ocehan-ocehan 2006

Sabtu, 30 Mei 2009

kekacauan alam pikiran

July 6th, 2006 by mazbergaz


aku sedang mencoba berdiri tegak di tempatku sekarang ini… menatap langit dan tetap memastikan kakiku masih berjejak di bumi.. bumiku bergetar, seakan ingin menumbuhkan suatu gunung yang baru, tepat di bawah pijakanku.. langit yang kupandangi pun ikut-ikutan bergetar, seperti siap bertambah luas dan makin meninggi… makin goyahlah aku..


dalam kepanikan dan membabibutanya sikapku, terpikir sekilas dan langsung kularikan diriku kembali ke rumah, yang nyaman, hangat, dan penuh perasaan… disinilah aku sekarang, lalu aku menyadari bahwa tidak semua langkah yang diambil secara tergesa-gesa (tanpa pikir panjang) akan mengakibatkan hal yang tidak baik…


selama ini dalam pikiran gw, untuk bisa dapet sesuatu yang bagus kita harus memikirkannya dulu baik-baik… ternyata itu tidak berlaku pada setiap orang, ada banyak karakter manusia dan ternyata semua tidak bisa disamaratakan. buat beberapa orang, pertimbangan yang terlalu dalam malah akan membuat dia tidak bergerak, terus berpikir dan berpikir dan berpikir… justru akan lebih baik kalau dia mengandalkan instingnya, asal nyemplung aja, ntar kalo ada masalah dan butuh pilihan ya tinggal nyemplung lagi aja…


mungkin terkesan orang ini nekad atau bodoh atau gila atau tidak punya prinsip. tapi sebenernya seluruh rangkaian pilihan yang dia pilih berdasarkan insting itu tidak akan berubah-ubah, karena insting tertuai dari sebuah karakter dan alaminya karakter tiap orang ada kecenderungan lebih besar untuk tidak berubah daripada berubah-ubah… awal pembentukan karakter dimulai dari prinsip, yang lama-lama jadi kebiasaan dan jadi bagian dari gaya hidup.. dan satu hal lagi, bahwa kita hidup di dunia nyata, bukan sekedar alam pikiran atau alam pertimbangan.. banyak pertimbangan tapi tidak melakukan apa-apa sama aja boong…


inti dari semua yang gw sampaikan tuh sebenernya simpel aja:
1. gw cuma mau nyoba bikin blog
2. gw ga tau mau nulis apa
3. terima kasih udah baca


-----

kenapa ada “kenapa”

July 29th, 2006 by mazbergaz


banyak hal baru berseliweran di depan mata gw sekarang. dari yang (ternyata) ga tau apa-apa, sekarang sedikit banyak gw mulai tau kehidupan seperti apa yang sedang gw jalanin. rumit. tadinya gw berpikir untuk bawa nyantai aja smua yang terjadi (walaupun salah), sekarang tiba-tiba muncul keinginan untuk memikirkan itu semua, dan merencanakan sebuah perubahan. paling nggak, dari gw yang dulu dan sekarang, gw mau perubahan untuk gw di depan.


……bingung mau nulis apa……


lingkungan gw meneriakkan tentang pergerakan, kemahasiswaan, cinta, pembelajaran… kalo mereka semua udah memikirkan dan mencoba untuk mewujudkan itu, berarti gw harus mengambil peran gw di tempat lain. mungkin gw akan meneriakkan eksistensialisme. atau esensialisme. hal-hal yang sering dilupakan sama orang2. 
ilmu pengetahuan muncul karena satu lambang yaitu "?". dimulai dari "kenapa". sekilas mungkin tampak bodoh menanyakan "kenapa" untuk setiap hal, kesannya kita ga tau apa-apa, padahal kita 
memang ga tau apa-apa.. dan sejauh perjalanan hidup gw, kita hidup untuk mencari tau "kenapa begini", "kenapa begitu" dan kenapa2 yg lain. suatu saat pertanyaan kita itu terjawab, tapi jawaban itu hanya berlaku untuk momen itu aja, ga ada kebenaran yang bernilai mutlak. 

satu hal yang mutlak adalah apa saja yang udah kita lakukan di hari yang lalu. tapi esensi dari apa yang kita lakukan itu benar atau salah, itu relatif. "kenapa itu benar?", "kenapa itu salah?". lagi2 "kenapa"… 

kenapa sih gw nulis kaya gini?
kenapa sih kita ada?
menurut gw kita ada untuk menjawab pertanyaan "kenapa sih ada "kenapa"?" saat kita menemukan jawaban dari "kenapa" untuk tiap hal, berarti kita telah mengetahui semua hal, dan ga ada cukup waktu untuk bisa menjawab itu semua..


dari dulu, sekarang dan nanti, kita akan terus berada dalam masa pencarian, masa pembelajaran. makanya ada istilah "never too old to learn". karena kita emang akan belajar terus. hal-hal baru akan terus terjadi dan kita berarti belajar hal baru lagi..

kenapa juga kita harus belajar?
kenapa kita harus tanya kenapa?
gw ga tau kenapa, tapi gw yakin saat udah banyak "kenapa" yang terjawab oleh kita, kita akan merasa superior dan percaya diri saat berhadapan sama orang lain.


kenapa bisa gitu?


-------

in harmonia progressio

August 17th, 2006 by mazbergaz


Saat suatu slogan
berbunyi tanpa dibarengi dengan maknanya, aku membuat kesimpulan bahwa sang
pembaca bebas membuat suatu kesimpulan sendiri berkaitan dengan slogan
tersebut. Saat aku baca “in harmonia progressio”, hal pertama yang kebayang
olehku adalah suatu pergerakan atau proses yang berharmoni atau
berkesinambungan atau seimbang. Kesimpulan umum yang kubuat adalah “pergerakan
yang seimbang”.


