kutu loncat

Kamis, 30 Juni 2011
pacung, 29 juni 2011

sering-sering lah keramas. lama ga keramas, rambut jadi keras, kutu pun berkembang bebas. dan ternyata serunya lagi, kutu pun bebas loncat kesana kemari termasuk ke sarung bantal dan ini yang nyusahin. biarpun udah keramas sering2, kalo di sarung bantal udah sampe ada kutunya, tetep aja si kutu akan loncat2 ke rambut dan bikin gatel lagi.

tapi tenang aja, bagi kalian yang jarang keramas, posting ini tidak akan cerita tentang kesengsaraan kalian garuk2 kepala. itu urusan masing2.

gw inget waktu di kampus. tentang tingginya wacana tentang betapa buruknya 'kutu loncat'. istilah bagi mereka-mereka yang sering pindah-pindah tempat kerja. dikisahkan tentang rendahnya loyalitas mereka, betapa oportunis mereka karena selalu nyari tempat-tempat baru yang lebih menguntungkan.

hmm..
manusia dan kutu..
kenapa ya istilah 'kutu' yang dipake untuk manusia-manusia pekerja yang 'nomaden' itu?

apakah istilah 'kutu loncat' juga bisa dipake untuk manusia purba yang hidup berpindah-pindah tempat? mereka pemburu, ketika mereka bermigrasi ke suatu tempat, pasti mereka nyari hewan buruan untuk dimakan. ketika jumlah hewan buruan mulai menipis (atau mungkin habis) mereka pindah ke tempat baru yang masih banyak 'stok' hewan buruan. setelah kenal pertanian baru deh mereka menetap dan bertani.

pasti ada suatu alesan kenapa analogi 'kutu' yang digunakan. coba kita liat kelakuan kutu.

kutu adalah parasit. dia cuma ngambil dan ngambil aja, dia ga ngasih keuntungan apa pun untuk kepala dan/atau sarung bantal yang dia tinggalin. dia kerja, nyari makan untuk dirinya sendiri. dan dari sudut pandang yang dihinggapinya, ada gangguan dalam bentuk gatal atau rambut rontok.

apakah pekerja di sebuah perusahaan juga begitu? mungkin. bisa aja. tergantung apakah dia cuma sekedar nyari gaji dan/atau ilmu tanpa ngasih keuntungan apa-apa untuk perusahaannya, atau malah kehadirannya malah ngerugiin perusahaan. itu balik lagi ke personalitinya. tiap orang punya alesan-alesan yang berbeda tentang perpindahannya. sehingga pastinya ga bisa digeneralisir bahwa mereka semua bisa dianalogiin sebagai 'kutu loncat'.

---

dengan asumsi bahwa tiap perusahaan pasti punya standar tertentu dalam pemberian tanggungjawab pada pekerjanya.

gimana dengan pekerja yang fokus pada peningkatan karirnya (sejalan dengan peningkatan gajinya) yang juga berarti peningkatan tanggungjawab di perusahaannya? maka berarti tujuan peningkatan karir (dan gaji) juga sejalan dengan baktinya (tanggungjawabnya) terhadap perusahaannya. dia pasti dianggap menguntungkan perusahaannya.

pada kasus kaya gitu, loyalitas akan otomatis terbentuk selama pemberian hak dan kewajibannya seimbang dan/atau visi si pekerja sejalan dengan visi perusahaannya. konteks loyalitas yang digunakan adalah ikatan profesionalisme (sesuai tuntutan di dunia kerja/profesi). yang akhirnya akan menerima tanggungjawab(jabatan/gaji) lebih tinggi adalah pekerja yang memiliki inisiatif lebih baik dari yang lain.

di contoh kasus itu, si pekerja akan pergi dari perusahaannya jika ternyata perusahaan menuntutnya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme/visinya atau jika si pekerja merasa hak yang diterimanya tidak sesuai dengan kewajiban yang diembannya terhadap perusahaan. hak bisa termasuk gaji/fasilitas, dan juga ilmu.

-

contoh kasus lain, seorang pekerja njalanin tugasnya tanpa inisiatif. tapi dia nyelesein kerjaannya sesuai request. tepat waktu, mungkin agak ngaret2 dikit, tapi selesai sesuai kehendak sistem, artinya kerjaannya beres, ga langsung fix tapi mungkin setelah beberapa perbaikan yang telah diuji oleh testernya. ga di atas standar, tapi ga di bawah standar, pas2an lah. dia kerja lumayan lama di perusahaan itu, tanpa kenaikan gaji (pasti ada lah bonus2 mah).

dia menuntut kenaikan gaji mengingat bahwa dia telah ada di sana sekian lama. untuk kasus ini, yang bisa jadi masalah adalah visi masing2. visi pekerja - bahwa kenaikan gaji harus dihitung dari durasi dia bekerja, tidak harus diikuti dengan kenaikan tanggungjawab. dan visi perusahaan, bisa jadi sesuai dengan visi pekerja tadi, atau bisa juga beda yaitu kenaikan gaji harus disesuaikan dengan kenaikan tanggungjawabnya untuk perusahaan itu.

kemungkinan orang itu akan pindah adalah karena perbedaan visi itu, setelah melewati negosiasi.

-

contoh kasus lain lagi, seorang pekerja yang kerjaannya harus dikejar-kejar terus sama pimpinannya karena dia terlalu lambat untuk perusahaan itu. bisa jadi karena pekerjanya emang lambat atau perusahaannya yang terlalu cepat, kembali lagi ini masalah standar yang dimiliki sama perusahaan itu. maka yang bisa jadi masalah adalah masalah kecocokan cara kerja, jika pekerja ingin bertahan di sana maka dia harus mempercepat cara kerjanya, atau perusahaan memang berhak memberhentikannya, sesuai etika profesional.

kemungkinan perpindahan si pekerja itu adalah karena dia mengundurkan diri untuk pindah ke perusahaan lain yang sesuai dengan gaya kerjanya.

atau kemungkinan lainnya adalah perusahaan memecatnya karena kecepatan kerjanya justru menimbulkan kekacauan pada sistem yang dimilikinya.

---

pada kemungkinan yang terakhir disebutin atas, baru deh analogi 'kutu' rasanya cocok untuk diterapkan:
1. kutu ga bermaksud dengan sengaja untuk ngerugiin manusia yang dihinggapinya, sama dengan si pekerja tadi yang ga bermaksud dengan sengaja untuk menghambat sistem kerja perusahaan.
2. kutu ga sadar bahwa dia ngeganggu dan dia ga ngerasa perlu pergi walaupun udah bikin gatel kepala manusia, sama dengan si pekerja tadi yang ga ngerasa perlu ngundurin diri walaupun udah ngehambat sistem kerja perusahaan.
3. akhirnya kutu diusir dari kepala dengan cara dikeramas, sama dengan si pekerja tadi yang diusir dari perusahaan dengan cara dipecat.

sampe sini bisa disimpulin bahwa pada kenyataannya, tiap perusahaan pasti ngambil keuntungan dari pekerjanya. dan pasti tiap pekerjanya juga ngambil keuntungan dari perusahaannya. jenis simbiosis ini kan termasuk mutualisme, jadi keliatannya analogi 'kutu' yang parasit ga bisa digeneralisir untuk sesuai dengan semua konteks pekerja yang berpindah-pindah tempat. analogi ini akan cocok untuk digunakan bagi pekerja yang berpindah-pindah karena dipecat dari tempatnya bekerja.

gimana pun juga
mau jadi seorang idealis yang berpindah tempat,
mau jadi seorang visioner yang berpindah tempat,
mau jadi seorang sadar lingkungan yang berpindah tempat,
mau jadi kutu yang berpindah tempat,
atau ga mau pindah pindah,
semuanya adalah pilihan.


-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar