kau

Jumat, 05 Oktober 2012

aku suka
ketika aku menanyakanmu
setitik kata,
kau pun membantaiku
jutaan kata

aku suka
ketika aku menoleh
dan menikmati sisi wajahmu
yang diam menatap jendela
mengukir makna dalam logika

aku suka
ketika aku termangu
kau usik lamunanku
dengan lambaian senyum
dan tawaranmu yang biasanya mengenyangkan

aku suka
ketika aku membalik kata
kau balikkan lagi dengan kalimat
dan ketika kubalas dengan paragraf
kau katakan sekelebat kata
disertai tanda tanya
dan ketika kuceritakan sbuah cerpen
kau pun membalasnya dengan sebuah novel
dan akhirnya kita bercerita
tentang semua

dan aku suka..


baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

sinetron pailit

Sabtu, 15 September 2012

ga sengaja tiba2 nemu berita ini Pengadilan.Pailitkan.PT.Telkomsel, akhirnya lanjut googling2 tentang kasus telkomsel prima.

-> syarat pailit: punya utang yg jatuh tempo ke 2 kreditur atau lebih.
-> kondisi: telkomsel punya utang yang udah jatuh tempo ke prima jaya dan extent media indonesia.
-> hasil sementara: telkomsel kalah tapi belom selesai, masih mau ngajuin kasasi.

ngikutin berita2 itu ky nonton film. ada 2 pihak yang punya kepentingannya sendiri2, trus kepentingannya ternyata ada senggolan, dan mulai berantem. terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang bener (peduli amat!), lucu aja ngamatin jalan cerita berantemnya.

kita bayangin tiap pihak yg disebut2 di berita2 itu masing2 sebagai objek.

*naro sebungkus sampurna ijo ke atas meja ( -> objek A ) 
dan sebungkus samsu ( -> objek B).

ada objek A, ada objek B.
objek A dan objek B janjian maen bareng, temenan.
udah setengah jalan, menurut objek B, objek A ngelanggar perjanjian.
langsung dipukul sama objek B.
panggil objek ketiga, jadi penengah.

*naro asbak ke atas meja ( -> objek C )

objek C ngasih tau lagi aturan2 maennya.
objek B nyeritain kejadiannya, trus ngasih tau juga kerugian2nya, menurut dia.
objek A nyeritain juga kejadiannya menurut dia.
biar lebih meyakinkan simpatinya, objek B nyeritain kalo ada objek D yang ikut dirugiin juga.

.... *objek A speechless (untuk sementara)

ngeliat objek A ga bisa ngelawan lagi, objek C memutuskan kalo objek A KO. objek B menang.
trus ada objek lain

*naro toples makanan ke atas meja ( -> objek E)

ternyata objek E ini yang melingkupi objek A.
objek E ngasih statement politis yang cenderung ngasih semangat ke objek A.

--
kalo di scene setelah objek A kalah sampe datengnya objek E kita sisipin sebuah kalimat dari objek A "gw bilangin bapak gw loh!", berarti plot penokohannya bisa jadi -> A=anak kecil 1, B=anak kecil 2, C=orang agak gedean dikit, D=temennya anak kecil 2, E=bapaknya anak kecil 1.

mau perusahaan gede atau anak kecil, ternyata ga jauh beda kelakuannya. kalo kepentingannya ga terpenuhi trus bawa2 pihak laen yang bisa mbelain, sambil bawa2 nama temennya biar narik simpati, trus yang kalah juga dibelain dikit sama bapaknya yang tetep berusaha jaga wibawa di depan anak2 kecil.

jadi siapa yang salah? ga adakah yang bisa dipersalahkan lagi?
kata pepatah 'tiada rotan, ram punjabi'
jangan2 ini studi pasar utk skenarionya ram punjabi untuk sinetron yang bakal dikeluarin nanti..
entah lah.



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

something must be written

Senin, 23 Juli 2012

something must be written.

why?

udah 3 bulan sejak posting terakhir. bahkan posting di bulan april itu pun sebenernya tulisan lama yang udah sekian lama ngendap di draft :D berarti tulisan terakhir adalah 'what a year', desember 2011. 7 bulan! lama juga ya..

lalu? emangnya knapa juga mesti nulis sering2?

nulis itu perlu konten. trus konten itu mesti dirumusin dulu biar penyampeannya (agak) enak. perumusan dan penulisan konten itu juga butuh waktu, dan yang paling penting = mood :D

keliatannya ga ada masalah dengan konten. selalu ada konten dimana aja, mulai dari konten kerjaan, perjalanan berangkat/pulang kantor, kehidupan seputar kerjaan (lingkungan kerja, becandaan2 sambil kerja, dll). yang cukup jadi masalah adalah perumusannya. konten yang sama, bisa disampein dengan banyak cara. bisa jadi wadah curcol, atau wadah evaluasi, atau bahkan wadah untuk berbagi tutorial.

gw sih pengennya nulisin evaluasi, biar kesannya keren gitu..

tapi sampe sini aja kok malah jadi curhat ya?

suk asu ka ludah.

--

evaluasi.
eva·lu·a·si /√©valuasi/ n penilaian: hasil -- itu hingga saat ini belum diperoleh;
-- penggamakan Min upaya penilaian secara teknis dan ekonomis thd suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya; (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)
kalo menurut gw, evaluasi itu mbandingin langkah demi langkah yang udah kita jalanin, trus dibandingin dengan 'big picture' atau keseluruhan peta. nyambung sama definisi dari kbbi tadi, dengan mbandingin langkah yang kita ambil dengan keseluruhan peta, kita bisa menilai langkah kita udah tepat atau belom. kita salah langkah atau ngga.

kerja di dapur. di tempat produksi. sebagai teknisi. ketemunya sama masalah2 teknis. gimana caranya ngevaluasi hal-hal teknis tanpa jadi semacem laporan ilmiah?

menjelajah di 'dunia baru' banyak nganter untuk ketemu wilayah2 besar yang masing-masing punya 'gaya teknis'nya sendiri2. misalnya programming dan networking. biarpun keliatannya berdekatan, tapi masing2 adalah wilayah yang berbeda, masalah2nya beda, cara nyeleseinnya beda, tools2 yang dipake pun berbeda. tapi ya itu lah konsekuensi logis kalo maen di zona middleware atau perangkat tengah. komunikasi antara 2 aplikasi pasti isinya senggolan2 antara programming dan networking.

coba kita main analogi. entah bener entah salah, yang penting coba digambarin secara general dulu, biar ga terperangkap dalam wilayah detail. menyelam tanpa tau apa yang diselami, cuma nunggu waktu untuk tenggelam. dan kita berusaha menghindari tenggelam :D

bntar2, gimana taunya kita udah tenggelam atau belom?

menurut gw, misalnya ada orang nanya sesuatu, dan kita jawab dengan bahasa yang terlalu teknis (bukan bahasa awam) artinya bisa jadi kita udah tenggelam.

--

lanjut, tiap sistem punya prosedur/program. jaman sekarang, program yang lagi banyak dikembangin sifatnya 'OOP' (object oriented programming). konsepnya sih, pengolahan data 'dilempar-lempar' antar object yang masing-masing punya fungsi spesifik.

hati2 tenggelem lu ntar! pake analogi dong!!

analoginya, misalnya kita beli sate di tukang sate. yang diakses sama pembeli adalah daging. awalnya daging ini (misalnya daging kambing), wujudnya kambing yang ada di peternakan. trus si kambing (masih berwujud kambing) 'dilempar' ke tempat penjagalan. di sini si kambing dengan naasnya disembelih, dikulitin dan dipotong2. trus potongan2nya 'dilempar' lagi ke pasar.

trus potongan daging ini dibeli (misalnya sama istrinya tukang sate) dibawa ke rumahnya, yang dijadiin dapur, ditusuk2, trus disimpen doang atau mungkin dibumbuin. dan kita, dateng ke tukang sate, minta sate. potongan daging yang udah ketusuk2 tadi diambil dari tempat penyimpanan, dibakar, dikemas (disajikan di piring atau dibungkus kertas) dan dikasih ke kita deh.

di analogi itu, yang (mungkin) bisa disebut objek adalah: peternakan, kambing, penjagalan, pasar, istri tukang sate, rumah/dapur, tukang sate, dan kita. 'data' yang diolah/diakses adalah: daging kambing.

kita ambil dua object, kita anggep sebagai sistem. pasar dan rumah.
begitu potongan daging sampe pasar, si pemilik lapak naro potongan2 daging di tempat tertentu, kalo ada pembeli, potongan2 yang dipilih akan ditimbang dan dikasih harga. aktivitas ini adalah prosedur atau program.

program pertama adalah naro potongan di tempat tertentu. tinggal nunggu 'trigger' utk jalanin program berikutnya yaitu ada pembeli.

ga lama istri si tukang sate dateng, milih2 potongan daging, nentuin beberapa yang mau dia ambil. program 'pasar' jalan lagi ke program berikutnya, yaitu ngambil daging2 yang dipilih dan naro di atas timbangan, trus ngasih harga. setelah program ini selesai, terjadi transaksi, dan daging pun berpindah tangan. data pun berpindah object (dari object pasar ke object istri tukang sate).

--

istri tukang sate adalah object yang tugasnya mbawa data (baca: daging) dari pasar ke rumah. object istri tukang sate ini jadi titik persinggungan antara programming dan networking. bayangin istri tukang sate ini naik busway utk pulang-pergi pasar-rumah.

kalo di programming ada OOP, di networking ada 'routing'. antara pasar dan rumah, ngelewatin beberapa 'router', bisa kali kita anggep halte. tiap halte bisa dilewatin lebih dari satu trayek angkot. halte tertentu 'tertutup' untuk trayek tertentu, jadi tiap trayek angkot rutenya relatif fix. gitu juga dengan jalur routing network tertentu, ada jalur2nya, diarahin sama network administrator.

kalo pake linux, coba aja ketik di command prompt traceroute google.com, atau kalo pake windows ketik tracert google.com. nanti akan keluar list url yang dilewatin sama data request kita ke google.com. atau dengan analogi tadi, akan ditampilin list halte2 yang mesti dilewatin antara pasar sampe ke rumah.

info halte busway -http://www.rutebusway.com/

trace route -windows

mirip kan? :D

permasalahan di networking kira2 misalnya jalur antara terminal lebak bulus sampe pondok pinang macet, lagi jam berangkat kerja. jalur yang disediain ga bisa nampung semua kendaraan yang lewat. kan jalur busway khusus, harusnya ga kena macet dong?? antara terminal lebak bulus dan pondok pinang emang ada jalur khusus busway yg kepisah dari jalur kendaraan biasa? kynya nggak deh. atau misalnya ada bis transjak yang rusak di tengah jalur, berarti bis2 di belakangnya juga terpaksa ikut2an 'ngantre'.

atau kemungkinan problem lain, kalo routernya rusak. atau halte busway tiba2 kebakar. berarti rute bis yang lewat sana mesti dialihkan dulu selama maintenance halte. pengalihannya, kemungkinannya ya jalurnya digabung sama kendaraan2 lain, jadi ikut2an kena macet juga :D

--

itu tadi semua proses di belakang layar.
di depan layar ada user. atau ada pembeli sate. yang fungsinya request dan terima beres.
pokoknya pembeli pengen beli sate, dan yang diharapkan adalah daging yang udah ketusuk dan mateng kebakar, dituker sama duit, lainnya ga urusan.

pas pembeli sate dapet sate yang dia inginkan, berarti bisa kita asumsiin semua proses tadi (baik prosedur2 (ternak, jagal, pasar, dapur) atau network2 (busway)) berjalan dengan lancar.

pas pembeli sate dapet jawaban "maaf mas/mbak, saya ga jualan, dagingnya ga ada..". nah, ini yang mesti diselidiki, dimana letak akar masalahnya kok stok daging kambing ga nyampe ke tukang sate.

semua prosedur atau jalur harus ditelusuri.
1. apakah peternakan udah kekurangan kambing?
2. apakah pejagalan lagi ga produksi? atau masih produksi tapi full fokus ke sapi sehingga kambing2nya dianggurin dulu?
3. apakah pasar lagi ditutup? atau buka tapi lagi janjian ga jual daging kambing?
4. ternak ok, jagal ok, pasar ok. apakah istri tukang sate yang ga pulang2 karena lupa waktu abis maen sama temennya?
5. apakah ada masalah di jalur busway yg dinaikin istri tukang sate?
6. apakah daging di rumah tukang sate hilang/rusak?
7. apakah tukang sate lupa mbawa daging kambing ke tempat jualan?

"Masalah yang lebih pelik adalah terlalu banyak skenario yang mungkin..." -http://sains.kompas.com/read/2012/07/09/16133523/Perburuan.Asal.Alam.Semesta

skenario2 di atas bisa disederhanakan jika ada PIC (person in charge) di tiap poin di atas yang mengecek bagiannya masing2, dan saling melaporkan hasil ceknya dalam satu forum.

--

ketika akhirnya si pembeli marah, dan mengadu ke pemerintah, "oi! gw mau beli sate aja kok susah amat sih?! kenapa ga ada stok sate di tukang sate yang itu?!" sambil nunjuk tukang sate tadi.

dan pemerintah pun menjawab kepadanya dengan tenang, "oh, ini masalah sistemik."
lalu dia nengok ke belakang, ke arah tukang sate tadi dan bilang "selesaikan secepatnya, gimana pun caranya! ini mengganggu stabilitas negara."

dan tukang sate pun pulang sambil termenung mikirin 7 poin di atas. yang dia tau, poin 6 dan 7 bukanlah masalah sebenernya. tapi gimana caranya ngelacak poin2 lainnya dan nemuin akar masalahnya?

okelah, dimana posisi problemnya, masih bisa ditemukan. poin 3, 4, 5 bisa dikonfirmasikan ke istri tukang sate. poin 1 dan poin 2 bisa dikonfirmasi ke masing2 pihak. tapi untuk penyelesaiannya, apakah tukang sate memiliki semua wewenang untuk menyelesaikan semuanya?

misalnya ternyata ditemukan masalahnya ada di poin 5. ada masalah di jalur busway. ternyata masalahnya adalah traffic yang terlalu padat sampe bis transjak pun terpaksa ikut2an kena macet. mungkin karena misalnya ada banyak kendaraan yang nyerobot ke jalur transjak, dan ikut2an bikin macet jalur itu.

apa yang bisa dilakukan tukang sate untuk menghalangi atau mengurangi kendaraan yang masuk ke jalur busway?

"tabah ya bang.."

"makasih mas.."



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

kenalan

Sabtu, 14 April 2012
gimana cara paling efektif untuk mengakrabkan diri? berkenalanlah, berinteraksilah sampai kita kenal dengan sesuatu yang hendak kita akrabkan itu. sejauh mana kita bisa bilang kalo kita udah 'kenal' dengan sesuatu itu?

---

sebelom pertanyaan itu kejawab, tiba2 gw inget kejadian pas gw lagi ngeliatin seorang anak arsitek bikin maket untuk tugasnya. dia bilang saat itu gw bisa bantuin dia bikin existing, yaitu bangunan-bangunan yang ada di sekitar bangunan yang akan dia buat.

existing, exist, eksistensi, keberadaan.

kenapa bangunan di sekitar 'bangunan utama' disebut existing? gw coba simpulin bahwa eksistensi dari sesuatu diukur dari lingkungan tempat dia berada. atau bahasa lainnya: sesuatu dianggep ada kalo dia berada di sebuah lingkungan tertentu. sesuatu itu ngga bisa 'ada' tanpa keberadaan yang lainnya.

sampe sini muncul pertanyaan lain: gimana posisi si sesuatu itu terhadap lingkungannya? ngomongin posisi berarti nunjukin adanya 'pembatas' antara sesuatu itu dengan yang lainnya. kalo ngga ada pembatas berarti si sesuatu itu berada dalam satu bentuk dengan yang lainnya dan berarti mereka adalah satu bangun. berarti ga ada eksistensi. berarti ada sebuah (atau lebih) pembatas antara sesuatu yang membedakan dia dengan yang lainnya.

pembatas yang membedakan. berarti sejauh ini bisa kita simpulin bahwa eksistensi dari sesuatu bisa diukur dengan membedakan dirinya dari yang lain.

---

balik ke definisi 'kenal'.
mengenal orang berarti mengetahui eksistensi dirinya. kalo digabungin sama istilah eksistensi tadi, bisa kita simpulin: mengenal orang berarti membedakan si orang tersebut dengan yang lainnya. tiap orang punya ciri masing-masing, baik ciri fisik maupun nonfisik. keberadaan ciri itulah yang jadi karakter seseorang dan karakter inilah yang jadi keunikan tiap orang.

jadi sejauh mana kita bisa bilang kalo kita udah 'kenal' dengan sesuatu? kita 'kenal' saat kita tau karakter sesuatu itu. jadi gimana cara paling efektif untuk mengenal sesuatu? gali lah karakter dari diri tiap orang. karena tiap orang lahir sendiri dan akan mati sendiri, berarti tiap orang punya jiwanya sendiri, tiap orang punya cirinya sendiri, tiap orang punya karakternya sendiri.

karakter ini akan muncul di tiap tingkah laku orang tersebut. dan kita tau bahwa tingkah laku adalah buah dari hasil pemikiran dan/atau insting orang tersebut. pemikiran dan/atau insting orang akan keliatan dari pilihan-pilihan yang dia ambil.

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

wondering garbage man

barusan ngeliat foto jepretan temen gw yang nampilin seorang pemulung, masih muda, duduk di sebuah tembok pendek di sebelah kiri kakinya ada plastik trashbag, di belakangnya ada beberapa anak muda yang entah lagi ngobrol atau lagi maen catur. yang keliatan di foto ini si pemulung muda lagi nunduk.

menurut gw yang awam fotografi sih foto ini enak diliatnya, bagian yang difokusin dan di-blur-innya pas, sudut pengambilan gambarnya juga enak diliat. gw makin tertarik lagi setelah ngeliat keterangan yang ditulis temen gw di bawah foto itu

"...When i walked pass him, i saw him reading a brochure consist of houses."

entah apa yang ada di pikiran sang pemulung muda itu. mungkin sekedar liat-liat dan mengagumi gambar-gambar rumah itu, atau tebakan temen gw dia bertanya-tanya dalam pikirannya "gimana cara gw bisa ndapetin ini?", atau mungkin juga dia lagi ngebandingin bentuk warna dan ukuran ruangan-ruangan rumah dalam brosur itu dengan tempat tinggalnya saat ini. mungkin lagi dia lagi bertanya-tanya sampah seperti apa yang bisa dia dapetin di sekitar rumah itu.

atau bisa juga dia mbayangin dirinya ada di ruangan-ruangan di rumah itu, menikmati suasana yang bisa tercipta di sana, dan diakhiri dengan sebuah harapan dan keinginan yang kuat untuk memiliki rumah itu (atau rumah seperti itu) suatu saat nanti.

hari ini hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari 'kan tetap menyala
di sini, di urat darahku

- mentari, iwan abdurrahman -

semoga pemulung muda itu mikir seperti kemungkinan yang terakhir gw tulis di atas. semoga harapan itu tetap ada, dan semoga keinginan itu terus terpahat di dalam pikirannya.

sejauh ini gw percaya bahwa keberhasilan seseorang ditentuin dari seberapa kuat keinginannya (atau mimpinya) akan hal tersebut. mungkin (blom pernah gw bahas lebih jauh) mimpi itu yang akhirnya tanpa disadari akan mengatur cara berpikir orang itu, dan kemudian cara berpikir itu akan membangkitkan minat dan rasa ingin tau sehingga akhirnya orang itu akan menjalani proses pencarian ke arah mimpinya itu dan yang menurut gw lebih penting: dia akan menikmati tiap proses itu biarpun rintangan (atau tantangan?) pasti akan dia temui sewaktu-waktu pada saatnya.



baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

jalur pengiriman

Minggu, 01 April 2012

bayangin sebuah kondisi dimana manusia ga bisa bicara langsung dengan tuhannya. mungkin karena jauhnya jarak antara keduanya, atau mungkin karena ada frekuensi yang tertutup antara keduanya sehingga suara yang satu tidak dapat diterima dan diolah oleh yang lainnya. atau mungkin karena perbedaan bahasa sehingga komunikasi tidak dapat diterima dengan baik oleh salah satu pihak, yang ada adalah kesalahpahaman..

ah, apa pun penyebabnya, semua kemungkinan itu akhirnya menghasilkan satu akibat yang sama: yaitu sang manusia ga bisa bicara langsung dengan tuhannya.

manusia mengucap doa. bisa dalam hati, bisa teriak, bisa berupa tulisan, bisa berupa gambar, bisa berbahasa indonesia, bisa berbahasa inggris, bisa berbahasa zimbabwe, bisa berupa apa pun.

seandainya tuhan punya satu bahasa tertentu, yang ga bisa dibayangkan apalagi didefinisikan oleh manusia, mungkin manusia cuman bisa me-label-i bahasa itu sebagai 'bahasa ilahi'. atau seandainya tuhan memiliki frekuensi tertentu untuk menerima segala bentuk komunikasi, dan frekuensi tersebut bahkan belum diketahui eksistensinya oleh manusia. dan seperti biasa, manusia lalu cuma bisa melabelinya sebagai 'frekuensi ilahi' dan seandainya-seandainya yang lain.

manusia ngucap doa, menyatakan kepasrahan, meminta ampun, meminta petunjuk. manusia meminta. manusia mengharapkan 'jawaban' dari tuhannya. kadang kala jawaban itu dirasa tak kunjung datang.

padahal mungkin aja jawaban itu sudah datang beberapa waktu sebelumnya. cuman manusianya aja yang ga bisa nerima atau ngolah jawaban itu. ketidakterhubungan bahasa manusia dengan bahasa ilahi, atau frekuensi manusia dengan frekuensi ilahi.ketersampaian informasi yang tidak kesampaian (halah, ruwet!)..

---

bayangin tuhannya manusia tadi memiliki singgasana di sebuah negri di balik sebuah gunung yang sangat tinggi, yang ga bisa dipanjat oleh manusia, ga bisa dilewatin oleh manusia.

dan malaikat lah yang bisa menjadi perantara antara bahasa manusia dengan bahasa ilahi.

mungkin salah satu solusinya adalah manusia tadi menitipkan doanya ke awan, tepat di atas puncak gunung tinggi yang memisahkannya dengan tuhannya. dan salah satu malaikat di singgasana ilahi akan mengambil doa tersebut dari awan, menerjemahkannya ke bahasa ilahi, dan menyampaikannya ke sang tuhan.

dan mungkin dengan demikian tuhan pun akan dengan leluasa mengolah doa tadi, dan memberikan jawaban, sebuah petunjuk yang diharapkan oleh si manusia. malaikat tadi kemudian akan meletakkan jawaban tuhan tadi ke awan.

dan kemudian mungkin saja ada sesosok malaikat lain, yang bertempat di sisi luar gunung, berada di sisi yang sama dengan si manusia, menyamar sebagai manusia, mengambil jawaban tadi di awan dan menyampaikan ke si manusia dengan bahasa yang dimengerti oleh si manusia.

yah, malaikat ini bisa aja menjelma sebagai seorang bapak, ibu, kakak, adik, teman, guru, atau siapa pun yang bisa menyampaikan pesan tadi dengan baik kepada si manusia. dan akhirnya si manusia itu pun menerima response dari tuhan atas doanya tadi.

dan kehidupannya terus mengalir sebagaimana adanya.
sebuah jalur pengiriman antar dunia. dunia manusia dan dunia ilahi. melalui perantara para malaikat dan standar bahasa yang dimiliki oleh para malaikat itu (yang memang diciptakan demikian oleh sang tuhan tadi).

jalur pengiriman.

---

si subjek meletakkan langsung sebuah pesan di awan. dan dengan seenaknya (bener2 seenaknya) gw istilahkan sebagai 'pelayanan awan', cloud service, atau mungkin dalam konteks informasi, lebih banyak dikenal orang sebagai web service.

pesan yang diletakkan itu adalah sebuah representasi dari apa yang disampaikan oleh subjek. Representational State Transfer, enaknya sih kita singkat aja sebagai REST.

bisa aja pesan itu berupa sekumpulan data request, dalam format tertentu. langsung dikirimkan oleh user melalui protokol HTTP ke alamat (url) tertentu yang terhubung dengan internet. kenapa HTTP? karena hampir semua komputer sekarang memiliki webbrowser, dan semua webbrowser bisa mengolah informasi yang dikirim melalui protokol HTTP.

sesuatu bertugas mengubah data-data yang terkirim tadi ke dalam format xml. kenapa xml? karena xml itu udah jadi sebuah standar bersama mengenai bentuk kemasan data, tujuannya untuk mempermudah pengiriman data antar device.