Aku adalah seorang mahasiswa. Kita tau bersama bahwa mahasiswa memiliki potensi, posisi dan peran dalam kehidupan. Dan dari kehidupan sehari-hari aku menangkap ada tiga pergerakan yang dialami manusia secara umum, yaitu : akademis, organisasi dan cinta. Sesuai slogan yang tertera di atas, berarti ketiga pergerakan tersebut harus berjalan seimbang.


Potensi mahasiswa bisa dikategorikan sebagai : iron stock (generasi penerus), agent of change (pembawa perubahan), guardian of value (penjaga nilai). Dan posisi kita ada tiga yaitu : sebagai manusia, bagian dari masyarakat, civitas akademika. 


Berdasarkan segala potensi dan posisi kita itu, maka kita memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari.


Potensi-potensi yang ada di atas cenderung lebih mengarah ke pergerakan mahasiswa dalam hal  akademis dan organisasi. Akan sangat baik jika dua peran itu berjalan lancar karena kita sebagai mahasiswa memang diharapkan oleh masyarakat untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi bagaimana dengan cinta? 

Slogan “in harmonia progressio” mengharapkan mahasiswa untuk bergerak secara harmonis, dan ada unsur cinta juga tertuang di sana.


Potensi, posisi dan peran mahasiswa tidak mencakup unsur cinta. Apakah mahasiswa dianggap belum pantas untuk terlibat dengan cinta? Apakah cinta dianggap mengganggu peran mahasiswa? Memang banyak kejadian dimana cinta mengganggu peran individu (dalam hal ini mahasiswa) untuk bebas bergerak, tapi tidak sedikit juga seseorang mendapatkan semangat untuk bergerak setelah mendapat dukungan moral dari cinta.


Dalam kasus seperti ini apakah cinta hanya sekedar dianggap sebagai pelengkap
atau penambah semangat? Setau aku, cinta lebih dari sekedar itu, baik bagi
mahasiswa maupun manusia pada umumnya.


……………………..aduh ga jelas gini, maap yak……………..


--------

the life of mine

August 17th, 2006 by mazbergaz


Hari-hariku
berjalan senada dengan sinusoida kehidupan. Pada satu medium lurus, hari-hariku
berjalan merambat naik turun secara bergiliran dan dalam ritme yang teratur.  Kurva itu bergerak teratur, bahkan sangat
teratur. Dalam tiap momentum, aku berpikir bahwa pergerakan itu tercipta karena
kontrol yang kubuat sendiri. Ternyata bukan begitu kondisinya.


Seperti adanya suatu sistem kontrol yang melingkupi, saat aku bergerak terlalu ke atas ada yang menahan dan lalu menurunkan lagi ketinggianku. 


Terus aku bergerak turun, saat akan turun terlalu jauh dari medium standar, sesuatu itu mengaktifkan suatu sistem yang mendorongku dengan gaya berlawanan dengan grafitasi sehingga aku terdorong lagi ke atas dengan kecepatan konstan. Begitu terus.


Tidak stabil?


Salah besar. Justru di situlah letak kestabilannya. Kurvaku berjalan seperti
sistem on-off, dimana grafik berjalan naik-turun dengan amplitudo konstan, tapi
lama kelamaan berubah menjadi sistem proporsional, dimana grafik naik-turun
tapi perlahan aplitudonya mengecil hingga mendekati nol. Saat amplitudo
mendekati nol, maka grafik dikatakan mendekati “settle point”.


Bayangkan bahwa diatas medium standar adalah warna putih polos, dan di bawah medium standar adalah warna hitam polos. Dengan adanya kontrol tadi aku tertahan untuk tidak berjalan ke arah putih polos yang membosankan dan menyilaukan. Dan aku juga tidak berjalan terus ke arah hitam pekat yang mencekam dan mengancam. 


Aku diatur untuk memadukan keduanya sehingga grafikku memiliki warna paduan hitam abu, tapi membentuk pola hitam dan putih yang sangat menarik.


Saat grafikku mulai melonjak-lonjak tanpa aturan yang menahan, saat itu 15<20> dinyatakan dalam satuan tahun, hanya ada satu sistem kontrol yang menjaga perpaduan hitam dan putih dalam sinusoida hidupku. Cuma dia yang menjagaku dari perang politik hitam-putih. Dia membawaku tetap objektif melihat dua perbedaan itu dari luar sehingga aku tidak terlibat penuh di dalam kehampaan keduanya.


---------

pembodohan

August 24th, 2006 by mazbergaz


Seseorang berkata dengan lantang bahwa kita harus memerangi segala bentuk pembodohan. Kita sebut saja namanya joksan (bukan nama sebenarnya). Dia menyerukan pada khalayak bahwa pemaksaan dan kekerasan adalah salah satu bentuk pembodohan, dan hal itu harus ditolak mentah-mentah. Ada suatu waktu ketika khalayak telah mendengar dan memikirkan tentang hal itu, mereka memilih untuk mengikuti sebuah program yang disusun oleh kakak-kakaknya, dan program itulah yang disebut oleh joksan sebagai satu bentuk pembodohan. Kita sebut saja program itu sebagai OSKM (bukan nama sebenarnya).


Program yang bertemakan “belajar, sadar, kontribusi” dan berkegiatan bakti sosial masyarakat itu ditujukan sang kakak kepada adik2nya dengan tujuan agar sang adik memahami segala masalah yang terjadi di lingkungan sekitar kehidupannya dan mampu berkontribusi nyata untuk memberikan solusi. Dan pilihan untuk mengikuti program itu diserahkan sepenuhnya pada si adik, tanpa paksaan sedikitpun dari sang kakak. Joksan, yang kebetulan berposisi sebagai kepala di institusi tersebut melarang sang adik untuk mengikuti OSKM. Adik2 yang telah memutuskan untuk ikut OSKM (setelah melalui segala bentuk pertimbangan pribadi) diancam oleh joksan bahwa kalau mereka ikut OSKM, status mereka sebagai warga baru institusi tersebut akan dipertimbangkan.


Dengan hebatnya sang adik tetap teguh dengan hasil pemikirannya sendiri untuk tetap ikut OSKM. Joksan tidak terima anak barunya diberi “pembodohan” seperti itu, dia pun mengambil jalan lain yaitu dengan mengancam sang kakak akan dipecat dari institusi jika tetap menjalankan program tersebut. Tetap dengan alasan joksan tidak mau anak barunya menerima “pembodohan” dari sang kakak.


Kini program telah terlaksana, tanpa pemaksaan, tanpa kekerasan. Bakti sosial masyarakat tetap dijalankan dengan minimnya peserta. Tetapi joksan tetap akan memecat sang kakak walau telah ada bukti nyata hasil positif dari program tersebut dengan alasan sang kakak tetap melaksanakan program “pembodohan” walaupun telah dilarang. Lingkungan kini bersih, khalayak sadar dan siap berkontribusi untuk semua masalah di lingkungan.


Ada empat pertanyaan mendasar muncul dari pikiranku: 
1. pembodohan apa yang kami lakukan?
2. joksan ingin menghentikan pembodohan dengan metode pembodohan?
3. kenapa kreativitas kami harus dimatikan?
4. bisakah kita bersatu untuk memberikan solusi tentang masalah ini?


Semua yang kita lakukan dilandasi tujuan memberikan yang terbaik untuk tuhan (bagi yang percaya), bangsa dan almamater. Kita insan ilmiah yang selalu bersikap objektif, berpikiran jernih dan terbuka untuk mendiskusikan perbedaan. Kita tidak menginginkan sebuah peperangan, yang kita butuhkan cuma kejelasan dan kebenaran.


----------

idealisme

August 24th, 2006 by mazbergaz


Idealisme didasari kata ideal. Kita punya suatu pikiran atau ide tentang suatu hal dan menjadikannya sebagai parameter kondisi ideal menurut kita. Idealisme yang kuat, itu bagus. Malah sangat bagus. Kita terus pertahankan hal-hal yang menurut kita benar dan kita jadi ga mudah kebawa arus. Dengan idealisme yang tinggi dan kemampuan bersosialisasi yang bagus, kita akan mampu membuat orang menjadi memiliki idealisme yang sama dengan kita dan lama kelamaan kondisi ideal menurut kita itu akan terwujud. Semua dimulai dari idealisme.


Seseorang dikatakan sebagai “pejuang” karena dia berani membela idealismenya apa pun resikonya walaupun dia tidak mendapat dukungan dari pihak lain. Ada suatu kejadian dimana si pejuang berada di dalam sebuah sistem yang kuat dan sistem itu bergerak berlawanan dengan idealismenya. Bayangkan rezim suharto dimana tiap ada sedikit suara tentang perlawanan, sumber suara itu langsung dieksekusi. Sistem ini mirip seperti rezim suharto walaupun hanya sebatas ruang lingkup kecil, anggaplah universitas.


Dia ingin terus mempertahankan idealismenya, tapi kalau sampai terdengar oleh pengendali sistem, dia akan di keluarkan dari sistem itu. keluar aja dari sistem! Ga segampang itu, orangtuanya udah ngeluarin banyak biaya untuk dia bertahan di sistem itu. dan satu hal lagi, sistem itu merupakan salah satu sistem dengan output terbaik dan memudahkan outputnya untuk memperoleh kehidupan yang layak.


1. terus pertahankan idealismenya dan beresiko dieksekusi?
2. menyesuaikan diri dengan realita walaupun berarti terpaksa menghilangkan idealismenya?


-----------

obyektivitas

September 5th, 2006 by mazbergaz


Salah satu cara mendapatkan keadilan adalah dengan tetap bersikap obyektif dalam memandang semua hal. Kebenaran tidak bernilai mutlak. Semua hal memiliki dua nilai; benar dan salah. Dari satu sudut pandang mungkin suatu hal bernilai benar, tapi menurut sudut pandang yang lain hal itu adalah salah.

Obyektif adalah keadaan dimana kita memandang semua hal sebagai obyek, dan kita berada diluar obyek itu sehingga bisa melihat dengan sudut pandang netral, tidak memihak. Dengan itu kita bisa melihat semua fakta dan menilai benar atau salahnya. Sikap obyektif berarti kita terus mempertanyakan “kenapa benar” dan “kenapa salah”.


Jelas kita ga bisa terus bersikap netral tanpa memihak. Kita pasti butuh sesuatu untuk dijadikan pegangan. Hal yang menjadi pegangan kita adalah (pasti) sesuatu yang membuat kita nyaman. Untuk itu kita harus menghentikan pertanyaan “kenapa benar” dan “kenapa salah” karena pertanyaan itu ga akan ada habisnya dan kita ga akan pernah menemukan satu hal yang mutlak kebenarannya. 

Dari semua data yang udah kita peroleh dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kita bisa memilih yang mana yang paling membuat kita nyaman. Dan pilihan kita itu tentunya yang paling baik untuk kita.


Berarti kita ga obyektif dong?

Bukan gitu. Kita udah punya pegangan yang terbaik untuk kita. Dan pegangan itu adalah yang paling benar untuk kita. Yang perlu dipertimbangkan adalah: semua orang telah melewati proses masing-masing untuk mendapatkan pegangan masing-masing. Dan semua orang memilih yang terbaik dan paling nyaman untuk diri masing-masing. 

Terbaik untuk kita bukan berarti terbaik untuk orang lain. Nyaman untuk kita bukan berarti nyaman untuk orang lain. Akan ada banyak sekali perbedaan karena proses pencarian bagi masing-masing orang berbeda.


Sikap obyektif berarti kita mengakui sudut pandang orang lain, bahwa apa pun yang mereka pilih adalah yang terbaik untuk mereka. Dan pilihan mereka benar untuk diri mereka sendiri, sama seperti pilihan kita benar untuk diri kita sendiri. Kita akan merasa nyaman kalau kita telah menemukan pilihan yang tepat untuk diri kita, itu adalah privacy kita dan kita sangat bebas untuk memlih. Begitu juga dengan orang-orang lain yang mungkin memiliki pilihan berbeda dengan kita. Dan pada saat diri kita merasa nyaman, kita tidak akan merasa perlu mempermasalahkan apa pilihan orang lain.


Kondisi “tentram” tercipta bukan karena kita semua punya pilihan yang sama, tapi karena kita bersikap obyektif dan mengakui perbedaan masing-masing orang. Satu hal lagi yang paling penting adalah kita semua punya satu tujuan, yaitu tetap menjaga obyektivitas diri kita masing-masing.


-----------

pelacur

September 5th, 2006 by mazbergaz


semua orang tuh ngelacur; ada yang ngaku, ada yang ga ngaku..


intinya adalah semua yang kita lakukan pasti mengharapkan timbal balik, entah dalam bentuk materi atau pujian atau mengharapkan pamrih suatu hari atau mengharapkan kepuasan pribadi. ga pernah ada sesuatu yang tulus yang kita lakukan.


Temen kita ada kesulitan, kita pasti tergerak untuk bantuin, karena ada suatu perasaan bahwa suatu saat kalau kita kesulitan akan ada orang yang bantuin atau kita menginginkan kepuasan karena teman kita ga kesulitan lagi. Sangat manusiawi. Orang kerja untuk dapet uang untuk menuhin kebutuhannya. Orang belajar untuk dapet ilmu. Orang menolong untuk dapet pertolongan.


Istilah “tulus” berarti kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan apa2. Bullshit kalo orang bilang cinta itu tulus. Saat kita cinta seseorang kita pasti akan mengharapkan kalo orang itu juga punya perasaan yang sama dengan kita, atau paling tidak kita mendapatkan rasa puas karena memberi sesuatu ke orang yang kita sayang. Dalam suatu pertemanan pun kita pasti ngambil sesuatu dari temen kita. kita selalu ngambil manfaat dan keuntungan dari semua yang kita lakukan. 

Agama pun mengajarkan bahwa kita harus mengambil hikmah dari yang telah terjadi. Kita selalu ingin “mengambil” dan “mendapatkan” sesuatu dari semua hal yang terjadi terutama yang kita lakukan.


Berarti istilah “tulus” adalah suatu istilah untuk hal yang ga pernah terjadi?
Trus buat apa ada istilah “tulus”?


-----------

istirahat

September 5th, 2006 by mazbergaz


Semua orang butuh istirahat.
istirahat = berhenti mengerjakan apa yang sedang kita lakukan, tujuannya untuk me-refresh energi yang keluar. Ada kalanya orang tidak bisa istirahat, otak terus melakukan kegiatan. Mungkin otak sedang mencari solusi bagaimana caranya untuk istirahat. Otak sedang mencari cara untuk menghentikan kegiatan.


sehingga, istirahat berarti kita harus berhenti cari cara untuk menghentikan kegiatan. Hal itu adalah suatu proses. Proses = kegiatan, berarti kita harus menghentikan itu juga. Jadinya kita harus menghentikan diri untuk berhenti cari cara menghentikan kegiatan. Padahal itu juga suatu proses, jadi kita harus berhenti menghentikan diri untuk berhenti cari cara menghentikan kegiatan, dan seterusnya.


Kalo diurutin jadinya:
0. cari cara menghentikan kegiatan (selanjutnya cukup disebut ‘kegiatan’)
1. menghentikan kegiatan.
2. berhenti menghentikan kegiatan.
3. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
4. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
5. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
6. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
7. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
8. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
9. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
10. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
11. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
12. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghen……..


Ada yang mau gantiin aku untuk ngelanjutin ga? Aku pengen istirahat nih, udah pagi……..


-----------

emosi

September 5th, 2006 by mazbergaz


Segala macem emosi harus dicurahkan atau dilampiaskan dalam bentuk apa pun. Sesuatu jika terlalu banyak ditahan maka akan menimbulkan tekanan yang makin lama makin besar, sehingga akan meledak sewaktu-waktu. Dan ledakan yang tiba-tiba biasanya menimbulkan efek kerusakan yang lebih panjang daripada ledakannya sendiri, baik untuk ‘sesuatu’ itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.


Untuk beberapa orang, emosi sering diidentikkan dengan kemarahan. Bagi mereka pelampiasan emosi yang paling tepat adalah membuat keributan atau perkelahian. Mereka akan merasa puas kalau pelampiasan mereka bisa membuat mereka menjadi lebih superior dari yang lain. Untuk beberapa orang lain lagi, ada yang memilih untuk diam dan melampiaskannya dengan memikirkan kenapa mereka bisa merasakan emosi, dengan alasan yang obyektif. Dengan demikian mereka tau hal-hal yang membuat mereka emosi dan di lain waktu mereka bisa menghindari penyebab emosi itu atau memikirkan cara yang lebih efektif untuk melampiaskan emosi mereka, sehingga mereka bisa mengontrol emosi mereka.


Tipe pertama mungkin akan tepat dilakukan jika kita masih hidup di jaman purba, sebelum manusia menyadari kalau dirinya memiliki otak.


Kita semua setuju dengan pernyataan “musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri”. Tipe pertama lebih senang melampiaskan emosinya pada orang lain, padahal musuh terbesarnya adalah diri mereka sendiri, jadi bisa disimpulkan mereka adalah orang-orang pengecut yang ga berani ngelawan musuh utamanya.


Tipe pertama punya pola pikir:
Kejadian -> emosi -> pelampiasan -> akibat -> bagaimana pertanggungjawabannya?


Tipe kedua:
Kejadian -> kenapa dan bagaimana harus beremosi? -> pelampiasan -> akibat -> tanggung jawab.


Terlihat banget tipe kedua memiliki kemampuan berpikir tiga tingkat di atas tipe pertama. Jika kita berani mengaku bahwa kita adalah manusia modern maka kita pun harus mengikuti perkembangan otak seperti mengikuti perkembangan teknologi. Makin tinggi tingkatannya berarti makin modern. Sejauh ini banyak dari kita yang selalu berkata kita adalah manusia modern tapi hampir tidak pernah membuktikan itu pada dirinya sendiri.


Mungkin aku termasuk tipe pertama, atau kedua, atau bahkan mungkin tidak diantara keduanya. Tapi itu ga penting untuk kalian, dalam hal ini aku ga harus membuktikan apa pun pada orang lain. Aku cuma perlu buktikan itu pada diriku sendiri.


-------------

doa

September 21st, 2006 by mazbergaz


Doa, selain berisi permintaan kepada tuhan, juga bisa
diisi dengan ungkapan syukur. Permintaan bisa macam-macam, tapi secara umum
bisa disimpulkan bahwa permintaan itu bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang
lebih baik.


Tuhan maha tau, berarti dia tau masa depan kita juga.


Gimana bisa tau, kejadian juga belom? Berarti dia dong yang mengatur semuanya…
Tuhan maha baik, berarti semua yang dia atur untuk kita adalah yang terbaik
untuk kita. Jika kita menyampaikan suatu permintaan dalam doa berarti kita meminta
sesuatu yang sebetulnya udah dia atur untuk kita. Kemungkinan lain kita meminta
perubahan dalam ‘garis’ yang udah dia atur untuk kita.


Semuanya tentang kehidupan kita udah diatur olehnya, lalu untuk apa lagi kita meminta sesuatu? Selain itu Tuhan maha baik kan? Berarti yang telah dia atur pun pasti sesuatu yang baik untuk kita. Kalo kita minta perubahan dari ‘garis’ yang dia buat untuk kita, berarti nunjukin kalo kita ga percaya bahwa dia udah ngasih yang terbaik dong?


Kita dikasih kehidupan dan kelebihan sama tuhan, udah sepatutnya kita bersyukur dan berterima kasih. Aku pake analogi manusia. Saat seseorang memberi sesuatu pada yang lain, orang itu akan lebih seneng kalo pemberian itu digunakan dengan baik daripada kalo si penerima terus-terusan ngomong makasih. Berarti cara terbaik kita untuk ungkapkan syukur ke tuhan adalah dengan memaksimalkan dan memanfaatkan kelebihan-kelebihan dan kehidupan yang dikasih dengan cara yang kongkret dalam kehidupan sehari-hari, ga perlu melalui doa.


Manusia emang ga bisa disamain sama tuhan karena manusia jauh lebih rendah daripada tuhan. Tapi kalo manusia aja lebih seneng pemberiannya digunakan dengan baik daripada sekedar ngomong makasih, apalagi dengan tuhan yang jauh lebih bijak daripada manusia…


Trus sebenernya apa sih makna ‘doa’ itu?


-------------

surga

September 21st, 2006 by mazbergaz


Dikatakan surga itu adalah sebuah tempat dan atau suasana
dimana kita bisa dapetin semua yang kita inginkan. Tempatnya bagus dan tentram.
Semua yang kita butuhkan tinggal diambil aja. Ga ada permusuhan, semua yang ada
disana ramah satu sama lain. Pokoknya oke banget deh… Untuk bisa sampe ke
surga, kita harus bertingkahlaku baik, Saling menghargai satu sama lain, saling
menolong, dan lain-lain (pokoknya PPKN banget lah!).


Hal itu merupakan konsep, bukan fakta, karena tidak ada yang bisa membuktikan kebenarannya.


Sebenernya surga itu udah ada (diciptakan sama tuhan) atau kita diciptakan untuk menciptakan surga?


Bayangkan kalo semua orang udah ngikutin ajaran tuhan, keadaannya pasti
tentram, aman, selalu ada kemudahan di sana-sini, ga ada permusuhan. Suasana
kaya gitu kan sama kaya yang digambarkan tentang surga.


Banyak orang yang kalo ditanya tujuan hidupnya akan menjawab bahwa dia ingin masuk surga. Mereka mengatakan bahwa mereka dikasih kelebihan sama tuhan untuk dimaksimalkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya (sebagai ungkapan syukur), sehingga pas mereka meninggal mereka akan masuk surga. Mungkin ga kalo kelebihan yang dikasih tuhan ke kita tuh untuk dimaksimalkan dan tujuannya untuk mewujudkan konsep surga dalam kehidupan kita.


Kalo emang gitu berarti manusia menciptakan surganya sendiri.


Jiwa adalah energi. Saat kita mati, jiwa kita tidak lagi bersatu dengan raga. Dikatakan yang akan pergi ke surga adalah jiwa kita. Berarti jiwa kitalah yang akan merasakan kenikmatan surga. ‘rasa’ dimiliki oleh otak. Saat jiwa tidak bersatu dengan raga (otak adalah bagian dari raga) berarti jiwa tidak memiliki ‘rasa’ sehingga tidak mungkin merasakan sesuatu termasuk kenikmatan surga. Berarti kita hanya mungkin merasakannya hanya selama kita hidup.


Kalo diambil kesimpulan, berarti surga berada di dalam kehidupan kita, sebelum kita mati. Melihat keadaan dunia sekarang, terlihat masih jauh dari konsep surga. Berarti jika tujuan hidup kita adalah merasakan kenikmatan surga, maka semua yang kita lakukan (didasari ajaran tuhan) bertujuan untuk menciptakan surga. Kitalah yang harus menciptakan surga, melalui tingkah laku kita. 


Gitu bukan?


-----------

puasa

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Puasa adalah satu cara menahan diri dalam menghadapi godaan apa pun. Bulan puasa adalah satu masa dimana kita melakukan puasa selama 30 hari. Puasa diwajibkan oleh beberapa agama, tujuannya jelas untuk menahan diri dari emosi selain itu kita diharapkan bisa merasakan dan mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak seberuntung kita.


Ada beberapa keuntungan dengan berpuasa di bulan puasa:
bisa menahan diri
penghematan
kesan -> suasana tarawih bersama, saur bersama, buka bersama (intinya suasana kebersamaan)

apakah proses menahan diri hanya bisa dilakukan dengan berpuasa di bulan puasa? Apakah hanya dengan berpuasa di bulan puasa kita bisa mengerti perasaan orang-orang yang kurang mampu? Apakah penghematan hanya bisa dilakukan dengan berpuasa di bulan puasa? Bulan puasa memang berkesan, tapi apakah kita hanya bisa mendapatkan kesan itu dengan berpuasa?


Maaf kalo ada yang tersinggung, tapi aku tegaskan ini bukan intervensi terhadap agama tertentu, aku cuma orang yang tidak tau apa-apa dan sedang mencoba mencari tau… kalo ada yang mau membantu aku akan sangat berterima kasih.


------------

curhat

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Kenapa sih susah banget untuk mengungkapkan sesuatu ke orang lain? Pengen banget aku bisa share ke orang-orang. Banyak orang di sekitarku yang berkali-kali bilang ke aku kalo mereka siap nerima cerita atau keluhan atau apa pun yang ganggu pikiranku. Aku juga udah coba untuk ngeluarin pikiranku ke mereka, tapi seringkali aku susah untuk ngeluarin kata-kata.


Banyak orang yang bilang itu terjadi karena aku ga percaya sama orang-orang itu. Aku coba untuk percaya sama orang-orang di sekitarku, banyak waktu aku habisin sama orang-orang (kepercayaan muncul dari rasa kebersamaan), tapi tetep aja aku paling Cuma bisa cerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan kuliah atau pengalaman lucu aja. Masalah yang jadi beban pikiranku ga bisa ikut keluar. Entah nyangkutnya di mulut atau di otak.


Pernah aku udah niatin untuk cerita sama orang-orang terdekatku, aku udah siapin runtutan permasalahan untuk diceritain, tapi pas baru mau cerita tiba-tiba langsung blank. Ilang aja semua yang udah disiapin, aku jadi kaya bingung sama masalahku sendiri (padahal tadinya udah jelas masalahnya).


Mungkin itu sebabnya aku jadi agak sering nulis di blog, karena aku lebih gampang untuk nulis. Proses nulis itu sendiri buat aku kaya’ lagi cerita sama orang. Dan aku bisa nempatin diriku sebagai orang lain yang mendengarkan ceritaku dan ngasih pendapat dari sudut pandang berbeda.


-------------

anarki

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Manusia selalu ingin memperoleh yang terbaik untuk hidupnya. Saat kondisi lingkungannya tidak sesuai dengan kondisi ideal, maka manusia pun akan berusaha melakukan suatu perubahan. Tentunya ke arah yang lebih baik menurut masing-masing orang.


Dalam proses melakukan perubahan itu, ada kalanya kita terpaksa menggunakan sistem anarki, yaitu kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal itu kita lakukan karena kita menganggap hukum yang berlaku itu tidak sesuai dengan tujuan kita sehingga tidak perlu diperhatikan apalagi ditaati. Dan itu berarti kita menginginkan dibuatnya suatu hukum baru.


Menurutku hal itu bagus karena kehidupan selalu berkembang, tujuan tiap-tiap orang pun ikut berkembang (bukan bergeser), sehingga hukum atau aturan yang dibuat pun harus ikut berkembang. Karena banyaknya pihak yang menginginkan perubahan dengan tujuannya masing-masing, maka perubahan yang dicapai akan merupakan titik tengah dari semua keinginan tersebut. Hal itu merupakan keadilan untuk semua elemen yang menginginkan perubahan, disitulah terletak demokrasi.


Sangat disayangkan dalam sistem demokrasi ini ada beberapa pihak yang menyuarakan aspirasinya dengan tujuan yang selalu berubah-ubah. Saat pemimpin menerapkan A, oknum itu akan meneriakkan anti-A. Saat telah ditetapkan anti-A, mereka menginginkan B. Akhirnya pemimpin menerapkan C sebagai titik tengah antara anti-A dan B. Mereka tetap ngotot meneriakkan B. Saat akhirnya semua elemen (termasuk pemimpin) mengalah dan menerapkan B, mereka menginginkan A dengan berbagai alasan. Terus aja begitu.


Pernah kutanyakan sama salah satu dari mereka, mereka mengatakan bahwa mereka menginginkan perubahan. Perubahan ke arah mana? Mereka bilang tujuan mereka adalah perubahan itu sendiri. Tidak ada tujuan jangka panjang. Mereka merasa bangga jika bisa membuat perubahan, tidak peduli perubahan itu ke arah lebih baik atau malah mundur, yang penting ada revolusi. Dan mereka mengatakan bahwa revolusi diciptakan oleh warga negara yang baik, sehingga mereka berarti merupakan warga negara yang baik. Warga yang menuntut dibuatnya suatu ketetapan sistem untuk bersama, tapi mereka juga yang ingin mengubah-ubah ketetapan yang telah ditetapkan sesuai keinginan kelompok mereka sendiri.


Pertanyaan yang muncul: mereka merasa bahwa mereka idealis, tapi apa sebenarnya idealisme mereka? Perlukah suara ‘bunglon’ mereka didengar oleh pemimpin?


--------------

demokrasi

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Sistem demokrasi adalah suatu sistem yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia. Ada kebebasan bicara, bebas berpendapat. Tapi rawan terhadap munculnya masalah (baca tulisanku yang berjudul anarki). Masih perlukah sistem demokrasi dipertahankan di Indonesia?


Beberapa orang nasionalis yang kutanya menjawab bahwa sistemnya sudah bagus dan harus dipertahankan, hanya orang-orang yang melaksanakannya saja yang merusak.


Dalam sistem demokrasi, berarti pelaksananya adalah seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak suara. Berarti seluruh warga negara Indonesia adalah bagian dari sistem, mereka adalah penggerak sistem. Jika dikatakan sistemnya sudah bagus berarti oknum-oknum yang ada di dalamnya telah melaksanakan tugasnya dengan baik.


Dalam pelaksanaan sistem demokrasi di Indonesia, tidak berarti rakyat menyuarakan suara pada pemerintahan yang ada, tapi menggulingkan pemerintahan yang ada dan menggantinya dengan pemimpin baru yang memiliki tujuan sama dengan kelompok tertentu. Dalam kasus seperti ini, yang aku lihat adalah Indonesia butuh seorang tokoh pemimpin yang kuat.


Demokrasi menerapkan pemerintah yang mewujudkan aspirasi rakyat, berarti pemimpinnya adalah rakyat. Dengan banyaknya pemikiran dari masing-masing warga negara (yang dalam pelaksanaannya saling menjatuhkan) berarti sistem pemerintahan akan terus terombang-ambing dan tidak maju-maju. Tapi hal itu tidak akan terjadi jika negara dipimpin oleh satu orang yang kuat dan konsisten. Perlu ada struktur kepemimpinan yang jelas dan keputusan harus berada di satu orang.


Aku tidak mengatakan bahwa aku mendukung kepemimpinan otorisasi militer. Aku hanya menganggap bahwa pemerintahan seperti itu akan mempermudah pelaksanaan sistem pemerintahan. Yang paling kita butuhkan adalah pelaksanaan yang bagus, bukan sekedar sistem yang memiliki konsep bagus tapi buruk dalam pelaksanaan.


---------

kentut

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Kentut. Proses ngeluarin gas dari dalam tubuh melalui anus. Kentut melambangkan kesehatan, berarti ga ada gas yang terjebak di dalam tubuh, tapi kenapa sering dipermasalahkan karena dianggap ga sopan?


Kentut berbunyi karena anus masih rapat sehingga saat ada aliran gas yang lewat, gerbang anus menimbulkan getaran dengan frekuensi cukup tinggi. Makin rapat anus, maka makin tinggi frekuensi yang dihasilkan, menghasilkan nada yang makin tinggi juga. Orang-orang sering diketawain karena kentutnya bunyi, hal itu aneh karena orang-orang seharusnya menghargai orang yang kentutnya bunyi. Selain menunjukkan orang itu masih “sehat”, kentut bunyi juga menunjukkan bahwa si orang yang kentut berani mengakui dirinya mengeluarkan gas.


Orang-orang yang kentutnya ga bunyi lah yang harusnya ditertawakan, hal itu membuktikan kalo dia “hardcore” (anus terlalu lebar untuk menghasilkan getaran). Selain itu si pengentut juga ga berani mengakui dirinya mengeluarkan gas, tapi merugikan orang lain di sekitarnya dengan menebarkan kebusukan.


Ada perbedaan antara bunyi kentut orang Indonesia dengan orang bule. Orang Indonesia bunyinya “du…t” makanya namanya ‘kentut’, kalo orang bule bunyinya “pre…tt” makanya namanya ‘fart’.


Maap, ga penting.. ga bisa tidur nih, lagi masuk angin juga kayanya…


-------------

lagi pengen nulis

October 2nd, 2006 by mazbergaz


Lagi pengen nulis.. enaknya nulis apa ya?


Tentang kemahasiswaan. Pasti ujung-ujungnya ntar mbahas soal pemilu HIMAFI yang terancam dualisme (sukses dan gagal sekaligus). Atau lokakarya kemahasiswaan ngomongin perlu atau nggaknya kabinet KM dipertahankan. Atau nyambung ke masalah institut yang berstatus BHMN. Atau soal apatisme mahasiswa-mahasiswi Institut Taman Bermain. Btw, ntar mesti njelasin lagi apa itu apatisme… atau yang lebih parah lagi kalo nyangkut ke masalah akademis, bahaya…


Tentang kenegaraan. Kira-kira bakal ngebahas tentang lumpur Lapindo, tapi ntar repot lagi nyari datanya.. kalo ngebahas tentang korupsi udah bosen dan ga jelas mau nyalahin siapa.. ngomongin demokrasi udah pernah. Ngomongin komunisme (mentang-mentang udah tanggal 30) juga udah bosen.. ngomongin kudeta udah dipikirin orang thailand.. tentang sistem pendidikan yang masih nyari jati diri, kayanya sih ntar bakal nyambung ke soal BHMN juga, soalnya gw ga tau tentang anak sekolah.. ah itu mah ntar masuknya ke kemahasiswaan…


Tentang eksistensialisme. Halah, filsafat gituan nyapein doang, ntar ujung-ujungnya juga ngomongin tuhan..


Tentang teknologi. Kayanya seru nih, tapi mau mbahas apa? Kaya ga nyadar aja gaptek! Soal otomotif gw cuma tau kalo sekarang lagi dikembangin mobil hibrida, nyangkok mobil biar ntar beranak sendiri.. oya, tentang sepeda aja.. jadi ceritanya gw lagi nyari sepeda gunung yang harganya 300ribuan, framenya pake per, garpu depan juga pake per, rem depan belakang cakram, velk carbon, ban radial yang alurnya keren.. ada gitu sepeda gituan 300ribu? Ngarang… oya kamera digital! Jangan deh ntar kepikiran kamera gw yang ga bisa nyala…


Tentang cewek. Waaahhh, kalo soal ini mah seribu satu malem mbahasnya, lagian ntar isinya sensor semua, percuma juga deh…


Tentang kesehatan. Apa ya? Yang pasti perokok pasif punya resiko lebih bahaya daripada perokok aktif. Eh, tadi samsoe gw mana yak? Tunggu, kesehatan identik juga sama olahraga, ntar keinget sepeda lagi… kalo gitu jangan olahraga, tapi keringet. Ah, ntar sensor lagi… oya, flu burung! Ah, ntar inget sangkar besi jadi inget OSKM, kemahasiswaan lagi dong, males ah! Btw, burung koak makannya apa yak? Trus koq tainya banyak banget, berarti dia makannya banyak juga.. tainya bau banget lagi, ngalahin bau tai kuda!


