siklus, energi dan entropi

Selasa, 02 Februari 2010
setelah sekian lama keliling dan melolong ke seluruh penjuru dunia, tampaknya sekarang saat yang tepat untuk balik ke hutan lagi. duduk di tengah hutan, di tepian sungai sambil nyelupin kaki ke air yang ngalir, ngerasain partikel angin yang semilir berhembus bersandar pada sejumlah besar kisi segi enam, mandangin hijau-hijauan yang bersenda gurau satu sama lain, mbayangin bahwa kehidupan sesungguhnya berjalan diskrit jika didekati tanpa unsur emosi, bahwa keserbamungkinan yang disediakan oleh sang pencipta dapat didekati dengan melihat energi yang terkandung di dalam sistem tertentu itu, bahwa hutan hijau ini memiliki sifat tertentu yang harus dipertimbangkan jika ingin mengubah aspek fungsionalnya demi kepentingan lain yang katanya demi kemajuan dan teknologi, dan bahwa teknologi erat kaitannya dengan material dan sifat-sifatnya terutama yang berkaitan dengan kelistrikannya..

yah, di hutan ini aku hanya mengamati dan membayangkan bagaimana alam ini bekerja. aku sendirian dalam hutan ini, dan oleh karenanya otakku leluasa untuk bergerak bebas.

mbayangin lagi waktu-waktu yang udah terlewati kemarin, selama masa distraksi, seketika aku mbayangin keterkaitan antara motif sistem dengan tingkat kekacauan yang akan dihasilkannya. sesuai bunyi hukum 2 termodinamika yang menyatakan bahwa pada suatu sistem terisolasi entropi (kekacauan) nya akan meningkat mendekati maksimum, yang konsisten dengan hukum pertamanya yang menyatakan bahwa energi yang dimiliki sistem tersebut adalah penjumlahan dari semua energi yang dimasukkan ke dalamnya dengan kerja yang dilakukan kepada sistem itu.

kita artiin 'sistem terisolasi' sebagai sistem yang memiliki energi, dapat menerima energi dari luar, dan tidak melepaskan energi ke lingkungannya.

----------

sekarang kita misalkan sistemnya adalah diri sendiri dan kita andaikan pikiran sebagai partikel yang menyusun keberadaan diri. diri kita adalah bagian kecil dari lingkungan kita (anggaplah lingkungan sosial). terjadi berbagai hal di lingkungan kita maka secara otomatis kita menerima energi (bisa berupa informasi atau emosi). energi itu masuk ke dalam diri kita sehingga energi (informasi atau emosi) dalam diri kita bertambah dan secara alamiah pikiran kita akan bekerja terus menerus sesuai kandungan energi yang dimilikinya.

jika kita menempatkan diri kita sebagai sistem yang terisolasi, bisa kita bayangin pikiran dan emosi yang terus menerus berproses dan bergolak dan berkutat di dalam sistem saja (seputar diri sendiri) lama kelamaan akan menghasilkan entropi (kekacauan) yang makin lama makin tinggi.

apa yang bisa terjadi kemudian?

kita tau energi ga bisa dibuat dan ga bisa dihilangkan. energi akan ngalamin perubahan bentuk. sekarang kita bayangin balon. kalo bagian dalemnya diisi energi tertentu (ga ada energi yang keluar dari balon) lama-lama energi itu akan berubah jadi panas yang akan bikin balon ngembang sampe ukuran maksimalnya dan ikatan pembentuknya ga sanggup untuk nahan tekanan panas sehingga meledaklah balon itu.

diri kita juga punya toleransi tertentu terhadap tekanan. diri kita cukup fleksibel sampai batas toleransi tersebut. dan jika batas toleransi itu terlewati, jangan salahkan alam jika diri kita akhirnya meledak kaya balon tadi.

kasihlah energi kita ke lingkungan. pastikan tiap input energi yang masuk ke dalam sistem diri kita diolah secukupnya dan ada output kembali ke lingkungan kita. biarkan tiap perpindahan energi memiliki sirkulasi yang baik. kita terima informasi atau emosi dari lingkungan, kita olah, dan kita berikan lagi informasi atau emosi ke lingkungan.

--------

dengan konsep yang sama, kita bisa bayangkan hal serupa jika 'sistem'nya adalah organisasi dan 'lingkungan'nya adalah kondisi luar yang menaungi organisasi itu. dan 'partikel' penyusun sistemnya adalah tiap individu di dalam organisasi itu.

atau jika 'sistem'nya adalah kekerabatan, 'lingkungan'nya adalah kondisi sosial, yang lebih luas, yang melingkupi kekerabatan itu. dan 'partikel'nya adalah tiap individu di dalam kekerabatan itu.

atau jika 'sistem'nya adalah negara, 'lingkungan'nya adalah dunia. dan 'partikel'nya adalah semua manusia yang hidup di dalam negara itu.

--------

lingkungan memberi energi ke dalam sistem. energi tersebut menggerakkan partikel dalam sistem. jika energi ga dikeluarkan maka akan mengacaukan partikel sehingga membuat sistem jadi panas dan meningkatkan tekanan dalam sistem. jika energi dikeluarkan dengan baik maka tingkat entropi dapat terkontrol dan kemudian bisa disesuaikan untuk tujuan tertentu dengan baik.

--------

gimana contoh ngelepas energi ke lingkungan? gw coba jawab dengan menggeneralisir perkataan john f kennedy:

" jangan tanyakan apa yang bisa sistem terima dari lingkungannya, tapi tanyakan apa yang bisa sistem lakukan bagi lingkungannya "

dan dengan mengingat bahwa sistem ditentukan oleh partikel dan kandungan energi yang dimiliki oleh partikelnya.


-------------------------------------------------------------------------------------

5 komentar:

osi arutanti mengatakan...

" jangan tanyakan apa yang bisa sistem terima dari lingkungannya, tapi tanyakan apa yang bisa sistem lakukan bagi lingkungannya "

Jadi inget pas dulu awal masuk HIMAFI ..^^..

" jangan tanyakan apa yang bisa kita dapat dari HIMAFI, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan bagi HIMAFI "

bergas bimo branarto mengatakan...

iya si, jangan tanyakan apa yang bisa gw lakukan untuk lu, tapi tanyakan apa yang bisa lu lakukan utk gw. hahaha

Billy the Kid mengatakan...

tulisan yg menarik. bukti klo fisika bkn cuma F=ma, E=mc2, dll. fisika terkait dgn bidang ilmu lainx klo nda mw diblng tubuh segala ilmu. banggalah kita2 ini sebagai mahasiswa fisika :D :buttrock:

bergas bimo branarto mengatakan...

sepakat bil. harusnya sih semua hal yang terlihat (secara fisik) bisa dideketin dengan konsep fisika

nisa mengatakan...

^_^ kereenn!! mantabs

Posting Komentar