lalu ada sebuah object yang kita buat untuk mengambil data dari cloud tadi, asiknya sih kita sebut sebagai 'requestClient'. nah si requestClient ini ngambil data berformat xml tadi dan memasukkan nilai2nya ke dalam atribut objek tertentu. object ini kemudian dikirim ke sebuah class lain untuk diproses, dan mengembalikan data-data ke dalam object lain sebagai response.

object requestClient mengambil lagi object response tadi dan mengirimkannya ke webservice untuk response. di sini bisa kita sebut bahwa object requestClient bertindak sebagai 'malaikat dari singgasana ilahi'..

kemudian kita buat sebuah object, misalnya namanya 'responseClient' yang tugasnya adalah ngambil data dari url response tadi dan mengirimkannya kembali ke user. karena kita ga tau pasti si user nge-request dan minta responsenya dalam device apa, asiknya sih kita buat dulu sebuah class 'Adapter' yang tugasnya utk nyesuaiin bahasa/format yang diinginkan oleh user. dan di sini bisa kita anggep Adapter adalah 'jelmaan malaikat yang menerjemahkan bahasa ilahi kepada kita'..

hmm
apaan tuh?

---

jadi ada framework, namanya RESTLet. dia bisa dipake untuk bikin web service tanpa menggunakan SOAP (simple object access protocol). kalo pake SOAP,  ruginya: interoperabilitasnya lebih rendah.

dengan pake sistem REST, interoperabilitas lebih tinggi karena bisa diakses dengan apa aja, selama pengirimannya lewat protocol HTTP. tapi kayanya sih bakal lebih rumit utk ngurusin securitynya (ga tau juga sih, gw belom nyobain securitynya).

dalam RESTLet, web service dinyatakan sebagai sebuah 'resource' dari objek yang mau disimpen di alamat (url) tertentu. dan resource ini diarahkan oleh sebuah terminal/router. dan karena ini adalah aplikasi server, maka pastinja mesti didaptarin tuh terminalnya di web.xml.

---

seandainya bayangan tentang komunikasi antara manusia-malaikat-tuhan emang gitu adanya,
dan seandainya komunikasi make internet sebagai toolnya,
mungkin RESTLet adalah salah satu framework yang bisa digunakan untuk jalur pengiriman informasi(doa/jawaban)nya..

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------

garis lurus

nemu tulisan lama di skecth book :D

dimana pernah ada garis lurus
atau apakah sebenar-benarnya gars lurus itu
bukankah dia adalah rataan dari tiap gejolak
dalam sekumpulan data
yang batasnya ditentukan sendiri
sesuai kepentingan kesatuan ego?

maka marilah kita nyatakan
bahwa garis lurus adalah bentukan ego

sehingga sampai lah kita pada sebuah pertanyaan sederhana
apakah sebenar-benarnya ego itu?
dan kenapa ego itu merasa perlu
untuk mengklaim eksistensi sepenggal garis lurus?

ego dipandang dan nyata dalam sebuah keniscayaan
sama halnya dengan seluruh elemen ketuhanan lainnya
dan dengan keegoisan sang ego, menggambar dan membentuk sebuah garis lurus
sebagai landasan untuk kembali pada bentuk umumnya atas nama tuhan
menjelang dan menjemput kodrat abadinya untuk berpindah, dan
mengembalikan kedaulatan ego kepada energi yang menjadi alasan eksistensinya

lalu kita akan kembali bertanya
jika demikian alasan adanya garis lurus,
dan jika demikian definisi garis lurus,
bagaimana posisi garis lurus terhadap osilasi perilaku sang ego?

osilasi kemudian garis lurus kah?
garis lurus kemudian osilasi kah?
atau bagaimana?

kembali diajukan pertanyaan sederhana,
apakah semua ego adalah sama adanya?

jika tidak,
mari kita biarkan tiap ego menentukan sendiri aturan garis lurusnya
dan biarkan masing-masing mendefinisikannya sendiri

karena pada dasarnya
garis lurus itu adalah rataan dari tiap gejolak
dari ego yang mengalaminya

ditulis di cabe rawit ciumbuleuit, 1 februari 2010

baca selengkapnya..






-------------------------------------------------------------------------------------