Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

trip singapura

Sabtu, 29 Maret 2014
sekali lagi berkunjung ke singapura. kali ini dibayarin sama kantor. saat trip pertama dulu, fokus perhatiannya ada pada transportasi publik yaitu MRT dan bis, namun kali ini karena dateng untuk keperluan kantor, jadi ga punya banyak waktu untuk jalan2 jauh yang pake MRT atau bis. akhirnya aktivitas perpindahan lokasi lebih banyak dilakukan dengan jalan kaki, sambil ngamatin kendaraan-kendaraan (mobil/motor/bis) yang mengisi jalan dan juga sambil ngamatin para pejalan kaki lainnya.

tata kota
salah satu yang cukup gw soroti di singapura adalah marka jalan. tiap jalan memiliki marka yang jelas. garis putih pemisah lajur, maupun kotak kuning (YBJ) menjadi standar di semua jalan yang gw lintasi, termasuk di jalan kecil. cukup miris ketika gw liat lagi kondisi jalan raya di Jabodetabek yang biasa gw lalui, garis pemisah lajur pun belum tentu ada. mungkin di jalan protokol garis pemisah lajur tercetak cukup jelas, tapi di jalan2 lain, tidak jelas dimana batas lajurnya. garis pinggir jalan pun jarang ditemui di jalan2 jabodetabek.

YBJ (Yellow Box Junction), bisa dilihat penjelasan fungsinya di http://catatan.tmcpoldametro.net/, tujuannya untuk menghindari deadlock di bagian jalan yang menjadi perpotongan antara beberapa jalur. di jabodetabek, YBJ hanya gw temui di beberapa perempatan besar yang rawan macet, dan itu pun banyak pengguna kendaraan pribadi yang tidak mengindahkan fungsi YBJ ini. di singapura, YBJ diterapkan dengan baik, bukan hanya di perempatan besar tapi juga bahkan di putaran antara 2 jalur, perpotongan jalan kecil dan jalan besar, hingga di samping lokasi perhentian bus selain halte.

ybj di putaran jalan

ybj di perpotongan jalan kecil

ybj di samping stop bus

para pengguna kendaraan di singapura pun menaati marka tersebut. suatu pagi yang gw amati, ketika lampu sedang merah, pengendara mobil yang kebetulan berada di 'belakang' YBJ, mengerem kendaraannya di belakang YBJ sampai lampu hijau kembali.

dengan ketaatan pengguna kendaraan seperti itu, selama seminggu gw di singapura, gw cuma denger 3 kali orang nglakson. sangat berbeda dengan suasana di jabodetabek.

enak banget jalan kaki di singapura. jalur pejalan kaki didesain dengan serius, trotoarnya lebar, tersambung terus di semua jalan. bahkan untuk nyebrang jalan, tersedia lampu merah untuk pejalan kaki. kalo lampu merah untuk kendaraan punya 3 warna (merah, kuning, hijau) dimana kuning artinya siap2 (siap2 jalan atau siap2 stop), bagi pejalan kaki lampunya cuma 2 yaitu merah dan hijau.

pada warna hijau pejalan kaki, ada nyala kedip2 dan nyala terus. nyala terus artinya orang bisa mulai menyebrang, sedangkan jika lampu hijau berkedip, pejalan kaki dihimbau untuk tidak mulai menyebrang. kadang ada sih yang tetep mulai nyebrang waktu lampu udah kedip-kedip, tapi konsekuensinya adalah si orang itu biasanya harus jalan cepet atau lari dari tengah jalan karena lampu kendaraan yg akan lewat udah hijau.

hal tersebut menunjukkan adanya perhitungan durasi berapa rata-rata waktu yang dibutuhkan orang-orang untuk menyebrang. jika lampu merah untuk kendaraan yang akan melewati jalur terebut akan berakhir (segera menjadi hijau), durasi rata-rata tersebut dibutuhkan untuk menentukan apakah lampu hijau pejalan kaki sudah perlu dikedipkan. detail sekali sistemnya dibuat.

kondisi ini membuat pejalan kaki (yah setidaknya gw dan temen gw) merasa dihargai sebagai pengguna jalan yang setara dengan mobil atau motor atau bis. dan entah bagaimana awalnya dikondisikan, para pengguna kendaraan pribadi akan selalu mengalah pada pejalan kaki ketika pejalan kaki hendak menyebrang.

jalan kaki dan kesehatan
dengan kondisi yang didesain nyaman untuk berjalan kaki, para penduduk singapura cenderung lebih memilih untuk berjalan kaki jika lokasi tujuan berjarak sekitar 1km dari lokasi awal. hal demikian akan mengimbangi kebutuhan para pekerja singapura untuk berolahraga minimal. dengan pola kerja yang lebih banyak dihabiskan di belakang meja atau di depan monitor, jalan kaki akan menyeimbangkan kebutuhan badan akan gerak.

jarang sekali gw ketemu pekerja/warga singapura berusia sekolah sampai usia kerja yang bertubuh gemuk. di jalan sehari2 yang gw temui mayoritas bertubuh langsing, baik pria mau pun wanitanya. gw rasa ini ada hubungannya juga dengan kebiasaan jalan kaki sehari-hari. seminggu gw di sana, lemak di perut gw banyak berkurang :D

berdasarkan data dari http://www.worldlifeexpectancy.com/country-health-profile/singapore, terlihat bahwa life expectancy warga singapur secara historis meningkat dari taun ke taun, dan pada taun 2011 menempati peringkat 8 besar terbaik di dunia.

walaupun termasuk nominasi negara dengan tingginya tingkat penduduk yang tidak bahagia (http://www.scmp.com/news/hong-kong/article/1131222/singapore-hong-kong-face-happiness-deficit?page=all), walaupun belum tentu tidak bahagia adalah sama dengan stress atau sedih, seperti dikatakan di artikel ini http://www.gallup.com/poll/158882/singapore-ranks-least-emotional-country-world.aspx bahwa penduduk singapur sedikit menggunakan emosi (positif ataupun negatif), tetapi data di paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa singapur berada di nominasi negara dengan tingkat kesehatan terbaik.

hal di atas dapat dijadikan pelajaran bahwa dengan meningkatkan kualitas transportasi publik dan fasilitas pejalan kaki, membuat orang-orang akan memilih untuk menggunakan transportasi publik dan/atau berjalan kaki, dapat mengurangi potensi minimal dua masalah sekaligus yaitu kemacetan dan kesehatan.

etika sosial (formalitas)
banyak didenger bahwa di singapura orang2nya cenderung individualistik. ga peduli masalah orang lain, ga mau mengganggu dan ga mau diganggu. selama gw di sana, ketemu macem-macem orang dari negara dan budaya yang beda-beda, satu hal yang (mungkin tanpa sadar) dilakukan bersama-sama adalah meminimalisir gesekan yang mungkin terjadi akibat perbedaan budaya atau latar belakang antar individunya.

hal ini bukan berarti ignorant atau ga bersosialisasi satu sama lain, tetapi justru saling bersosialisasi tetapi dengan menciptakan suatu formalitas tertentu yang dilakukan bersama. hal kecil sebagai contoh, yang gw dapet fotonya, adalah foto ini

say thank you when someone holds the lift door for you

salah satu hal yang cukup menonjol di singapura adalah kebiasaan tidak memetingkan diri sendiri ketika berada di lingkungan sosial. entah itu di jalan raya, di stasiun MRT, di halte bis, mau pun di lift. cukup sering terlihat seseorang yang berada dekat tombol lift menahan pintu lift agar tetap terbuka agar orang-orang yang akan keluar dari lift tidak perlu terburu-buru atau hati-hati takut pintu tertutup saat dia akan lewat. dan untuk contoh demikian, formalitas yang dibentuk adalah dengan mengucapkan terima kasih kepada yang melakukannya.

kita tidak bisa menilai apakah mereka tulus atau tidak saat mengucapkan itu. tetapi bagi orang yang menahan pintu, tiap ucapan adalah apresiasi yang baik. gw pernah coba melakukan itu, dan gw cukup surprise karena banyak ucapan2 terima kasih yang disampaikan (biarpun sebagian dari mereka mengucapkannya dengan kepala menunduk tanpa kontak mata).

di kejadian lain, seorang kawan saya yang asli singapura menahan pintu, dan sambil gw keluar gw bilang 'thank you' ke dia dan reaksinya adalah dia dan beberapa kawan lain justru tertawa-tawa sambil menepuk punggung gw. ini gw artikan bahwa ucapan itu adalah formalitas bagi mereka-mereka yang tidak terlalu mengenal (atau bahkan tidak kenal sama sekali).

dan yang baik menurut gw dalam hal ini adalah, walaupun himbauan ini ditempel secara tertulis di lift, walaupun (mungkin) merupakan formalitas saja, tetapi tetap ada kesadaran untuk melakukannya. walaupun mungkin bukan dilandasi empati, tetapi memang mereka menyadari bahwa untuk meminimalisir gesekan, ada formalitas tertentu yang 'perlu' dilakukan dan tidak memalukan untuk melakukannya.




baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

petualangan bersama music player

Kamis, 12 Agustus 2010
pertama kali pengen dengerin musik di komputer (windows) pake winamp karena direkomendasiin orang-orang. Trus berikutnya ternyata musik biasa nemenin gw berimajinasi. mulai lah gw penasaran bisa ngga membangun imajinasi dan/atau suasana lewat musik. ternyata winamp sangat memudahkan gw untuk melakukannya.

keunggulan winamp menurut gw tuh soal bikin playlist. bahkan secara spontan, yaitu dengan neken keyword J maka kursor akan akan jump (lompat) ke file yang kita ketik dan keyword Q di judul lagu pada playlist maka winamp akan meng-queue (antre) lagu tersebut untuk diputer setelah lagu yang lagi kita dengerin saat itu selesai. dan antrean ini bisa dilakukan untuk berapa pun jumlah lagu yang diinginkan. jadinya kita bisa bikin playlist secara spontan dan dinamis.

untuk menunjang imajinasi, gw nyoba untuk pake visualisasi. akhirnya mulai nyari2 visualization punya winamp. ga ada yang gw suka, jadinya ga pernah pake visualization deh.

tiba-tiba ga sengaja nemuin kalo jetaudio punya visualization keren banget. gw suka yang Synesthesia v1.10, plug in CoR’s Cosmic Belt 1.2. bertahan lama nih, gw pake visualisasi itu terus hampir setiap dengerin musik, selama 3 taunan lah.

makin kesini tingkat kebutuhan gw sama komputer makin tinggi. terutama utk yang berhubungan sama desain, eksplorasi dan mobilitas mouse juga makin meningkat. oiya, sejak saat ini komputer gw gw namain sebagai komputergw (penamaan ini sebagai bukti kecintaan dan saling ketergantungan).

nah, di jetaudio itu playlistnya paling enak ditaro di pinggir screen. jadi kalo kursor nyentuh pinggir screen maka playlist akan nongol. aktivitasnya jetaudio bisa diumpetin sebagai simbol di system tray toolbarnya windows, jadi ga menuh2in aktivitas yang kepampang di toolbar.

akhirnya karena kursor lagi giat keliling2 akibatnya dia sering banget nyenggol pinggir screen dan nongolin playlistnya deh. Kegiatan ngedesain jadi keganggu. dan gw kecewa banget sama jetaudio karena ini. gw hapus dia dari memori komputergw, biar komputergw ga usah ngerasain kekecewaan yang gw rasain.

trus gw nemu itunes. berikutnya gw nemuin antara lain keunggulannya itunes ini tuh kemudahan manajemen data dan punya visualization keren juga. tapi ternyata visualization itu kayanya khusus utk itunes-nya mac, bukan windows.

di sisi lain, kayanya kuliah memacu pikiran gw untuk mengkategorikan sesuatu, ditambah kemudahan itunes tadi, akhirnya gw jadi hobi ngerapiin file2 musik gw. tapi belom semuanya, bosen. Dan ternyata gw baru tau kemudian kalo itunes yang gw instal bikin komputergw kerjanya berat. kasian. gw buang juga itunes dari memori komputergw, biar dia ga perlu tau bahwa dia telah dikuras tenaganya.

trus gw pikir kenapa gw ga cobain windows media player sekalian. gw nemuin kalo windows media player ternyata kemampuannya bisa dibilang sama aja dengan itunes (siapa ngikutin siapa nih?) tapi dia lebih ringan (mungkin karena emang karena pembuatnya sama). dan dia punya visualization yang lumayan agak bagus (udah 'lumayan', 'agak' lagi!). visualizationnya kategori battery, namanya illuminator.

tapi visualizationnya ga terlalu diperluin, bener-bener musik dipakenya buat backsound biar ga bosen kerja. kadang2 gw suka stel film (dari dvd atau dari memorinya komputergw) tapi ga gw tonton, cuma buat backsound aja. windows media player mendukung untuk kegiatan itu. gw mulai lagi ngatur-ngatur pensuasanaan di studio (baca: kamar) gw dengan bikin playlist lagi (gabungan antara musik dan film).

tapi gw sering keganggu kalo dvd yang lagi gw stel mendadak eror. suasananya bisa jadi ga enak banget. akhirnya gw bikin playlistnya lagu doang tanpa film. ga lama kemudian gw mulai cekcok sama windows media player karena dia playlistnya bisa diaturnya statis. Mesti milihin filenya satu2 utk dimasukin ke playlist dan lagu yang diputer terbatas di playlist itu doang, jadi butuh waktu lama untuk nyusun playlistnya demi pensuasanaan jangka panjang. Ribet dan ga efisien.

gw pengen musik kedengeran terus, tapi ada saat tertentu (bisa jadi spontan) dimana gw butuh nentuin sendiri flow musik sampe beberapa waktu ke depan. tujuannya biar kerjaan dengan komputer bisa jadi petualangan seru untuk dijalanin, jadi ga cepet bosen untuk kerja dalam waktu lama. dan karena alesan demikian, saat ini gw CLBK (cinta lama bersemi kembali. atau cinta lama bocah kampung?) sama winamp.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

undangan minum teh di burangrang

Rabu, 30 Juni 2010
sebaiknya pengalaman ini segera diabadikan dalam tulisan sebelum hilang dari ingatan. kisah ini dimulai dari sebuah undangan minum teh di gunung (atau bukit?) burangrang yang dikirimkan sama seorang temen, sebut aja harji (nama sebenarnya) lewat tag foto di fesbuk. waktunya tepat banget, pas lagi bosen2nya sama komputer yang tiap hari dipantengin selama berjam2. pas lagi bosen2nya sama tembok yang makin hari makin terasa mengungkung. pas lagi jenuh2nya sama tugas akhir yang ga juga beres2. pas lah.

yang seru adalah tim yang mau berangkat ini berasal dari 4 tim yang berbeda, dan antar tim ini berpusat ke harji sebagai titik temunya. ada tim purwokerto (harji, deni, brian), ada tim himafi (harji, gw), ada tim kanayakan (gw, om), ada tim cewe (ira-pacarnya harji, abg-ambegan, tukang sendal, tukang pensil). nah kliatan kan nama yang paling banyak irisannya adalah 'harji'.

perjalanan dimulai hari sabtu, 25 juni 2010, jam 3 sore. gw berempat (bareng harji, deni dan brian) naik angkot dari tempat nyewa tenda ke lokasi janjian sama 5 orang temen lagi (om dan tim cewe) di supermarket deket terminal ledeng. di perjalanan gw sekalian nanya ke supir angkot untuk nyarter tuh angkot sampe 'pintu komando'. sampe di ledeng, setelah anak2 pada kumpul semua kita mulai berangkat. gw nanya ke supir angkot, "bensin kumaha kang, aman teu nepi ka atas?", dan cuma dijawab dengan senyuman yang mencurigakan.

rutenya: terminal ledeng (bandung) - sersan bajuri - letkol masturi (turun di plang komando) - jalan/ojek sampe pintu angin (cijanggel).

pertanyaan gw kejawab ga lama kemudian, di tengah2 tanjakan jalan sersan bajuri tiba2 angkot mendadak mogok. "bensinnya abis a'.." kata si supir. dan anehnya kok bisa pas banget sekitar 4-6 meter di depan ada yang jual bensin eceran. fiuh, aman. abis diisin bensin seadanya, pas mobil mau dinyalain lagi, mesinnya ga mau nyala. keliatannya ga ada listrik dari accu.

trus dengan tenangnya si supir masukin gigi mundur, ngelepas rem dan ngebiarin mobil mundur trus ngestart mobil sambil masuk gigi mundur. nyala. tanpa ngelepas gas, masih dengan tenangnya dia narik rem tangan (kaki tetep di pedal kopling dan di pedal gas) trus masuk gigi 1, ngelepas rem tangan dan lanjut jalan lagi. ini nih skill seorang profesional.

akhirnya kita nyarter tuh angkot sampe ngelewatin pintu komando. naik dikit lagi sampe kira-kira 1/3 perjalanan antara pintu komando sampe pintu angin. tadinya mau sampe pintu angin sekalian tapi ternyata angkotnya ga kuat, baru aja pulang dari pangandaran kata supirnya. setelah nurunin barang2, kami jalan sekitar 20-30 menitan sampe pintu angin (nama daerahnya cijanggel).

ternyata udah ada beberapa perubahan sejak gw terakhir ke sana taun lalu. sekarang ada 'pos komando' ngegantiin warung. istirahat bentar di sana. ternyata di sana kami perlu bayar uang kebersihan 5ribu per orang.

---

sekitar jam 16.30an kita mulai berangkat dari pos. dari pos ini ada 2 rute, yang ke kanan ke arah situ lembang (lewati jalan batu-aspal), dan yang kiri jalan tanah ke arah burangrang.

perjalanan awalnya biasa aja, sampe tiba2 nongol tanjakan2 gila, kita bilang tanjakan setan, yang semi-panjat-tebing. agak berlebihan sih, tapi ga sepenuhnya salah. kita emang dipaksa untuk manjat2 batang2 dan akar pohon yang menjuntai untuk bisa naik, karena sebelomnya abis ujan jadi jalan tanahnya licin dan kadang susah utk dijadiin pijakan total.

kondisi itu bener-bener bikin fisik cepet ngedrop karena tepat sama waktunya langit mulai gelap (kayanya perlu energi lebih untuk adaptasi sama perubahan cahaya) dan sejak awal perjalanan beberapa dari kami harus nenteng lampu di tangan kiri dan matras (yg gw selempangin) ngganggu pergerakan tangan kanan. akhirnya lampu dan matras segera berpindah-pindah tangan.

ga lama setelah magrib kita nemu tempat yang datar dan agak lapang. di situ kami istirahat sambil sholat. sambil ngemil juga.

di bagian ini ada yang menarik, ada 2 temen yang ga bisa buka bungkus sosis (yang kata iklannya "tinggal lep.."). akhirnya dibikin lomba cepet2an mbuka sosis utk mereka berdua. dan akhirnya gw ga tau siapa yang menang. nah, yang menarik dari bagian ini adalah bagian ini ga perlu dibaca dan bisa langsung baca paragraf berikutnya.

pas anak2 cewe pada sholat, ada rombongan yang ngelewatin kita. serombongan anak2 berpakaian a la punkrock. ada 10 anak. sempet kaget juga gw dan beberapa temen. tadi pas berangkat dari pos ga ada tanda2 kedatengan mereka, tiba2 udah ngelewatin kita. cepet banget mereka jalannya. saat itu gw pikir mereka emang udah sering naik ke gunung (atau bukit?) burangrang ini.

setelah semuanya selesai dengan istirahat dan ibadahnya kita mulai jalan lagi. kita ketemu tanjakan setan II, dan di sini gw mesti lepas sendal karena basah jadi licin.

kurang lebih jalan lagi selama 45-60 menitan kita nyampe di lokasi yang lapang lagi. di lokasi ini rombongan anak punk (mulai sekarang kita sebut apunk) bikin tenda dan udah nyalain api. taun lalu, pas pertama kali gw ke sini, gw tidur tepat di lokasi ini, kita sebut aja puncak 1. kali ini pas kita sampe sana kabut mulai turun. perut juga udah mulai pada laper.

kita nanya jalan ke arah puncak sama para arapunk (jamak). mereka bilang jalannya turun dulu agak curam, jalannya sempit kanan-kiri langsung jurang, bahaya kalo jalan sekarang karena licin dan karena gelap dan kabut jalannya jadi ga keliatan jelas. awalnya kita ga percaya dan tetep nyoba jalan, tapi baru beberapa meter kita baru sadar kalo yang mereka bilang tuh bener juga. akhirnya kita balik lagi ke lokasi itu dan masang tenda juga di sana.

kita cari2 spot yang enak utk masang tenda. dan kita ternyata ga ada yang bisa masang tenda dome. gw terakhir masang tenda klo ga salah sih pas pramuka waktu SD atau SMP, dan itu pun bukan tenda dome. kebingungan kami ternyata bikin arapunk tertarik utk ikutan mikir. akhirnya kita rame2 ngeroyok tuh tenda sampe berdiri dan layak pakai.

setelah tenda dome utk cewe kepasang, yang cowo mulai masang bifak pake ponco, beralas matras. kita ngiket tali rafia melintang (pas banget ada 2 pohon yang bisa diiketin) trus pinggir ponco diiketin ke tali itu, pinggir lainnya ditarik ke bawah belakang dan diiket ke pasak. panjang bifak kira2 3 kali lebar ponco - kira2 sama dengan 4 kali lebar matras. bifak ini munggungin arah angin. lumayan buat nahan angin malem.

trus kita masak air untuk bikin teh, kopi dan mie pake kompor - emang niat camping nih perjalanan kali ini. sambil makan dan minum kita ngobrol2 saling kenalan juga sama arapunk, yang ternyata baru lulus SMP. arapunk pamit utk tidur duluan dan rombongan kami masih cerita2 dan bercanda2. sesekali arapunk ikutan nyamber nyeletuk dan saling ngetawain.

kami sempet kaget waktu tau arapunk tuh baru lulus smp. kirain udah sma atau lulusan sma. salah satu anggota rombongan kami nyeletuk, "wah masih kecil ya, berarti kami nih pembimbing kalian hehehe..". dan lanjutan perjalanan kami akhirnya membuktikan kalo celetukan itu salah total.

menarik juga ngeliat cara arapunk bikin api. mereka bikin lobang, di dasar lobangnya mereka taro lilin. di bagian atasnya mereka naro ranting2 dan daon2 yang agak kering yang bisa mereka temuin. di atas ranting2 itu mereka ngasih ganjelan kayu untuk naro panci. lilin di bawah memastikan penguapan air di ranting terus berjalan dan setelah kering rantingnya akan kebakar, gitu terus beberapa kali mereka naro ranting2 tiap ranting yang awal udah hampir abis.

---

paginya kami bangun sekitar jam 6.30an langsung masak air untuk ngopi, ngeteh, masak nasi dan bikin mie. pas kami makan arapunk ngerapiin tendanya trus ngelanjutin perjalanan mereka ke puncak. pas gw liat agak lebih teliti, gw kagum sama anak2 ini karena mereka ga ninggalin sampah atau bekas apa pun selain lobang yang mereka bikin untuk ngebuat api.

selesai makan kami beres2in perlengkapan makan dan tenda. sampah2 dimasukin ke trashbag trus trashbagnya dititipin bentar di sana trus kami jalan lagi menuju puncak. rute yang kami lewatin emang sesuai sama gambaran yang dibilang arapunk semalem. jalan relatif sempit, kanan-kiri langsung jurang. sekitar 45-60 menit dari sana kami nyampe di tanah lapang berikutnya, kita sebut aja puncak 1,5.

di puncak 1,5 ini kami ketemu sama 3 apunk yang turun dari puncak untuk nyari edelweiss, "buat oleh2 mamah", cenah. di sana kami naro dan ngumpetin lampu petromax di semak2 karena emang agak ngganggu keleluasaan gerak. kami lanjut jalan lagi. di jalan 3 arapunk tadi nyusul lagi, yang 2 langsung naik ke atas, yang 1 lagi nyari taneman asem "utk cemilan di atas", katanya.

ga terlalu lama kemudian kami nyampe di daerah landai lagi, sebut aja puncak 2. di sini kita duduk bentar utk minum trus lanjutin perjalanan lagi.

perjalanan dari sini malah turun terus. turunan sempit, makin lama makin curam. beberapa kali ada pohon melintang, memaksa kita untuk jalan jongkok atau gelayutan dikit biar bisa lewat. wah, ini bagian yang akan mengancam di perjalanan pulang nih. jadi kepikiran, kita mesti menghargai turunan seperti kita menyegani tanjakan.

akhirnya sampelah kita di titik baliknya, kita mulai naik terus, tapi relatif landai. seinget gw ga ada tanjakan setan di bagian ini. di track bagian ini jalannya sempit, sebelah kanan kami langsung jurang. di beberapa bagian ga ada pengamanannya. tapi pemandangan di bagian ini menurut gw sih pemandangan paling bagus yang bisa diliat di burangrang. di sini kita bisa ngeliat situ lembang dan lembah dari beberapa bukit yang berujung ke kota cimahi (kalo ga salah). dengan seenaknya aja deh gw sebut lokasi itu view optimal.

kira2 20 menit dari sana, kita sampe ke satu bagian yang paling bahaya di track burangrang ini. ada batu besar yang nutupin jalan, sementara tanah di samping kanannya keliatan kaya baru aja longsor, jadi jalannya terkikis gitu sampe cuma ada beberapa centi aja. jadi utk ngelewatinnya mesti pegangan (agak nyandar) ke batu sambil ngelangkahin bagian yang longsor.

ga lama setelah ini ada lagi bagian yang menarik di perjalanan ini. di depan ternyata kita harus ngelewatin track 'manjat'. mendadak jadi curam banget tanjakannya di track ini. bagian yang harus dipanjat ini kira2 tingginya 3-4 meter, pijakannya batu2 yang agak licin. di atasnya ada 3 apunk yang standby sambil megang tali. salah satu dari mereka langsung manggil begitu ngeliat kami, dan ngomong ke cewe yang paling depan "ayo pegang talinya sambil kita tarik ke atas..". dan satu per satu kami naik ke atas dengan bantuan mereka.

gw pikir tali itu emang udah disiapin sama pengawas di sana. pas gw tanya ke arapunk "ini tali punya siapa?", mereka jawab, "ini anak2 aja yang bawa..". berarti saat itu mereka emang nyiapin tali ini di lokasi ini untuk tujuan tertentu.

luar biasa anak2 itu. masih kecil dan keliatan urakan tapi semangat menolongnya tinggi banget. gw pikir lagi mungkin mereka emang sengaja 'ngirim' 3 orang ke bawah selain untuk ngambil edelweiss dan buah asem juga untuk memantau perjalanan kami dan nyiapin bantuan di lokasi yang kira2 akan menyulitkan perjalanan.

setelah kita semua naik, mereka ngeberesin perlengkapan mereka bentar trus langsung nyusul kami ke atas. setelah jalan nanjak lumayan terjal sekitar 5 menitan akhirnya kami sampe deh di lokasi landai lagi. di lokasi itu arapunk yang lain duduk2 di bawah bifak mereka sambil masak air dan santai2. lokasi ini gw namain puncak 2,5. dari lokasi ini puncak akhir (puncak 3) bisa keliatan. jaraknya kira2 2-3 menit.

arapunk nyantai di sana karena di puncak akhir ada rombongan yang udah masang tenda dari semalem. gw sempet denger rombongan ini lewat tadi malem, ternyata mereka langsung ngecamp di sini dari tadi malem.

di sini gw merhatiin lagi cara arapunk masak air. cara bikin apinya kira-kira sama, mereka bikin lobang untuk naro api. bedanya, sekarang mereka pake kaleng bekas yang diisi air + minyak tanah dan ranting2 kecil dipatah2in, dimasukin ke kaleng itu juga. air ngedorong minyak tanah ke atas, dan minyak tanah ngapungin ranting kecil. tinggal deketin api ke ranting yang di dalem kaleng, api akan stabil nyala karena seluruh bahan bakar ada di dalem kaleng itu. kaleng bertugas sebagai kompor, panci diganjel kayu ditaro di atasnya. kreatif, keliatan sangat berpengalaman.

di sini kita ngobrol bentar sama arapunk trus lanjut ke puncak akhir. rombongan yang ada di sana lagi becanda2 sambil foto2, kira sebut aja ini rombongan g4ul. di puncak akhir ini ada tugu bertuliskan 'puncak burangrang 2050 mdpl' (kalo diliat dari arah jalan masuk. sedangkan di sisi kanan tugu itu tulisannya kalo ga salah 'burangrang 2062', entah 2062 itu nyatain apa.

di bawah tulisan 'burangrang 2062' ini ada pahatan di batu tugu itu tulisannya 'tatang' dan 'aep'. gile juga nih 2 orang, bisa mahat di batu gini, berapa lama mereka mahatnya..

trus kita foto2 sambil duduk2 deh. nikmatin angin, ngomentarin rombongan g4ul, ngomentarin pemandangan, ngomentarin salah satu anggota rombongan kami yang mukanya mendadak serius pas lagi difoto di atas tugu.

di sini gw merhatiin lagi cara rombongan g4ul bikin api. biasa aja, seperti yang bisa kami lakukan, ranting2 ditumpuk, ada bekas2 sampah kebakarnya juga. rombongan ini bisa dibilang jorok juga, mereka ninggalin botol dan kaleng bir kosong di semak2. tadinya mau gw bawa sekalian, tapi trash bag kan dititipin di puncak 1,5 dan lagian tas gw penuh bgt, dan nenteng2 barang juga ga efektif utk perjalanan jadi dengan terpaksa gw biarin aja botol dan kaleng bekas itu dengan harapan bisa dimanfaatin jadi sesuatu sama arapunk nantinya.

sekitar 30 menitan kami di atas, rombongan tetangga kami pamit untuk turun duluan. wah banyak banget jejak yang mereka tinggalin: sampah2 dan sisa kayu bekas api unggun. ga lama setelah itu kami turun juga ke pos 2,5 gabung lagi sama arapunk untuk makan dan istirahat bentar sebelom lanjutin perjalanan turun. di sini kami ngobrol2 lagi sama arapunk dan di obrolan ini lah kami jadi tau siapa sebenarnya 'tatang' dan 'aep' yang namanya terukir di tugu, ternyata salah 2 dari mereka dan udah lama dibuatnya.

---

beres makan, ngrokok, kami berdiri trus berterimakasih dan pamit sama arapunk untuk turun duluan. mereka masih mau ngecamp di puncak akhir malemnya. kami mau langsung turun dan pulang ke bandung.

pas turun ini gw kaget dan kagum lagi sama arapunk. di tempat mereka bantuin kami pake tali tadi, ternyata talinya mereka iketin ke taneman yang cukup kuat. luar biasa, kecil2 tapi mereka berpikiran panjang euy. dari jauh sempet kedengeran mereka teriak "ati2 turunnya a'..".

perjalanan turun relatif mudah dan menyenangkan, kami sempet foto2 di view optimal dan di beberapa spot yang lumayan bagus viewnya. agak cukup berat di bagian yang udah kami perkirakan, tapi secara umum relatif santai.

pas di puncak 2 kami ketemu sama rombongan 4 orang bapak2 tua sekitar 60 taunan lagi istirahat di sana, mereka juga menuju puncak. ngeliat kami kehausan dan capek bapak2 itu nawarin air dan pisang. pas bener, stok air kami udah abis. ternyata mereka berempat pensiunan Brimob. ngobrol bentar trus mereka lanjut jalan lagi, kami juga mulai jalan ga lama kemudian.

gile di perjalanan kali ini, kami2 yang ga terlatih ketemu sama banyak orang2 baik dan berpengalaman yang 'membimbing' perjalanan kami dan ngasih banyak banget pertolongan dan pembelajaran. betapa beruntungnya kami.

di puncak 1,5 kami ngambil lagi lampu yang kami tinggalin sementara. di puncak 1 kami ngambil trashbag dan baru sadar kalo kami ninggalin banyak potongan tali rafia - sekalian kami masukin ke trashbag dan kami bawa ke bawah.

pas turun di lokasi-lokasi yang ga begitu curam tanpa sadar gw jalan cepet banget (mungkin hampir lari). ga perlu dengan sengaja nambah kecepatan, miringnya turunan secara otomatis narik badan gw ke arah gravitasi dan resultannya mempercepat arah gerak gw. dan di saat2 seperti itu mata gw hanya fokus ngeliatin jalan dan pikiran gw bekerja fokus untuk memilah2 dan mencari pijakan dengan cepat. gw baru sadar, suasana ini lah yang gw rindukan dari perjalanan2 kaya gini. terasa menyatu dan bereaksi sesuai dengan keadaan alam.

tanpa kerasa kami udah sampe lagi di pos komando (pintu angin). istirahat sebentar dan ga lama tiba2 ujan. wah untung aja ujannya pas kami udah sampe bawah. pas ujan udah reda gw dan om minjem motor untuk nyarter angkot di terminal parongpong. yang cewe2 udah pada capek utk jalan lagi sampe pintu komando.

akhirnya kami pulang sambil dengerin pak supir angkot curhat tentang keluarganya (terutama istrinya), tentang masa kecilnya, tentang pendapat2nya terkait kemacetan di kota, dan ga lupa ngajarin kami trik2 berhitung (pinter euy si bapak ini).

---

undangannya sih minum teh, tapi gw ga minum teh sedikit pun. malah minum kopi dan bandrek. yah biarpun gw ga memenuhi undangan tapi gw cukup puas dapet banyak pelajaran menarik dan lagi dapet tempat pelarian sesaat dari hantu2 perkotaan dan perkuliahan.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

trip ujung genteng, jawa barat

Senin, 19 Januari 2009
perjalanan dimulai tanggal 14 januari 09 jam 17.30, setelah seharian nunggu temen rombongan yang nyelesein dulu tugas kuliahnya, akhirnya kami berenam berangkat dengan mobil kijang.

rute perjalanan: bandung - cianjur - sukabumi.

sampe sukabumi kami berenti makan malem dulu trus lanjut lagi rutenya: cidadap - pasawahan - jampangkulon - surade - ujung genteng.

kurang lebih sepanjang perjalanan di daerah pasawahan - jampangkulon tuh tebing-tebing, jalan naik turun, belok-belok. lebar jalan kira-kira pas 2 mobil (kebayang jadinya kalo papasan sama bis/truk) trus jalannya juga banyak lobang di aspal. untuk keamanan, kecepatan rata-rata kami di jalur ini cuma sekitar 30-40 km/jam.

sampe di ujung genteng kira-kira jam 00.20 tanggal 15 januari 09, berarti perjalanan sekitar 7 jam lah. setelah masuk ke penginepan yang udah dibooking sebelumnya, masukin barang-barang lalu beranjak ke pantai.

ternyata di pantai ini banyak banget anjing. awal nyampe pantai udah disambut sama seekor anjing, trus nyusul satu lagi, satu lagi satu lagi dan satu lagi.. terus aja.. untungnya anjing disana ga terlalu galak, malah cenderung "ramah" ke pendatang. pantainya asik, pasirnya putih, banyak karang kecil-kecil, pantainya juga luas bgt. dan yang bikin gw ngerasa sangat beruntung adalah cuaca yang cerah, padahal kata penduduk disana beberapa hari sebelumnya tiap hari tuh ujan. setelah mulai masuk angin akhirnya kami balik ke penginepan dan tidur.

paginya sebelom mulai beraktivitas, kami sarapan dulu. utk menghemat budget kami berusaha ga beli makanan disana tapi
bawa bahan makanan sendiri dari bandung, jadi pas disana kita cuma beli nasi putih. lauknya dimasak sendiri. di penginepan udah disediain kompor dan bisa minjem wajan.

akhirnya siang itu kita habisin dengan jalan-jalan nyusurin pantai sambil foto-foto. menariknya, ada spot di pantai yang merupakan pertemuan jalur sungai ke laut, sayang banget kayanya ga ada yg ngambil fotonya nih.

di pinggiran pantai itu juga banyak karang-karang yang jadi rumah buat kepiting-kepiting, dan asiknya karang ini ga terlalu tinggi jadi kita bisa duduk-duduk disana sambil ngeliat langsung ke arah samudera hindia.

setelah jalan-jalan, duduk-duduk, main air dan ngitemin badan sampe bosen, kami mulai nyari objek berikutnya yang bisa didatengin. kebetulan di depan penginepan kami tuh ada warung jadi kami nanya-nanya disana.

ternyata ada pantai lagi yang viewnya lebih bagus dan pantainya lebih aman untuk berenang, yaitu pantai panarikan (kurang lebih 6 km utara pantai ujung genteng). di pantai ujung genteng ini banyak binatang yang cukup bahaya kalo kesentuh (misalnya: bulu babi). selain pantai panarikan, ada lagi pantai pangumbahan yang pasirnya halus dan dipakai oleh para penyu untuk bertelor, jaraknya kurang lebih 5 km utara ujung genteng. menurut anjuran orang warung, asiknya ngeliat sunset di panarikan trus jam 8 malem liat penyu bertelor di pangumbahan.

track menuju dua pantai itu ga bisa ditempuh pake mobil karena ada jalan yang anjlok karena cuaca dan ditutup demi keamanan. orang warung menawarkan jasa ojek. awalnya kami berencana untuk jalan kaki nyusurin pantai sampai ke panarikan dan pangumbahan, ternyata rencana itu terpaksa batal karena ada dua orang yang sakit (mungkin kecapean dan shock karena perubahan suhu yang drastis).

akhirnya sore itu kami ngliat sunset di pantai ujung genteng aja. pas nyampe pantai lagi, kami cukup terpukau sama keadaannya. laut yang tadinya cukup mempersempit garis pantai ternyata surut sampe jauh banget. ternyata di balik air laut yang kita lihat siangnya tuh ada "dataran rumput laut" yang lumayan jauh.

binatang-binatang laut juga bisa dilihat di daerah rumput laut ini. ada bulu babi, ada mahluk entah apa yang warnanya item ngumpet di dalem pasir, mungkin mirip bintang laut tapi di ujung-ujungnya tuh bentuknya kaya kaki seribu (nah lo, bingung kan?? sama dong). begitu kesentuh binatang itu langsung ngumpet ke dalem pasir, kalo pasirnya digali kayanya dia juga ikutan nggali lebih dalem lagi, jadi ga ketemu-ketemu deh.

ternyata sunset di ujung genteng udah keren banget, jadi mbayangin kaya gimana suasana sunset di panarikan yang katanya lebih keren dari ujung genteng itu.

setelah mulai gelap kami balik ke penginepan lagi untuk makan. kawan kami yang sakit itu belum sembuh juga, jadi akhirnya kami memutuskan untuk naik ojek aja ke pangumbahan untuk ngeliat penyu. biaya ojek ini lumayan mahal juga sih, 40 ribu, tapi si ojek nungguin terus dari berangkat sampe selesainya kita nonton penyu bertelor. foto-foto penyu masih ada di salah satu anggota rombongan (baca: endira, woy bagi dong foto2nya atau nggak upload lah di fb!!!)

besok siangnya, gw jalan nyusurin pantai sendiri, kebalikan arah penyusuran kemarinnya. gw ketemu tempat parkir perahu nelayan-nelayan. selebihnya, emang sepanjang pantai itu pemandangannya ga beda jauh sama pantai yang persis di depan penginepan gw. akhirnya gw balik lagi ke penginepan dan check out jm 15.30.

perjalanan pulangnya kami ga lewat track yang sama dengan pas berangkat. kali ini rutenya: ujung genteng - surade - pasawahan - cimenteng - bojonglopang - cikembar - sukabumi. sepanjang rute pasawahan-cikembar pemandangannya jauh lebih bagus daripada track pasawahan-cidadap. di track ini tebing-tebingnya keliatan lebih curam (sebenernya lebih rawan sih) tapi banyak ngelewatin kebun teh. suasananya mirip suasana di puncak, cuma jalannya lebih kecil. kami nyampe di bandung lagi jam 22.30-an, kira-kira track berangkat dan track pulang makan waktu yang sama, yaitu 7 jam.

walaupun ada beberapa objek yang ga sempet kami datengin, tapi after all untuk gw pribadi, gw cukup puas dengan perjalanan ini. pemandangan di pantai ujung genteng aja udah mantep banget dan sangat bisa merefresh otak yang penat abis ujian. apalagi ditambah dengan fenomena cuaca cerah selama kami disana (sama sekali ga ada ujan) yang bikin pemandangan khas pantai bisa kami lihat tiap saat.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

penangkaran penyu - pantai pangumbahan, jawa barat

Sabtu, 17 Januari 2009

Perjalanan ke penangkaran penyu kira-kira berjarak 5 km dari penginepan (di pantai ujung genteng), kalo jalan bisa makan waktu 1 jam, klo naik ojek makan waktu 15 menit. Setelah nyampe kita ngisi buku tamu dan bayar bayar 5 ribu per orang. Setelah administrasi beres kita langsung jalan ke pantai, kebetulan ada penyu yang lagi bertelor. Tapi pas kami nyampe ternyata dia udah selesai nelornya. Sambil nunggu penyu lain kami ngobrol2 sama petugas pengambil telor.


Setelah itu kita dikasih tau bahwa ada penyu lain yang baru mulai bertelor, kita langsung menuju lokasi sambil nyalain senter, gelap bgt pantainya! Eh di jalan kita disuruh sama petugas disana untuk matiin senter karena klo ada cahaya penyu2 pada ga jadi ke pantai. Pas nyampe di sana ternyata emang si penyu baru mulai nelor, baru ada 5 telor yang keluar. Lama banget ga keluar2 lagi telornya sampe kita mikir mungkin si penyu keganggu sama kehadiran kita. Eh ga lama mulai keluar lagi telornya.


Setelah penyu itu selesai nelor, kita balik lagi menuju “ruang administrasi”. Disana disimpen anak2 penyu yang udah dimasukin ke dalam tong. Abis ngobrol sama petugasnya sebentar dan main2 sama anak2 penyu, kita memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang lagi ke penginepan kita naik ojek yang sama dgn pas berangkat dan setelah nyampe kita bayar 40 ribu per orang. Si ojek nih emang nungguin terus selama kita disana, mau sampe pagi juga dia akan nungguin terus, bayaran tetap 40 ribu untuk “paket perjalanan ke penangkaran penyu” berapa pun waktunya.



---------



Telor penyu ditetaskan di dalam pasir, kedalaman kira-kira 30-40 cm dari permukaan pasir. Setelah menetas penyu2 ini naik ke permukaan pasir dan langsung menuju lokasi adanya cahaya, dan mencari suhu kamar (25-27 oC). setelah menetas, penyu2 ini dimasukin ke sebuah tong yang udah diisi pasir sampe ¾ tong. Suhu di tong itu dipertahankan suhu kamar. Tongnya ditutup biar ga terlalu banyak cahaya lampu yang masuk, klo tongnya dibuka penyu2 itu langsung jadi agresif berusaha utk keluar.


Dari lahir sampe kira-kira 3 hari penyu makan dari cadangan makanan yg ada di tubuhnya. Pada hari ketiga penyu dilepas ke laut, selama 1 taun berikutnya keberadaannya ga bisa diketahui. Setelah lewat 1 taun, penyu2 itu nyari laut terdalam, nyari makanan, dll. Dari 100 penyu yang dilepas ke laut, kira-kira hanya 10-20 penyu yang bisa bertahan hidup, sisanya mati oleh predator. Penyu makan rumput laut.


Pada umur 20 taun penyu nelor pertama, 2 minggu kemudian nelor lagi, sampe beberapa kali nelor trus udahan. Umur dikira-kira dari panjang punggungnya, umur 20 taun itu panjangnya rata2 sekitar 90 cm. sampe umur 3 hari, panjang penyu kurang lebih 4-5 cm. kmrn ada penyu (yang bertelor) yang panjangnya sampe 1 meter, kira2 umurnya berarti 22,2 taun (seumuran gw nih kira2).


Jam 20.00, langit udah mulai gelap dan pada jam segitu juga laut mulai pasang. Penyu mulai sampai ke pantai, mungkin dia sekalian nebeng arus ke pantai. Penyu merangkak ke pantai yang tidak berkarang, pasirnya halus banget, untuk bertelor. Setelah nemu lokasi yang (kira2 menurut sang penyu) tepat, dia mulai menggali pasir. Jika tiba2 ada akar atau kayu pada lobang galiannya, penyu itu trus pindah nyari tempat lain dan mulai menggali lagi. Jika ada cahaya, penyu itu juga berhenti menggali dan pindah ke tempat lain yang benar2 gelap. jika setelah beberapa kali menggali dan terus menemukan gangguan, penyu ini kembali ke laut dan kembali esok harinya untuk bertelur.


Setelah nemu tempat yang tepat, lobang udah digali, penyu langsung pasang posisi. Lucunya, sebelom bertelor, penyu juga “mengejan”, pantatnya naik-turun dua kali, pas turun yang kedua telornya keluar. Sekali bertelor penyu bisa ngeluarin sampe 80 telor. Pas bertelor ini, ada air mata yang keluar dari mata sang penyu, entah karena sakit atau capek atau sedih atau terharu. Pas lagi bertelor, diusahakan tidak ada cahaya sama sekali, kalo mau nyenter juga nyenter dari belakang biar dia ga terlalu sadar lagi disenterin. Gangguan cahaya dan pergerakan disekitarnya bisa bikin si penyu ga jadi bertelor. Tapi penyu ga terganggu dengan suara, ternyata doi tuli..


Setelah beres bertelornya, penyu nimbun telor2nya itu dengan pasir (nutup galian lobang yang dia buat pas awal sblm bertelor). Kira2 dari awal dia nongol dari laut, nyari posisi kira2 butuh waktu 1 jam, bertelornya 1 jam, nutup galian mungkin 1 jam juga (gw sampe bosen nungguin dia nutup galian doang).


Ternyata jumlah penyu yang bertelor tuh juga ada musimnya. tapi sayangnya gw lupa nanya musim ini dipengaruhi sama apa.


baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------