sinetron pailit

Sabtu, 15 September 2012

ga sengaja tiba2 nemu berita ini Pengadilan.Pailitkan.PT.Telkomsel, akhirnya lanjut googling2 tentang kasus telkomsel prima.

-> syarat pailit: punya utang yg jatuh tempo ke 2 kreditur atau lebih.
-> kondisi: telkomsel punya utang yang udah jatuh tempo ke prima jaya dan extent media indonesia.
-> hasil sementara: telkomsel kalah tapi belom selesai, masih mau ngajuin kasasi.

ngikutin berita2 itu ky nonton film. ada 2 pihak yang punya kepentingannya sendiri2, trus kepentingannya ternyata ada senggolan, dan mulai berantem. terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang bener (peduli amat!), lucu aja ngamatin jalan cerita berantemnya.

kita bayangin tiap pihak yg disebut2 di berita2 itu masing2 sebagai objek.

*naro sebungkus sampurna ijo ke atas meja ( -> objek A ) 
dan sebungkus samsu ( -> objek B).

ada objek A, ada objek B.
objek A dan objek B janjian maen bareng, temenan.
udah setengah jalan, menurut objek B, objek A ngelanggar perjanjian.
langsung dipukul sama objek B.
panggil objek ketiga, jadi penengah.

*naro asbak ke atas meja ( -> objek C )

objek C ngasih tau lagi aturan2 maennya.
objek B nyeritain kejadiannya, trus ngasih tau juga kerugian2nya, menurut dia.
objek A nyeritain juga kejadiannya menurut dia.
biar lebih meyakinkan simpatinya, objek B nyeritain kalo ada objek D yang ikut dirugiin juga.

.... *objek A speechless (untuk sementara)

ngeliat objek A ga bisa ngelawan lagi, objek C memutuskan kalo objek A KO. objek B menang.
trus ada objek lain

*naro toples makanan ke atas meja ( -> objek E)

ternyata objek E ini yang melingkupi objek A.
objek E ngasih statement politis yang cenderung ngasih semangat ke objek A.

--
kalo di scene setelah objek A kalah sampe datengnya objek E kita sisipin sebuah kalimat dari objek A "gw bilangin bapak gw loh!", berarti plot penokohannya bisa jadi -> A=anak kecil 1, B=anak kecil 2, C=orang agak gedean dikit, D=temennya anak kecil 2, E=bapaknya anak kecil 1.

mau perusahaan gede atau anak kecil, ternyata ga jauh beda kelakuannya. kalo kepentingannya ga terpenuhi trus bawa2 pihak laen yang bisa mbelain, sambil bawa2 nama temennya biar narik simpati, trus yang kalah juga dibelain dikit sama bapaknya yang tetep berusaha jaga wibawa di depan anak2 kecil.

jadi siapa yang salah? ga adakah yang bisa dipersalahkan lagi?
kata pepatah 'tiada rotan, ram punjabi'
jangan2 ini studi pasar utk skenarionya ram punjabi untuk sinetron yang bakal dikeluarin nanti..
entah lah.




-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar