusuri.
1. apakah peternakan udah kekurangan kambing?
2. apakah pejagalan lagi ga produksi? atau masih produksi tapi full fokus ke sapi sehingga kambing2nya dianggurin dulu?
3. apakah pasar lagi ditutup? atau buka tapi lagi janjian ga jual daging kambing?
4. ternak ok, jagal ok, pasar ok. apakah istri tukang sate yang ga pulang2 karena lupa waktu abis maen sama temennya?
5. apakah ada masalah di jalur busway yg dinaikin istri tukang sate?
6. apakah daging di rumah tukang sate hilang/rusak?
7. apakah tukang sate lupa mbawa daging kambing ke tempat jualan?

"Masalah yang lebih pelik adalah terlalu banyak skenario yang mungkin..." -http://sains.kompas.com/read/2012/07/09/16133523/Perburuan.Asal.Alam.Semesta

skenario2 di atas bisa disederhanakan jika ada PIC (person in charge) di tiap poin di atas yang mengecek bagiannya masing2, dan saling melaporkan hasil ceknya dalam satu forum.

--

ketika akhirnya si pembeli marah, dan mengadu ke pemerintah, "oi! gw mau beli sate aja kok susah amat sih?! kenapa ga ada stok sate di tukang sate yang itu?!" sambil nunjuk tukang sate tadi.

dan pemerintah pun menjawab kepadanya dengan tenang, "oh, ini masalah sistemik."
lalu dia nengok ke belakang, ke arah tukang sate tadi dan bilang "selesaikan secepatnya, gimana pun caranya! ini mengganggu stabilitas negara."

dan tukang sate pun pulang sambil termenung mikirin 7 poin di atas. yang dia tau, poin 6 dan 7 bukanlah masalah sebenernya. tapi gimana caranya ngelacak poin2 lainnya dan nemuin akar masalahnya?

okelah, dimana posisi problemnya, masih bisa ditemukan. poin 3, 4, 5 bisa dikonfirmasikan ke istri tukang sate. poin 1 dan poin 2 bisa dikonfirmasi ke masing2 pihak. tapi untuk penyelesaiannya, apakah tukang sate memiliki semua wewenang untuk menyelesaikan semuanya?

misalnya ternyata ditemukan masalahnya ada di poin 5. ada masalah di jalur busway. ternyata masalahnya adalah traffic yang terlalu padat sampe bis transjak pun terpaksa ikut2an kena macet. mungkin karena misalnya ada banyak kendaraan yang nyerobot ke jalur transjak, dan ikut2an bikin macet jalur itu.

apa yang bisa dilakukan tukang sate untuk menghalangi atau mengurangi kendaraan yang masuk ke jalur busway?

"tabah ya bang.."

"makasih mas.."



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

kenalan

Sabtu, 14 April 2012
gimana cara paling efektif untuk mengakrabkan diri? berkenalanlah, berinteraksilah sampai kita kenal dengan sesuatu yang hendak kita akrabkan itu. sejauh mana kita bisa bilang kalo kita udah 'kenal' dengan sesuatu itu?

---

sebelom pertanyaan itu kejawab, tiba2 gw inget kejadian pas gw lagi ngeliatin seorang anak arsitek bikin maket untuk tugasnya. dia bilang saat itu gw bisa bantuin dia bikin existing, yaitu bangunan-bangunan yang ada di sekitar bangunan yang akan dia buat.

existing, exist, eksistensi, keberadaan.

kenapa bangunan di sekitar 'bangunan utama' disebut existing? gw coba simpulin bahwa eksistensi dari sesuatu diukur dari lingkungan tempat dia berada. atau bahasa lainnya: sesuatu dianggep ada kalo dia berada di sebuah lingkungan tertentu. sesuatu itu ngga bisa 'ada' tanpa keberadaan yang lainnya.

sampe sini muncul pertanyaan lain: gimana posisi si sesuatu itu terhadap lingkungannya? ngomongin posisi berarti nunjukin adanya 'pembatas' antara sesuatu itu dengan yang lainnya. kalo ngga ada pembatas berarti si sesuatu itu berada dalam satu bentuk dengan yang lainnya dan berarti mereka adalah satu bangun. berarti ga ada eksistensi. berarti ada sebuah (atau lebih) pembatas antara sesuatu yang membedakan dia dengan yang lainnya.

pembatas yang membedakan. berarti sejauh ini bisa kita simpulin bahwa eksistensi dari sesuatu bisa diukur dengan membedakan dirinya dari yang lain.

---

balik ke definisi 'kenal'.
mengenal orang berarti mengetahui eksistensi dirinya. kalo digabungin sama istilah eksistensi tadi, bisa kita simpulin: mengenal orang berarti membedakan si orang tersebut dengan yang lainnya. tiap orang punya ciri masing-masing, baik ciri fisik maupun nonfisik. keberadaan ciri itulah yang jadi karakter seseorang dan karakter inilah yang jadi keunikan tiap orang.

jadi sejauh mana kita bisa bilang kalo kita udah 'kenal' dengan sesuatu? kita 'kenal' saat kita tau karakter sesuatu itu. jadi gimana cara paling efektif untuk mengenal sesuatu? gali lah karakter dari diri tiap orang. karena tiap orang lahir sendiri dan akan mati sendiri, berarti tiap orang punya jiwanya sendiri, tiap orang punya cirinya sendiri, tiap orang punya karakternya sendiri.

karakter ini akan muncul di tiap tingkah laku orang tersebut. dan kita tau bahwa tingkah laku adalah buah dari hasil pemikiran dan/atau insting orang tersebut. pemikiran dan/atau insting orang akan keliatan dari pilihan-pilihan yang dia ambil.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

wondering garbage man

barusan ngeliat foto jepretan temen gw yang nampilin seorang pemulung, masih muda, duduk di sebuah tembok pendek di sebelah kiri kakinya ada plastik trashbag, di belakangnya ada beberapa anak muda yang entah lagi ngobrol atau lagi maen catur. yang keliatan di foto ini si pemulung muda lagi nunduk.

menurut gw yang awam fotografi sih foto ini enak diliatnya, bagian yang difokusin dan di-blur-innya pas, sudut pengambilan gambarnya juga enak diliat. gw makin tertarik lagi setelah ngeliat keterangan yang ditulis temen gw di bawah foto itu

"...When i walked pass him, i saw him reading a brochure consist of houses."

entah apa yang ada di pikiran sang pemulung muda itu. mungkin sekedar liat-liat dan mengagumi gambar-gambar rumah itu, atau tebakan temen gw dia bertanya-tanya dalam pikirannya "gimana cara gw bisa ndapetin ini?", atau mungkin juga dia lagi ngebandingin bentuk warna dan ukuran ruangan-ruangan rumah dalam brosur itu dengan tempat tinggalnya saat ini. mungkin lagi dia lagi bertanya-tanya sampah seperti apa yang bisa dia dapetin di sekitar rumah itu.

atau bisa juga dia mbayangin dirinya ada di ruangan-ruangan di rumah itu, menikmati suasana yang bisa tercipta di sana, dan diakhiri dengan sebuah harapan dan keinginan yang kuat untuk memiliki rumah itu (atau rumah seperti itu) suatu saat nanti.

hari ini hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari 'kan tetap menyala
di sini, di urat darahku

- mentari, iwan abdurrahman -

semoga pemulung muda itu mikir seperti kemungkinan yang terakhir gw tulis di atas. semoga harapan itu tetap ada, dan semoga keinginan itu terus terpahat di dalam pikirannya.

sejauh ini gw percaya bahwa keberhasilan seseorang ditentuin dari seberapa kuat keinginannya (atau mimpinya) akan hal tersebut. mungkin (blom pernah gw bahas lebih jauh) mimpi itu yang akhirnya tanpa disadari akan mengatur cara berpikir orang itu, dan kemudian cara berpikir itu akan membangkitkan minat dan rasa ingin tau sehingga akhirnya orang itu akan menjalani proses pencarian ke arah mimpinya itu dan yang menurut gw lebih penting: dia akan menikmati tiap proses itu biarpun rintangan (atau tantangan?) pasti akan dia temui sewaktu-waktu pada saatnya.



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

ga jelas

Sabtu, 05 November 2011

sebuah siklus umum, berawal dari teori kertas kosong (tabula rasa) -john locke. ketika lahir, manusia digambarkan seperti kertas kosong, dan secara naluri untuk 'mengisi' kertas kosong itu dengan berbagai pengetahuan.

ketika kita datang ke sebuah tempat baru, anggeplah di sebuah tempat yang jauh dari tempat asal kita, apa yang pertama kali harus dilakukan?

menurut gw:
1. mengenal bahasa.
2. mengolah logika kita terhadap bahasa itu
3. mengenal lingkungan (budaya, sosial, dll)
4. baru kemudian mengimplementasikan logika kita ke dalam bahasa yang dikenal, disesuaikan dengan lingkungannya.

kenapa gw anggep ini siklus umum? karena ternyata yang gw liat, belajar programming pun siklusnya sama kaya gitu juga. misalnya belajar bahasa pemrograman java:

1. mengenal bahasa -> dimulai dengan mengetahui (dan membiasakan diri) dengan variabel, keyword, operator, dll

2. mengolah logika -> menggunakan variabel, operator dan lainnya tadi untuk membuat sesuatu, dimulai dari yang sederhana hingga makin lama makin kompleks

3. mengenal lingkungan -> makin kompleksnya kebutuhan logika tadi, 'menuntut' programmer untuk menggunakan IDE (integrated development environment) atau library/framework tambahan.
IDE ada banyak, misalnya eclipse, jdeveloper, netbeans, intellijIdea dan lainnya. masing2 punya keunggulan dan kelemahannya sendiri2.
framework pun ada banyak: misalnya framework untuk membuat tampilan ada tapestry, jsf, zk, dll. framework untuk koneksi database atau untuk controller pun ada banyak variannya.
itu semua baru yang berhubungan langsung dengan pemrogramannya. banyak kondisi yang mengharuskan programmer membuat konfigurasi tertentu dan ini berhubungan dengan operating system yang digunakan, berarti ada baiknya programmer juga menguasai berbagai operating system.
kesemuanya ini adalah bagian dari environment yang harus dikuasai untuk developing.

4. mengimplementasikan -> setelah mengenal lingkungan 'teknis' seperti di poin 3, berikutnya baru lah penerapan sebenarnya dari pemrograman. mendevelop sesuatu, bisa jadi untuk keperluan proyek (pekerjaan) atau pun untuk keperluan studi, atau yang lainnya.

dalam keberjalanannya, poin 3 dan 4 sering kali berjalan beriringan. saat implementasi, ada kalanya kita baru sadar kalo ternyata kita butuh wawasan tentang environment tertentu, dan sambil jalan kita  juga sambil mempelajari environment itu. contoh: kita biasa develop di komputer sendiri dengan operating system windows. tapi dalam keberjalanan proyek, digunakan server yang menggunakan operating system linux. ya mau ga mau dikit2 mesti ngerti linux juga. kalo ga ngerti? mau ga mau mesti belajar juga deh :D (apess..)

life is not only about logics. its also the environment.

jadi inget jenjang kaderisasi di himpunan dulu, ada 4:
1. doktrinasi
2. sosialiasi
3. aktualisasi
4. kontemplasi

kalo dicocok2in, siklus umum yang tadi dijabarin di atas sesuai dengan penjenjangan ini dari poin 1 sampai 3.
-doktrinasi kira2 bisa disejajarkan dengan pengenalan bahasa
-sosialiasi kira2 sejajar dengan mengolah logika dan mengenal lingkungan
-aktualisasi kita2 sejajar dengan implementasi logika (dan bahasa) dalam lingkungan

lalu dimana posisi kontemplasi?

penjabaran tadi kan menggambarkan proses belajar (dan beraktualisasi) secara pribadi. dialami tiap individu. tapi dari sudut pandang organisasi, sebutlah keluarga, temen bergaul, sekolah, kampus atau perusahaan, semuanya memiliki proses regenerasi.

dalam konteks regenerasi inilah kontemplasi dimasukkan. dari bahasa yang 'cuma gitu2 aja' bisa melahirkan logika yang sangat luas, tergantung karakter dan sudut pandang tiap pribadi yang menggunakannya. dan dalam konteks organisasi, perlu ada standar, berarti perlu ada penjaga standar.

life is not only about logics and/or environment. its also the regeneration.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

masalah untuk mengurangi masalah

Sabtu, 08 Oktober 2011
bayangin kita duduk di sebuah teras, di posisi yang agak lebih tinggi dari aktivitas keseharian, di tengah kota. kita liat kemacetan, kita liat pelanggaran-pelanggaran "kecil" seputar lalu lintas, kita liat trotoar berubah fungsi jadi tempat jualan atau tempat melintasnya motor yang mau ngehindarin macet, bukan lagi tempat yang nyaman bagi pejalan kaki.

dalam hati mungkin kita akan berkata "untunglah gw ga ada di jalan raya yang semrawut itu..", lalu mulai membayangkan asiknya duduk mengamati kesibukan (atau kesemrawutan?) sambil minum segelas kopi panas sambil ngerokok.

lalu kita alihkan pandangan ke lingkungan yang lebih dekat dengan posisi duduk kita. bayangin ada biji kopi yang baru aja disangrai, belom digiling jadi bubuk. bayangin juga seandainya ada sebuah alat, bentuknya kotak, kalo kita masukin biji kopi tadi, ga lama kemudian segelas kopi panas dengan aroma yang menggugah selera telah tiba secara otomatis di samping kita.

trus kita mulai mbayangin lagi, seandainya alat seperti itu emang ada, gimana cara kerjanya?

pasti ada sistem penghancur biji kopi, pasti ada sistem pemanas air, pasti ada sistem penuang bubuk kopi, pasti ada sensor untuk menentukan volume bubuk kopi yang harus dituang (berdasarkan volume gelas dan perbandingan takaran), pasti ada sistem penuang air dan penentu volume air yang mesti dituang (berdasarkan volume gelas dan perbandingan takaran), pasti ada sistem pengaduk, dan terakhir pasti ada sistem 'pengantar' gelas dari alat tersebut sampai lokasi tertentu di samping kita. dan masih banyak lagi masalah yang bisa diajukan terkait dengan alat itu, mengembangkan lagi dari masalah-masalah yang disebutin sedikit di atas.

ada sangat banyak masalah yang harus dipecahkan sebelum hidup kita sedikit lebih nyaman, menyempurnakan hidup.

apa yang menyempurnakan hidup? kenyamanan yang sempurna atau kegiatan yang kita lakukan untuk menyempurnakan kenyamanan itu sendiri? entah, terserah gimana masing-masing orang mempersepsikannya. bisa jadi salah satunya, bisa jadi keduanya.

kenyamanan yang sempurna. kalo kita artikan 'nyaman' sebagai kondisi dimana tidak ada (atau ada tapi sedikit) masalah, berarti untuk mendekati kenyamanan itu kita mesti mengurangi jumlah masalah.

kita balik lagi ke hal-hal yang tadi kita bayangin, ada kondisi lalu lintas, ada alat pembuat kopi, dan mungkin ada yang mbayangin hal-hal lain, ada banyak sekali masalah di sekitar kita. mulai dari masalah aktual (seperti contoh lalu lintas) sampai masalah ideal (berawal dan/atau berada di tataran ide).

dan dengan asumsi bahwa semua hal yang menjadi perhatian kita bermula dari persepsi tertentu kita akan sesuatu itu (semua hal punya potensi untuk jadi masalah, semua hal punya potensi untuk jadi peluang, semua hal punya potensi untuk membuat senang, semua hal punya potensi untuk membuat sedih, dan seterusnya), maka untuk mengurangi jumlah masalah yang mesti kita lakukan adalah berfokus pada satu hal/masalah/bidang/apapun.

dalam contoh kasus alat pembuat kopi otomatis tadi, keseluruhan sistem kerja terbagi jadi 7 subsistem. tiap subsistem memiliki masalah-masalahnya masing-masing. bayangin kalo 1 orang mau ngerjain semua itu sendiri. kebanyakan masalah tuh orang ntar, ksian..

pembagian sistem ke dalam subsistem itu sendiri udah merupakan upaya pengurangan masalah. berikutnya, mending dibagi-bagi aja masalah itu ke beberapa orang. misalnya 1 subsistem dibebanin ke 1 orang. bukan ga mungkin nantinya tiap subsistem ini akan terbagi jadi beberapa subsistem lagi. tergantung tingkat kesulitannya.

untuk ngehemat waktu, enaknya sih tiap subsistem itu dikerjain paralel. berarti yang perlu dilakukan berikutnya adalah bikin interface untuk komunikasi antar subsistem itu. misalnya interface antara sistem penghancur biji dengan sistem penuang bubuk kopi.

di sini orang yang ngerjain sistem penuang mesti ngasih tau kebutuhannya untuk memulai sistemnya. misalnya: dia butuh tau kopi udah jadi bubuk atau belum dan berapa volumenya. sepakatin dulu, kalo kopi udah jadi bubuk, sistem penghancur akan ngelempar variabel String bernilai "OK", dan akan ngelempar variabel double bernilai volume bubuk kopi.

baru deh sekarang orang yang ngerjain bubuk kopi bisa kerja, acuannya: dia mesti ngehasilin output String "OK" dan double volume bubuk kopi. dan orang yang ngerjain sistem penuang mengacu sama begitu ada variabel String "OK" nyampe ke sistemnya, dia akan ngecek berapa jumlah volume bubuk kopi, ngecek berapa volume gelas, dan ngaktifin sistem penuangnya.

jika kita adalah orang yang ngerjain sistem penghancur, kita ga usah mikirin sistem2 lainnya. yang penting kan udah jelas apa outputnya yang perlu kita hasilin. selanjutnya mungkin kita bisa mulai dengan 1. sensor (atau 'listener') utk ngecek apa ada biji tertuang, 2. proses penggilingan, 3. pengukuran volume, 4. media untuk melempar pesan ke interface.

gitu tuh, ternyata di dalam (sub)sistem penghancur, masih beranak lagi jadi 4 (sub)subsistem. mau bagi2 tugas lagi? atau mau dikerjain sendiri? terserah. yang pasti, utk mulai ngerjain kita perlu nyiapin interface lagi antar (sub)subsistem. 4 subsistem berarti 4 masalah. mau ngurangin masalah? kita pilih aja satu subsistem, sisanya dibagi-bagi ke orang lain.

misalnya kita pilih proses penggilingan. berarti kita mesti nunggu pesen yang masuk dari sistem listener, sepakatin dulu apa kode yang akan dilempar sama sistem listener, misalnya String "lanjut!". nah sekarang proses penggilingan akan digenerate sama sistem yang nerima kode String "lanjut!". program akan mengatur tegangan mana yang diaktifkan untuk njalanin mesin penggiling. kemudian bubuk kopi yang udah tergiling akan 'dijatuhkan' di sebuah wadah di bawah mesinnya.

lalu mungkin kita bisa nari sebuah timbangan digital di bawah wadah itu dan menyambungkannya dengan interface pengukuran volume. jika berat wadah > 0 maka sebuah kode akan terkirim ke interface dan interface itu akan ngelanjutin ke sistem pengukuran volumenya. tapi tenang, ini bukan masalah kita. ini masalahnya orang yang ngerjain pengukuran volume. dan seterusnya..

setelah semua orang selesai dengan kerjaannya masing-masing. tinggal dites deh hasilnya. masukin biji kopi ke alat dan lihat apa yang terjadi selanjutnya, pasti bisa dilacak di sistem mana terletak kesalahannya (kalau ada). dan biarkan orang itu bertanggung jawab sama kerjaannya (kalo orangnya udah ga ada, sepakatin aja siapa yg mesti beresin itu)..

jadi sejauh ini apa yang bisa disimpulin?
menurut gw,
1. secara manusiawi tiap orang akan bergerak menuju kenyamanannya masing-masing dengan membatasi lingkup perhatian dan pekerjaan sesuai minatnya (mengurangi scope masalah yang dihadapi). dan pada akhirnya kegiatan ini akan menghasilkan spesifikasi (atau keahlian spesifik) dari orang itu.

2. dengan simpulan 1, kita mesti siap dengan pertanyaan: "lu orang atau bukan? kalo lu orang, apa spesifikasi lu?". dan mungkin hal ini udah jadi trend di masa sekarang, dimana tiap orang akan menangani masalah tertentu yang spesifik di dalam sebuah keseluruhan sistem besar. istilah kerennya: outsourcing.

3. dari simpulan 2, ngeliat maraknya outsourcing sekarang ini, interfacing bisa dilihat sebagai satu titik vital dari semua sistem. bermain di zona interface berarti menggunakan sudut pandang bahwa keseluruhan sistem terbagi jadi beberapa subsistem yang saling berkomunikasi satu sama lain.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

bbm dan transportasi umum

Kamis, 30 Juni 2011
pacung, 29 juni 2011

tadi pas makan ga sengaja liat berita, tentang stok premium dan solar yang habis di beberapa tempat. terkait juga soal bensin premium yang ditujukan untuk orang2 ga mampu.

kenapa stok habis? karena permintaan lebih tinggi dari stok yang ada.
kenapa stok kurang banyak? mungkin karena mahal, ini jadi nyambung juga sama
kenapa subsidi dikurangi? yaitu karena harga terlalu tinggi dan pemerintah ga bisa ngesubsidi semuanya. sesuai hukum ekonomi, kalo permintaan banyak maka harganya akan naik.

misalnya gw punya duit bulanan 2,5 juta: trus gw nyicil motor baru per bulan 500ribu, 2 juta sisanya untuk makan sekeluarga dan sekolah anak. itu kan pas2an banget (mungkin malah kurang). ga akan mampu ngebayar keperluan2 lain. apa perlu pake bbm tanpa subsidi?

mungkin jawabannya: ya kalo pas2an gitu dan ga sanggup beli pertamaks mending ga usah beli motor karena itu konsekuensinya kalo beli motor baru.

dan mungkin akan dibales: gw butuh transport dan gw bisa penuhin kebutuhan transport itu dengan nyicil motor (toh DP-nya murah), tapi karena gaji gw pas2an banget maka gw bisanya beli premium.

jadi kalo premium ditujukan untuk orang2 ga mampu. apa parameter 'mampu' dan 'ga mampu'?

gw pikir berkutat di terminologi 'mampu' atau 'ga mampu' tuh ga nyentuh akar masalah sebenernya. itu cuma rembetan masalah yang kalo dibahas terus2an justru akan mempertajam masalah kesenjangan sosial.
gw berasumsi seperti di awal tadi, yaitu stok kurang dan subsidi dikurangi (karena terlalu mahal untuk stok uang negara) dipicu dari permintaan yang terlalu banyak.

untuk apa aja permintaan2 itu? jelas, industri. berikutnya karena pertumbuhan jumlah kendaraan motor yang melesat. ada kategori untuk industri kecil, menengah, besar. seharusnya ga ada masalah dengan pemberian kebijakan penggunaan bbm bagi ketiga kategori industri itu. yang jelas nyerempet orang banyak (dan sensitifitas status sosial) adalah masalah kendaraan bermotor.

jika permintaan bbm dari penggunaan kendaraan bermotor demikian tinggi, kenapa solusinya bukan dengan pembatasan penjualan kendaraan bermotor? kemacetan juga dipicu dari masalah ini. dengan membatasi penjualan kendaraan bermotor, permintaan bbm bisa ditahan untuk ga bertambah banyak lagi dan kemacetan bisa ditahan untuk ga nambah parah.

melesatnya penjualan kendaraan bermotor (khususnya motor) dipicu sama murahnya uang muka. apa ga bisa ada kebijakan yang ngatur besar uang muka untuk perusahaan2 penjual kendaraan bermotor?

setelah kendaraan bermotor mulai menurun peningkatan jumlahnya (bukan 'jumlah'nya, tapi 'peningkatan jumlah'nya), harusnya para pemangku kebijakan bisa bernafas sedikit lebih lega dan mulai ngurusin transportasi umum yang baik dan layak.

baik dan layak harus terkait dengan jumlahnya yang mencukupi kebutuhan para penggunanya (biar ga perlu maksa desak2an di dalemnya) dan rute yang menyelimuti semua titik (mungkin bisa diitung dari tempat mana pun selalu ada titik - mungkin halte atau stasiun - dalam radius paling jauh misalnya 500meter).

dengan demikian daripada capek nyetir sendiri ngelewatin macet dan ngeluarin duit utk beli bensin, orang2 akan mikir bahwa lebih enak naik kendaraan umum yang nyaman (sesuai kapasitas normal) dan tersedia dimana aja ga usah jauh2 nyari atau nunggu.

akhirnya jumlah permintaan bbm akan berkurang, subsidi bisa difokuskan untuk kendaraan umum - karena mayoritas orang akan menggunakan kendaraan umum - dan biar kendaraan pribadi menanggung bbm tanpa subsidi. dan kemacetan pun akan berkurang.

jadi bapak2 ibu2 yang (katanya) cukup bijak untuk bikin kebijakan dan sering nongol di tipi, ga usah permasalahin soal 'mampu' 'ga mampu', tapi beresin lah akar masalahnya: tutup kemungkinan adanya penambahan kendaraan bermotor (dengan pembatasan uang muka) dan perbaiki jumlah, kelayakan, cakupan (trayek) transportasi umum.

ini sekedar request dari seorang warga negara yang taat bayar pajak dan awam soal kebijakan2 dan beberapa saat lalu sering sumpek2an di kendaraan umum di tengah kemacetan karena terlalu banyak kendaraan dibanding luas jalan dan sekarang (setelah jauh dari ibukota (baik ibukota negara maupun ibukota propinsi)) bahkan susah untuk nyari kendaraan umum.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

kutu loncat

pacung, 29 juni 2011

sering-sering lah keramas. lama ga keramas, rambut jadi keras, kutu pun berkembang bebas. dan ternyata serunya lagi, kutu pun bebas loncat kesana kemari termasuk ke sarung bantal dan ini yang nyusahin. biarpun udah keramas sering2, kalo di sarung bantal udah sampe ada kutunya, tetep aja si kutu akan loncat2 ke rambut dan bikin gatel lagi.

tapi tenang aja, bagi kalian yang jarang keramas, posting ini tidak akan cerita tentang kesengsaraan kalian garuk2 kepala. itu urusan masing2.

gw inget waktu di kampus. tentang tingginya wacana tentang betapa buruknya 'kutu loncat'. istilah bagi mereka-mereka yang sering pindah-pindah tempat kerja. dikisahkan tentang rendahnya loyalitas mereka, betapa oportunis mereka karena selalu nyari tempat-tempat baru yang lebih menguntungkan.

hmm..
manusia dan kutu..
kenapa ya istilah 'kutu' yang dipake untuk manusia-manusia pekerja yang 'nomaden' itu?

apakah istilah 'kutu loncat' juga bisa dipake untuk manusia purba yang hidup berpindah-pindah tempat? mereka pemburu, ketika mereka bermigrasi ke suatu tempat, pasti mereka nyari hewan buruan untuk dimakan. ketika jumlah hewan buruan mulai menipis (atau mungkin habis) mereka pindah ke tempat baru yang masih banyak 'stok' hewan buruan. setelah kenal pertanian baru deh mereka menetap dan bertani.

pasti ada suatu alesan kenapa analogi 'kutu' yang digunakan. coba kita liat kelakuan kutu.

kutu adalah parasit. dia cuma ngambil dan ngambil aja, dia ga ngasih keuntungan apa pun untuk kepala dan/atau sarung bantal yang dia tinggalin. dia kerja, nyari makan untuk dirinya sendiri. dan dari sudut pandang yang dihinggapinya, ada gangguan dalam bentuk gatal atau rambut rontok.

apakah pekerja di sebuah perusahaan juga begitu? mungkin. bisa aja. tergantung apakah dia cuma sekedar nyari gaji dan/atau ilmu tanpa ngasih keuntungan apa-apa untuk perusahaannya, atau malah kehadirannya malah ngerugiin perusahaan. itu balik lagi ke personalitinya. tiap orang punya alesan-alesan yang berbeda tentang perpindahannya. sehingga pastinya ga bisa digeneralisir bahwa mereka semua bisa dianalogiin sebagai 'kutu loncat'.

---

dengan asumsi bahwa tiap perusahaan pasti punya standar tertentu dalam pemberian tanggungjawab pada pekerjanya.

gimana dengan pekerja yang fokus pada peningkatan karirnya (sejalan dengan peningkatan gajinya) yang juga berarti peningkatan tanggungjawab di perusahaannya? maka berarti tujuan peningkatan karir (dan gaji) juga sejalan dengan baktinya (tanggungjawabnya) terhadap perusahaannya. dia pasti dianggap menguntungkan perusahaannya.

pada kasus kaya gitu, loyalitas akan otomatis terbentuk selama pemberian hak dan kewajibannya seimbang dan/atau visi si pekerja sejalan dengan visi perusahaannya. konteks loyalitas yang digunakan adalah ikatan profesionalisme (sesuai tuntutan di dunia kerja/profesi). yang akhirnya akan menerima tanggungjawab(jabatan/gaji) lebih tinggi adalah pekerja yang memiliki inisiatif lebih baik dari yang lain.

di contoh kasus itu, si pekerja akan pergi dari perusahaannya jika ternyata perusahaan menuntutnya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme/visinya atau jika si pekerja merasa hak yang diterimanya tidak sesuai dengan kewajiban yang diembannya terhadap perusahaan. hak bisa termasuk gaji/fasilitas, dan juga ilmu.

-

contoh kasus lain, seorang pekerja njalanin tugasnya tanpa inisiatif. tapi dia nyelesein kerjaannya sesuai request. tepat waktu, mungkin agak ngaret2 dikit, tapi selesai sesuai kehendak sistem, artinya kerjaannya beres, ga langsung fix tapi mungkin setelah beberapa perbaikan yang telah diuji oleh testernya. ga di atas standar, tapi ga di bawah standar, pas2an lah. dia kerja lumayan lama di perusahaan itu, tanpa kenaikan gaji (pasti ada lah bonus2 mah).

dia menuntut kenaikan gaji mengingat bahwa dia telah ada di sana sekian lama. untuk kasus ini, yang bisa jadi masalah adalah visi masing2. visi pekerja - bahwa kenaikan gaji harus dihitung dari durasi dia bekerja, tidak harus diikuti dengan kenaikan tanggungjawab. dan visi perusahaan, bisa jadi sesuai dengan visi pekerja tadi, atau bisa juga beda yaitu kenaikan gaji harus disesuaikan dengan kenaikan tanggungjawabnya untuk perusahaan itu.

kemungkinan orang itu akan pindah adalah karena perbedaan visi itu, setelah melewati negosiasi.

-

contoh kasus lain lagi, seorang pekerja yang kerjaannya harus dikejar-kejar terus sama pimpinannya karena dia terlalu lambat untuk perusahaan itu. bisa jadi karena pekerjanya emang lambat atau perusahaannya yang terlalu cepat, kembali lagi ini masalah standar yang dimiliki sama perusahaan itu. maka yang bisa jadi masalah adalah masalah kecocokan cara kerja, jika pekerja ingin bertahan di sana maka dia harus mempercepat cara kerjanya, atau perusahaan memang berhak memberhentikannya, sesuai etika profesional.

kemungkinan perpindahan si pekerja itu adalah karena dia mengundurkan diri untuk pindah ke perusahaan lain yang sesuai dengan gaya kerjanya.

atau kemungkinan lainnya adalah perusahaan memecatnya karena kecepatan kerjanya justru menimbulkan kekacauan pada sistem yang dimilikinya.

---

pada kemungkinan yang terakhir disebutin atas, baru deh analogi 'kutu' rasanya cocok untuk diterapkan:
1. kutu ga bermaksud dengan sengaja untuk ngerugiin manusia yang dihinggapinya, sama dengan si pekerja tadi yang ga bermaksud dengan sengaja untuk menghambat sistem kerja perusahaan.
2. kutu ga sadar bahwa dia ngeganggu dan dia ga ngerasa perlu pergi walaupun udah bikin gatel kepala manusia, sama dengan si pekerja tadi yang ga ngerasa perlu ngundurin diri walaupun udah ngehambat sistem kerja perusahaan.
3. akhirnya kutu diusir dari kepala dengan cara dikeramas, sama dengan si pekerja tadi yang diusir dari perusahaan dengan cara dipecat.

sampe sini bisa disimpulin bahwa pada kenyataannya, tiap perusahaan pasti ngambil keuntungan dari pekerjanya. dan pasti tiap pekerjanya juga ngambil keuntungan dari perusahaannya. jenis simbiosis ini kan termasuk mutualisme, jadi keliatannya analogi 'kutu' yang parasit ga bisa digeneralisir untuk sesuai dengan semua konteks pekerja yang berpindah-pindah tempat. analogi ini akan cocok untuk digunakan bagi pekerja yang berpindah-pindah karena dipecat dari tempatnya bekerja.

gimana pun juga
mau jadi seorang idealis yang berpindah tempat,
mau jadi seorang visioner yang berpindah tempat,
mau jadi seorang sadar lingkungan yang berpindah tempat,
mau jadi kutu yang berpindah tempat,
atau ga mau pindah pindah,
semuanya adalah pilihan.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

ramahnya bali

Senin, 13 Juni 2011

pacung, 12 juni 2011

hari ketiga di bali. dari semua yang telah saya temui selama 3 hari di sini, yang paling menonjol menurut saya adalah betapa ramahnya manusia bali. mereka senang bercerita dan bercanda. mungkin karena saya tinggal di daerah pedesaan, dimana ga banyak orang asing yang tinggal dan menetap, memungkinkan masyarakat di sini untuk saling mengenal satu sama lain.

di setiap saya ketemu orang, hampir selalu saya ditanya nama dan asal usul. kadang diawali dengan obrolan2 ringan, kadang juga itu lah kalimat pertama yang ditanyakan.

mulai dari lingkungan baru di kantor (ya pasti lah!), pemilik tempat makan di samping kantor dan samping kos, bapak-bapak (saya udah lupa namanya :D) yang kemarin pagi berdiri di depan laundry, sampe ke supir angkutan umum singaraja-denpasar. semuanya nanya nama dan asal-usul dan dilanjutkan dengan cerita tentang pengalaman mereka.

dan yang baik lagi, mereka maklum dengan ketidaktahuan saya tentang adat mereka. dengan sabarnya mereka berusaha njawab tiap pertanyaan saya seputar upacara2, pemakaman, pura dan adat istiadat lain di bali.

---

yang cukup seru obrolan bareng supir angkutan umum (maaf pak, saya udah lupa nama bapak, banyak banget nama baru yang muncul di 3 hari ini). tentang seringnya terjadi perseteruan antar warga di bali. umumnya bukan perebutan kepemilikan lahan atau perebutan sumber air. tapi tentang kuburan. tiap desa punya daerah kuburannya sendiri. minimal ada 1 di tiap desa.

ada kejadian, seorang bali di suatu desa pergi merantau, dan dia ga pernah pulang. mungkin pernah tapi jarang banget. padahal menurut kebiasaan di sini, tiap orang yang pergi, baiknya sesekali kembali ke desanya, sekedar bertemu dan berbagi (dalam bentuk apa pun) dengan masyarakat desanya. kemudian tiba lah saatnya orang tersebut mengakhiri hidupnya.

keluarganya membawa jenazahnya ke desanya untuk dikuburkan. tetapi masyarakat desa lainnya melarang jenazahnya untuk dikuburkan di sana dengan alasan dia tidak mengikuti tradisi. sebagian beranggapan ini bagian dari karma, sehingga dia tidak layak untuk dimakamkan di tempat itu. dan keluarganya lah yang akhirnya menanggung karmanya, keluarganya yang berusaha memenuhi tradisinya (dengan menguburkan anggota keluarga mereka di desa itu) dan bertentangan dengan penolakan masyarakat lainnya. kasus seperti ini akhirnya diserahkan kepada pemuka agama. hasilnya bisa berbeda2, ada yang tetap tidak diijinkan, ada juga yang akhirnya diijinkan.

sampe sini mungkin ada pembaca yang bingung, emang di bali pake kuburan? bukannya menurut adat bali biasanya mayat dikremasi?

ternyata, dalam konteks ini, yang dimaksud kuburan adalah tempat dilakukannya kremasi. wilayah kuburan bisa jadi hanya berukuran 2x2 meter (untuk satu desa). yah, karena emang ga butuh tempat banyak-banyak, selama bisa mencukupi ruang untuk dilaksanakannya upacara kremasi.

yang unik lagi di sini, di tiap kuburan biasanya ada pohon beringin. bukan kuburan yang ditempatkan di dekat pohon beringin. justru sebaliknya, pohon beringin tiba2 tumbuh di wilayah kuburan, tanpa ditanam dengan sengaja.

konteks kremasi dan kuburan sebagai tempat dilakukannya kremasi ternyata hanya salah satu (bukan satu2nya) cara pelepasan jiwa orang mati. untuk daerah di sekitar pura, dilarang ada pembakaran mayat untuk menghindari masuknya abu hasil pembakaran ke dalam pura. menurut sang supir, jika di desa itu ada pura, maka pembakaran akan dilakukan jauh dari pura. tapi ada juga masyarakat bali yang tidak melakukan kremasi: ada yang dengan penguburan, ada juga yang ditinggal begitu saja di dalam goa (seperti di trunyan).

---

contoh satu keramahan lagi dari orang bali, kadang angkutan umum ga mbawa penumpang dari terminal sampai terminal. kalo penumpangnya sedikit, mereka lebih suka berhenti dan ngetem atau balik ke terminal asal, dan mengoperkan penumpangnya ke angkutan lain. ini mungkin hal biasa.

yang menurut saya ga biasa adalah, si supir merasa bertanggungjawab sampai penumpangnya berhasil mendapatkan angkutan untuk melanjutkan perjalanannya. dia akan nyariin angkutan, kadang meminta ijin dulu sama penumpangnya untuk keluar dari mobil dan nyariin mobil yang bisa ditumpangi, dan sang penumpang diminta untuk menunggu sebentar, boleh tetap di dalam mobil. setelah dapat angkutan lain, si supir ngasih tau penumpang tadi mobil apa yang harus dinaiki setelahnya.

begitu juga waktu saya mau pulang, di terminal ubung (utaranya denpasar), begitu sampe sana langsung disamperin sama kenek2 angkutan. "kemana mas? surabaya? gianyar? gilimanuk?". saya jawab singkat "baturiti." niat awalnya biar dia sekedar pergi dan ga usah nawar2in lagi. ternyata dia langsung teriak ke kerumunan orang di sekitar sana "ada yang baturiti ga?" trus kerumunan orang itu teriak lagi ke arah kerumunan lain "oi baturiti nih", dan setelahnya seorang bapak2 datang. si kenek yang tadi nyamperin saya langsung bilang ke saya, "ini supirnya yang ke baturiti, ikut dia aja".

selama teriak2an antar kerumunan itu berlangsung, dia terus ada di samping saya, dan setelah 'prosesi serah terima' tersebut, dia baru pergi kembali ke kerumunannya.

sebenernya mungkin bisa menyenangkan berangkutan umum di bali. tapi sayangnya ga semua tempat dilalui angkutan umum. terutama di dalam kota, hampir ga ada angkutan umum. penyewaan motor juga banyaknya di tempat wisata (tadinya saya kira ada dimana2 termasuk di desa pacung (baturiti) atau ada lah di sekitar terminal ubung (terminalnya denpasar)). jadi mau ga mau mesti jalan kaki atau naik ojek atau nyicil motor.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

antusiasme dan manajemen data

Sabtu, 18 Desember 2010
waktu yang tepat untuk rehat sebentar. orang-orang udah pada tidur. enak, sepi.

jadi di sini lah gw berada sekarang, di sebuah rumah kontrakan dengan 1 rumah utama dan 10 kamar. ngumpul bareng beberapa temen dengan ide dan cita-cita yang sama, nyoba ngembangin diri dalam sebuah grup, masih nyoba menghidupi diri dengan proyek lepas. dengan fasilitas seadanya, dengan kemampuan semampunya, dengan cita-cita dan kemauan belajar sebesar-besarnya. tercatat 12 orang udah bergabung, 2 kamar dan 1 rumah utama (kebagi jadi 4 bagian) udah terkontrak.

jadi di sini gw belajar jalan ke suatu tujuan tertentu, pada jarak tertentu dari tempat awal, nyoba membaginya dalam beberapa tahapan, yang kemudian dibagi lagi dalam satuan-satuan langkah kecil. tiap kesalahan atau keambiguan di suatu langkah bisa mengakibatkan kesalahan atau keambiguan pada langkah berikutnya. di sini juga gw belajar tentang memberi perintah, menjalankan perintah dan menampilkan hasil perintah. bahwa ternyata memberi, menjalankan dan menampilkan hasil perintah masing-masing punya tingkat kesulitannya sendiri-sendiri.

berulang-ulang terlintas di pikiran, bahwa dunia ini diciptakan bagi orang-orang yang memiliki antusiasme terhadap hal tertentu. antusiasme berawal dari minat. minat bisa berawal dari tuntutan atau dari keingintahuan. minat menghasilkan kemauan untuk belajar. kemauan untuk belajar menghasilkan kegiatan. kegiatan menghasilkan keahlian. dan dengan keahlian kita bisa mengambil peran.

ngomong-ngomong soal peran: ada peran, ada fasilitas, dan tentunya ada tipe akses yang dimiliki tiap peran itu terhadap fasilitas yang ada. tidak semua fasilitas bisa diakses dengan cara yang sama oleh semua peran. terima aja, emang gitu adanya. sama seperti admin yang memiliki akses tak terbatas atas data-data di sebuah instansi, melebihi akses yang dimiliki sama pimpinan proyek, pemilik proyek, dan pekerja proyek.

---
jadi sejauh ini gw tuh mau nulis apa? entah, blom kepikiran.. yang penting kejar setoran dulu untuk ngisi archive bulan desember.
---

gara-gara barusan nulis data, baru inget lagi bahwa beberapa minggu terakhir ini pikiran gw dipenuhin sama gimana caranya ngatur data-data sedemikian rupa biar gampang diaturnya. mulai dari masukin data, ngehapus data, ngerevisi data dan ngatur keterkaitan antar data. orang-orang bilang semua kegiatan tadi bisa dimasukin jadi 1 variabel namanya database. keterkaitan antar data, perubahan satu data bisa ngakibatin perubahan dari banyak data lainnya.

misalnya sebuah perusahaan: punya data keuangan, data karyawan, data proyek. dalam data keuangan ada data tiap karyawan (dan gaji2nya), data tiap proyek (pengeluaran dan pemasukannya, waktu pelaksanaannya). dalam data karyawan ada data nama, alamat, gaji dan ada juga data proyek (tiap karyawan terlibat di proyek apa aja, peran masing2 di proyek itu apa aja, dll). semua saling terkait, gimana cara ngerumusin keterkaitannya? gimana cara ngebagi perumusan itu jadi langkah-langkah kecil? gimana cara nyampein langkah-langkah kecil itu dalam barisan perintah? gimana cara ngecek/ngukur ketepatan hasil tiap perintah? gitu deh.

---
jadi ngelantur kemana-mana deh, lanjut aja lah.
---

jadi inget sama keteraturan singapur. dengan sebuah kartu, kita bisa ngakses kereta MRT, bis dan minimarket 711. cara nggunainnya kira-kira mirip sama pulsa hp. si kartu itu dibeli dengan harga tertentu dan berisi nilai tertentu (sama kaya beli pulsa), penggunaannya:

pas masuk stasiun MRT kartu itu kita tempelin di sebuah mesin (yang nyatet lokasi stasiun dan nyatet jumlah pulsa di kartu) trus tinggal naik aja ke keretanya, pas turun dan keluar stasiun kita nempelin lagi kartunya (yang nyatet dan mbandingin lokasi stasiun berangkat dan lokasi stasiun pas turun - kalo ga keluar stasiun berarti dianggepnya ga ada perpindahan, pulsa ga berkurang).

penggunaan lain pas naik bis, begitu naik bis kita nempelin kartu itu di sebuah mesin yang nyatet lokasi kita naik, dan pas turun kita nempelin lagi ke mesin lain yang nyatet lokasi kita turun, pengurangan pulsa bergantung jarak antara naik dan turun). contoh di 711 gw ga sempet nyobain, ke minimarket gituan paling utk beli rokok, tapi rokoknya mahal banget (pulsa di kartu gw selalu ga pernah cukup utk beli rokok).

---

nah lho, kira-kira gimana tuh sistem manajemen data transportasinya? gw kebayangnya gini:

tiap kartu punya data jumlah_pulsa. tiap stasiun MRT punya data nomer_ID_stasiun, data jarak antar stasiun dan method pengurangan_jumlah_pulsa . tiap bis 'terhubung' sama halte. tiap halte punya data nomer_ID_halte dan tiap ada bis dia 'ngirim' data ID itu ke mesin yang ada di bis. tiap bis punya method pengurangan_jumlah_pulsa. bentuk keterhubungannya bisa jadi ada sistem komunikasi bis-halte, bisa juga ada tombol di dalem bis yang meng-generate nomer_ID_halte berdasarkan urutan di databasenya.

tiap kartu juga punya tabel_sementara yang isinya nomer_ID_naik dan nomer_ID_turun. masing-masing nomer ID itu sifatnya sementara (cuma bertahan dalam tiap pasang naik-turun) selebihnya data di 2 tabel itu dihapus lagi. tiap bis juga punya tabel_sementara yang gunanya untuk penyimpanan sementara nomer_ID_halte. selama bis berenti di halte, data itu kesimpen dan 'dioper' ke tabel_sementara di tiap kartu yang ditempelin.

karena ada 2 mesin di bis, berarti 1 mesin tugasnya masukin nomer_ID_halte ke tabel nomer_ID_naik di kartu, dan 1 mesin lagi tugasnya masukin nomer_ID_halte ke tabel nomer_ID_turun dan langsung masukin parameter jumlah_pulsa,  nomer_ID_naik dan nomer_ID_turun itu ke sebuah method pengurangan_jumlah_pulsa yang memproses (mengkalikan jarak dengan satuan pengurangan) dan me-return nilai pengurangan jumlah pulsa untuk nggantiin data jumlah_pulsa di kartu. berikutnya mesin ini juga ngehapus data nomer_ID_naik dan nomer_ID_turun di kartu.

kalo di MRT, prosesnya mirip2 gitu juga, mungkin bedanya: tiap ada kartu yang ditempelin, mesin akan ngoper nomer_ID_stasiun dengan syarat: 'kalo tabel nomer_ID_naik kosong maka nomer_ID_stasiun dimasukin ke tabel nomer_ID_naik, jika tabel nomer_ID_naik berisi nilai tertentu maka nomer_ID_stasiun dimasukin ke tabel nomer_ID_turun' dan langsung masukin 2 nilai itu dan nilai jumlah_pulsa sebagai parameter di method pengurangan_jumlah_pulsa yang me-return nilai ke kartu untuk menggantikan data jumlah_pulsa. berikutnya mesin ini juga ngehapus data nomer_ID_naik dan nomer_ID_turun di kartu.

untuk yang 711, mungkin mesin di kasirnya masukin nilai jumlah_harga_barang dan data jumlah_pulsa ke method pengurangan_jumlah_pulsa dan kemudian me-return nilai hasilnya untuk nggantiin nilai jumlah_pulsa sebelumnya.

kalo mau dipilah-pilah properti dan aktivitas di tiap objek:

objek: kartu.
atribut: jumlah_pulsa, nilai temporary nomer_ID_naik dan nilai temporary nomer_ID_turun.

objek: mesin di stasiun MRT.
atribut: nomer_ID_stasiun.
method: pengurangan_jumlah_pulsa(jumlah_pulsa, nomer_ID_naik, nomer_ID_turun),  penghapusan_nilai_temporary(nomer_ID_naik, nomer_ID_turun).


objek: mesin di bis. 
atribut: nilai temporary nomer_ID_halte. 
method: pengurangan_jumlah_pulsa(jumlah_pulsa, nomer_ID_naik, nomer_ID_turun),  penghapusan_nilai_temporary(nomer_ID_naik, nomer_ID_turun).

objek: mesin kasir 711. 
atribut: nilai temporary jumlah_harga_barang.
method: pengurangan_jumlah_pulsa(jumlah_pulsa, jumlah_harga_barang),  penghapusan_nilai_temporary(nomer_ID_naik, nomer_ID_turun).

objek: mesin pengisi pulsa
atribut: nilai temporary jumlah_pengisian_pulsa.
method: pengisian_pulsa(jumlah_pulsa, jumlah_pengisian_pulsa),  penghapusan_nilai_temporary(jumlah_pengisian_pulsa).

---

kapan ya indonesia (khususnya bandung) bisa make skema se-sistematis itu (atau lebih baik lagi) untuk sistem transportasinya, gw mau lah jadi bagian yang ngerjain sistem manajemen datanya.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

bandung dan ancamannya kini

Jumat, 05 November 2010
gw punya kecurigaan yang sama dengan kepala pusat seismologi teknik BMKG, suharjono, yaitu ada kemungkinan aktivitas vulkanik dan tsunami terkait dengan aktivitas tektonik (http://metrotvnews.com/metromain/newsvideo/2010/10/30/115988/Belasan-Gunung-Berapi-di-Indonesia-Status-Waspada).

terkait sama tulisan gw tentang gempa tasik taun lalu, ketakutan gw dimulai setelah tsunami2 dan gempa2 terus terjadi, khususnya pada gempa tasik itu. karena gw tinggal di bandung, kekhawatiran gw lebih bersifat lokal, yaitu apa yang akan terjadi pada bandung kalo ada aktivitas tektonik yang 'mengganggu' kestabilan sesar lembang dan sesar di sekitar garut?

kekhawatiran gw makin menjadi pas ngliat di berita2 tentang status waspada untuk gunung papandayan (garut), apakah aktivitasnya memang bersifat tektonik (pergerakan lempeng)? dan berikutnya tadi malem, pas gw liat berita lagi tentang gempa tektonik di sekitar ujung kulon tadi malem (http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/11/04/brk,20101104-289472,id.html).

daerah ujung kulon, sukabumi, sampe cianjur tuh termasuk lintasan sesar cimandiri. aktivitas sesar cimandiri kemungkinan akan mempengaruhi aktivitas sesar lembang (lha wong tetangga). dan balik lagi, bandung diapit sama sesar lembang dan sesar garut. sesar garut pun terancam aktif (ngeliat aktivitas dan status waspada gunung papandayan).

balik lagi, itu semua kecurigaan gw, belom pasti bener atau salahnya. yang pasti kecurigaan ini 'diperkuat' oleh LIPI http://www.geotek.lipi.go.id/?p=56.

sekarang asumsiin kecurigaan itu emang masuk akal. pertanyaannya: apa yang harus dipersiapkan untuk menghindari adanya korban? 

dimulai dari gw nonton berita (kalo ga salah di metro tv, sori ga bisa ngasihlink karena gw ga nemu linknya) tentang petani tomat di daerah sekitar gunung kerinci yang 'bingung' antara harus bertani atau harus mulai evakuasi. sekarang masyarakat udah tau dengan status aktivitas gunung berapi, yang jadi masalah adalah: lalu apa yang harus dilakukan oleh masyarakat terkait status itu? ingat, kebingungan bisa mengakibatkan paranoid dan chaos.

kembali lagi ke bandung, dengan asumsi bahwa aktivitas sesar cimandiri dan aktivitas gunung papandayan akan membahayakan bandung, menurut gw perlu ada sosialisasi dari pihak mana pun (yang bisa dipertanggungjawabkan) yang menjelaskan tentang:
1. seberapa bahayanya kondisi ini, 
2. apa resiko terburuknya,
3. apa saja ciri2 yang dapat dianggap mulai membahayakan,
4. tingkatan2 ancaman (dibedakan berdasarkan ciri2 yang bisa dirasakan oleh masyarakat)
5. apa yang harus dilakukan pada tiap tingkatan2 ancaman
6. jika terjadi kondisi terburuk, bagaimana dan kemana proses evakuasi sebaiknya dilakukan.

sekali lagi kecurigaan gw, ancaman bandung adalah lokasi geografisnya yang diapit 2 kawah (tangkuban perahu dan kawah putih ciwidey) sehingga ada kemungkinan lapisan di bawah bandung 'tertahan' oleh endapan magma. sehingga aktivitas di lapisan bawah bisa menimbulkan ambles/naiknya permukaan tanah (dengan kata lain ketidakstabilan permukaan tanah).

jika bencana ada karena adanya korban, sekarang mungkin waktu yang tepat untuk mulai menghindari bencana. tidak perlu lagi ada korban (apalagi korban jiwa), udah terlalu banyak aktivitas alam yang menjadi bencana, udah terlalu banyak korban.

sebagai warga bandung (tanpa bermaksud mewakili warga bandung lainnya - silakan kalo ada yang ngerasa terwakili), skenario apa yang harus kami jalankan mengingat bahaya yang mengancam kami? kami mohon tindakan secepatnya dari siapa pun, minimal dalam bentuk sosialisasi, tujuannya untuk menghindari kepanikan, kekacauan dan jatuhnya korban.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

siklus, energi dan entropi

Selasa, 02 Februari 2010
setelah sekian lama keliling dan melolong ke seluruh penjuru dunia, tampaknya sekarang saat yang tepat untuk balik ke hutan lagi. duduk di tengah hutan, di tepian sungai sambil nyelupin kaki ke air yang ngalir, ngerasain partikel angin yang semilir berhembus bersandar pada sejumlah besar kisi segi enam, mandangin hijau-hijauan yang bersenda gurau satu sama lain, mbayangin bahwa kehidupan sesungguhnya berjalan diskrit jika didekati tanpa unsur emosi, bahwa keserbamungkinan yang disediakan oleh sang pencipta dapat didekati dengan melihat energi yang terkandung di dalam sistem tertentu itu, bahwa hutan hijau ini memiliki sifat tertentu yang harus dipertimbangkan jika ingin mengubah aspek fungsionalnya demi kepentingan lain yang katanya demi kemajuan dan teknologi, dan bahwa teknologi erat kaitannya dengan material dan sifat-sifatnya terutama yang berkaitan dengan kelistrikannya..

yah, di hutan ini aku hanya mengamati dan membayangkan bagaimana alam ini bekerja. aku sendirian dalam hutan ini, dan oleh karenanya otakku leluasa untuk bergerak bebas.

mbayangin lagi waktu-waktu yang udah terlewati kemarin, selama masa distraksi, seketika aku mbayangin keterkaitan antara motif sistem dengan tingkat kekacauan yang akan dihasilkannya. sesuai bunyi hukum 2 termodinamika yang menyatakan bahwa pada suatu sistem terisolasi entropi (kekacauan) nya akan meningkat mendekati maksimum, yang konsisten dengan hukum pertamanya yang menyatakan bahwa energi yang dimiliki sistem tersebut adalah penjumlahan dari semua energi yang dimasukkan ke dalamnya dengan kerja yang dilakukan kepada sistem itu.

kita artiin 'sistem terisolasi' sebagai sistem yang memiliki energi, dapat menerima energi dari luar, dan tidak melepaskan energi ke lingkungannya.

----------

sekarang kita misalkan sistemnya adalah diri sendiri dan kita andaikan pikiran sebagai partikel yang menyusun keberadaan diri. diri kita adalah bagian kecil dari lingkungan kita (anggaplah lingkungan sosial). terjadi berbagai hal di lingkungan kita maka secara otomatis kita menerima energi (bisa berupa informasi atau emosi). energi itu masuk ke dalam diri kita sehingga energi (informasi atau emosi) dalam diri kita bertambah dan secara alamiah pikiran kita akan bekerja terus menerus sesuai kandungan energi yang dimilikinya.

jika kita menempatkan diri kita sebagai sistem yang terisolasi, bisa kita bayangin pikiran dan emosi yang terus menerus berproses dan bergolak dan berkutat di dalam sistem saja (seputar diri sendiri) lama kelamaan akan menghasilkan entropi (kekacauan) yang makin lama makin tinggi.

apa yang bisa terjadi kemudian?

kita tau energi ga bisa dibuat dan ga bisa dihilangkan. energi akan ngalamin perubahan bentuk. sekarang kita bayangin balon. kalo bagian dalemnya diisi energi tertentu (ga ada energi yang keluar dari balon) lama-lama energi itu akan berubah jadi panas yang akan bikin balon ngembang sampe ukuran maksimalnya dan ikatan pembentuknya ga sanggup untuk nahan tekanan panas sehingga meledaklah balon itu.

diri kita juga punya toleransi tertentu terhadap tekanan. diri kita cukup fleksibel sampai batas toleransi tersebut. dan jika batas toleransi itu terlewati, jangan salahkan alam jika diri kita akhirnya meledak kaya balon tadi.

kasihlah energi kita ke lingkungan. pastikan tiap input energi yang masuk ke dalam sistem diri kita diolah secukupnya dan ada output kembali ke lingkungan kita. biarkan tiap perpindahan energi memiliki sirkulasi yang baik. kita terima informasi atau emosi dari lingkungan, kita olah, dan kita berikan lagi informasi atau emosi ke lingkungan.

--------

dengan konsep yang sama, kita bisa bayangkan hal serupa jika 'sistem'nya adalah organisasi dan 'lingkungan'nya adalah kondisi luar yang menaungi organisasi itu. dan 'partikel' penyusun sistemnya adalah tiap individu di dalam organisasi itu.

atau jika 'sistem'nya adalah kekerabatan, 'lingkungan'nya adalah kondisi sosial, yang lebih luas, yang melingkupi kekerabatan itu. dan 'partikel'nya adalah tiap individu di dalam kekerabatan itu.

atau jika 'sistem'nya adalah negara, 'lingkungan'nya adalah dunia. dan 'partikel'nya adalah semua manusia yang hidup di dalam negara itu.

--------

lingkungan memberi energi ke dalam sistem. energi tersebut menggerakkan partikel dalam sistem. jika energi ga dikeluarkan maka akan mengacaukan partikel sehingga membuat sistem jadi panas dan meningkatkan tekanan dalam sistem. jika energi dikeluarkan dengan baik maka tingkat entropi dapat terkontrol dan kemudian bisa disesuaikan untuk tujuan tertentu dengan baik.

--------

gimana contoh ngelepas energi ke lingkungan? gw coba jawab dengan menggeneralisir perkataan john f kennedy:

" jangan tanyakan apa yang bisa sistem terima dari lingkungannya, tapi tanyakan apa yang bisa sistem lakukan bagi lingkungannya "

dan dengan mengingat bahwa sistem ditentukan oleh partikel dan kandungan energi yang dimiliki oleh partikelnya.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

jalan raya jakarta raya

Rabu, 23 Desember 2009
kata seorang penulis perjalanan di luar rutinitas membangun suatu keterasingan dan merangsang seseorang untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. itu gw baca di salah satu majalah bulanan di rumah, setelah beberapa jam perjalanan dari bandung. ngeledek kali nih orang, sepanjang perjalanan di tol gw tidur :D hahahaha. tapi wajar lah, tol emang membosankan.

sesampenya di sebuah terminal yang udah lumayan agak rapihan dikit, gw nyari2 gorengan (buat alesan makan cabe, biar melek lagi) trus naik ke angkot. duduk di depan. lagi di perjalanan, ada seorang ibu berhentiin angkot yg gw naikin pas angkotnya udah deket sama posisi dia berdiri. langsung lah tuh supir banting stir ke kiri dan ngerem agak mendadak. trus si ibu nyamperin pintu depan sambil nanya ke sang supir  "ciputat pak?".

tanpa ngejawab si supir langsung tancep gas lagi. gw jg jadi ikutan mikir kok si ibu itu masih pake nanya rute angkot ini padahal di kaca depan ketulis "PAMULANG - LEBAK BULUS". yah positif thinking aja mgkn si ibu ini ngiranya trayek pamulang-lb bulus tuh ngelewatin ciputat. negatif thinkingnya sih si ibu itu belom bisa baca. semoga aja pikiran negatif gw itu salah.

balik ke supir, makin serem aja dia nyetirnya. banting kanan, banting kiri, rem mendadak, ngegas lebih mendadak. cem sirkuit aja tuh jalan raya, padahal lagi macet. jalan yang didesain 2 jalur terpaksa berubah jadi 4 jalur. angkot gw balapan sama angkot lain dengan trayek sama. begitu macet si angkot musuhnya angkot gw langsung ngambil jalur tengah dan mendesak orang2 di jalur yg berlawanan arah untuk mepet ke kiri ngasih dia jalan. angkot gw ga mau kalah dong, langsung pepet kiri nyalipin (apa nyelip) mobil2 sambil ngelaksonin orang2 atau motor yang ada di pinggir jalan. edaann, seru juga sih sebenernya, tapi berhubung gw duduk di depan gw jg ngeri dong kalo angkot gw ngelewatin tiang listrik dengan jarak antara mobil dan tiang sekitar 20 senti doang tanpa ada pengurangan kecepatan.. sebenernya dari dulu juga kaya gini sih, tapi karena udah lama ga ngerasain lagi jantung jadi berdebar kencang sekali..

sampe di rumah, tepar!! langsung mandi, makan, tidur2an sampe ketiduran. gile, gimana rasanya kerja di jakarta ngandelin angkot utk transportasi harian..

---

2 hari kemudian, tepatnya hari ini, dari pagi gw nganterin kakak gw ke pasar minggu. berangkat dari rumah jam 7 karena jam 9 kakak gw udah janjian untuk interview. sejak mau berangkat udah diwanti-wanti lewat rute tertentu utk ngehindarin macet. kondisinya gw dan kakak gw sama2 ga tau dimana persisnya posisi tempat interview. dengan mengacu sama ancer2 yang dikasih sama pihak kantor sehari sebelomnya kami berangkat. jam 8 udah sampe di sekitar tempat yang diancer-ancerin. ternyata kami tetep ga nemu lokasinya dan akhirnya keterusan hampir sampe depok. setelah ngeliat peta, akhirnya kami puter balik dan jalan pelan2.

sampe di sekitar terminal pasar minggu, macet banget!! mobil terpaksa jalan pelan2 terus. tiba-tiba kerasa ada benturan di belakang. pas gw liat spion ada motor abis nabrak mobil gw bagian belakang (mungkin kenceng, ga tau juga deh gw) trus dia jatoh. refleks gw ngerem di tempat dan mau turun, pas gw liat dia udah bisa berdiriin motornya lagi baru deh gw minggirin mobil ke kiri dan ngecek kondisi, ternyata kaca lampu pecah. bisa diganti lah, ga masalah (sorenya ganti kaca lampu 15ribuan). mungkin lagi ngantuk aja kali si pengemudi motor itu, mentang-mentang besok libur natal trus dia sambil ngantuk berangkat pagi2 naik motor (nyambung ga ya?).

akhirnya nyampe di tempat interview jam setengah 9. kantornya masih tutup. jam 9 kurang 15 ada satu pegawainya baru dateng. jam 9 tepat kami masuk ke kantor. jam 9 lewat 5 baru deh sang penginterview pada dateng. jam 9 lewat 15an baru deh kakak gw dipanggil untuk interview. cepet banget interviewnya, ga sampe 2 batang rokok samsu kakak gw udah keluar lagi. janjian ketemu temennya trus makan siang di sekitar cassablanca.

perjalanan menuju kuningan diwarnai kemacetan yang cukup berarti. ternyata itu belom seberapa. begitu masuk jalan cassablanca, gw baru sadar ternyata emang nyetir di jakarta ini dibutuhkan konsentrasi sangat tinggi dan daya tahan prima. udah tau macet, tetep aja para supir berusaha ngisi ruang-ruang kosong yang ada di jalan. persis kaya aliran air. begitu ada ruang kosong, di sana lah air bergerak utk ngisi.

mobil dan motor saling berlomba ngisi ruang kosong. sangat mungkin ada gesekan-gesekan antar kendaraan. yang penting seruduk sana seruduk sini, lebih cepat sampai lebih baik. selalu ada penambahan paksa 2 - 3 jalur dari jumlah jalur yang udah ditentuin. dari jalan yang 3 jalur, tiba2 bisa sampe ada 5-6 banjar barisan mobil di jalan itu. gile. dan semuanya seolah-olah siap saling nyeruduk!

mau ga mau gw kebawa juga deh :D seruduk sana seruduk sini. untung mobil gw bukan mobil mewah dan mengkilat. jadi kalo mau ngadu sama mobil mewah atau mengkilat, jelas dia lebih takut lecet daripada gw :D.

-----

emang deh emosi tuh menular. psikologi yang kebentuk sama lingkungan, selama waktu dan jarak tertentu akhirnya mempengaruhi juga kondisi psikologi individu di dalemnya. apalagi ditambah terik matahari yang menyengat, dengan hembusan angin yang panas, ditambah lagi lalu lintas padat, dengan adanya suasana kesenjangan yang cukup kerasa dari supir angkutan umum ("gw udah panas2an gini di kendaraan gw, elu enak adem pake AC, gw dluan lah yang jalan!!" - ini keliatan dari tatapan mata penumpang dan supir metromini waktu lagi rebutan ruang kosong sama mobil keluaran baru) alhasil terbentuklah iklim peperangan a la hutan di tengah fasilitas kota yang katanya metropolitan.

peperangan itu juga makin bertambah seru dengan adanya luncuran motor2 yang meliuk2 nerobos tiap celah tanpa peduli pengendara lainnya. bener2 kaya hujan peluru dari arah belakang dan hebatnya peluru ini ga cuma jalan lurus dengan percepatan konstan tapi bisa belok2 dan ngubah2 kecepatan seenak jidat.

dan akhirnya setelah mengikuti peperangan yang seakan tanpa akhir itu, para ksatria (masing2 pengendara kendaraan) terbagi jadi 2 macem: ada yang makin liar dan ga peduli sama sekelilingnya, ada juga yang mulai nurunin emosinya (mungkin sambil ngedumel2 dalam hati atau ngobrol atau nyetel musik atau ngerokok) dan nurunin agresivitasnya.

letih. bener2 ga kebayang kalo harus berbaur dengan kerasnya peperangan hutan metropolis ini tiap hari. makin mantaplah tekad gw, gw ga mau gawe di jakarta.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------