Tentang kejadian hari ini. Halah, isinya nyampah doang! Lagian ntar keinget kalo gw ga bisa tidur lagi sekarang.. udah jam 03.35 nih, masih seger… trus kalo kepikiran pemilu gimana? Nambah pikiran lagi ntar, ga usah lah…


Ah, ga jelas gini… ntar aja deh nulisnya…


-----------

October 8th, 2006 by mazbergaz


Kenapa kuliah? Biar memudahkan untuk kerja.
Kenapa kerja? 1. Biar bisa kaya.
                        2. biar smua kemampuan bisa tergunakan

1. Kenapa harus kaya?
       1.1 biar hidup nyaman. 
                 kenapa harus hidup 
nyaman?

       1.2 biar bisa berbagi sama yang kurang mampu. 
kenapa harus berbagi sama yang kurang mampu? biar ga ada kesenjangan.
kenapa harus ga ada kesenjangan? Biar semua orang bisa hidup nyaman.
kenapa semua orang harus hidup 
nyaman?

2. kenapa kemampuan harus tergunakan? Karena udah dikasih
       Kenapa harus dikasih? Biar memudahkan kehidupan
       Kenapa kehidupan harus mudah? Biar nyaman
       Kenapa harus 
nyaman?


Nyaman tuh apa sih?


-------------

manusia dan tuhannya

October 8th, 2006 by mazbergaz


Atom adalah bagian terkecil dari suatu benda. Ada suatu energi yang menggerakkan atom-atom pada suatu benda. Di dalam atom itu pun terdapat partikel-partikel bermuatan yang juga bergerak berotasi terhadap pusatnya.


Yang aku tangkep sih kesannya atom-atom itu seperti tata surya. Mari kita bayangkan, satu atom adalah satu sistem tata surya, dimana ada galaksi-galaksi. Di dalam satu galaksi terdapat bintang, planet dan benda-benda langit lainnya. Di dalam salah satu planet itu ada mahluk seperti kita yang namanya ‘anusia’.


‘anusia’ bertingkah laku seperti kita, punya emosi, punya pikiran. ‘anusia’ menggunakan pikiran mereka dan juga mengakui adanya satu energi yang sangat berpengaruh pada kehidupan mereka, sebagai tuhan mereka. Bayangkan kehidupan mereka, planet mereka, galaksi mereka, berada pada satu atom yang menyusun tubuh manusia. Bayangkan atom itu adalah atom penyusun upil.


Berarti ada mahluk seperti kita, dengan ukuran sangat kecil, berada di dalam upil kita. Jika kita ngupil, sesuatu akan terjadi pada mereka. Jika kita mengeluarkan upil kita dari hidung, sesuatu akan terjadi pada mereka. Demikian pula jika kita membuang upil itu. Semua yang kita lakukan berpengaruh pada mereka. Mereka tidak tahu siapa kita, tapi mereka merasakan energi kita yang menghasilkan perubahan bagi mereka. Mereka menganggap tuhanlah yang mengatur, padahal ternyata kita yang mengatur. Kita adalah tuhan bagi mereka.


Mungkin ga kalo kita (manusia) ternyata berada dalam posisi yang sama dengan ‘anusia’? tata surya kita (yang masih belum jelas) ternyata merupakan bagian penyusun upil sebuah mahluk yang selama ini kita anggap sebagai tuhan, padahal mahluk itu pun merupakan bagian dari upil sebuah mahluk yang lebih besar lagi.


Yang pasti manusia tidak lebih sempurna daripada ‘anusia’, hanya ukuran manusia lebih besar aja. Dan karena kebetulan ‘anusia’ berada dalam upil kita, makanya kita menganggap ‘anusia’ sebagai mahluk yang lebih rendah dari kita. Kalo aja ‘anusia’ merupakan bagian penyusun otak kita, kita pasti akan menganggap ‘anusia’ sangat hebat dan tanpa ‘anusia’ kita tidak akan bisa berpikir dan berkegiatan, sama aja kaya mahluk mati.


Siapa tau manusia adalah bagian dari bagian penyusun sel otak ‘tuhan’?


---------------

share

October 17th, 2006 by mazbergaz


Kenapa kita bisa
tau bahwa kita hidup?

Karena ada orang
lain yang mengakui keberadaan kita.


Kenapa kita tau
orang lain mengakui keberadaan kita?

Karena kita
berinteraksi dengan orang lain.


Interaksi terjadi karena kita saling memberi. Ngobrol berarti kita saling memberi cerita, diskusi berarti saling memberi pendapat, berkelahi berarti saling memberi pukulan, debat berarti saling memberi bantahan dan pembenaran. Selalu ada saling memberi. Berarti kita harus bisa memberi sesuatu kepada orang lain di sekitar kita.


Bayangin si A berdiri diam di pojok ruangan, ruangan itu diisi beberapa orang yang saling ngobrol. Awalnya orang-orang ga akan merhatiin si A karena A tidak memberi sapaan atau hal apa pun kepada orang-orang yang ada di sana. Tapi lama-lama orang-orang akan menyadari kehadiran A karena mereka mungkin merasa penasaran dan/atau curiga pada si A yang terus diam. Mereka menyadari keberadaan A karena si A memberi mereka rasa penasaran atau rasa curiga karena sikapnya.


Kita hidup karena pengakuan dari orang lain. Pengakuan diperoleh dari memberi. Berarti kita hidup karena memberi, sehingga untuk bisa terus hidup kita harus terus memberi. Dan kita jelas ingin hidup, berarti harus memberi. Kesimpulannya kita hidup untuk memberi.


Seandainya ada orang lain yang butuh kita secara keseluruhan, berarti kita juga harus memberikan hidup kita? Sama ga sih “hidup untuk memberi” dengan “memberikan hidup kita”?


--------------

help

October 17th, 2006 by mazbergaz


Menolong orang lain adalah hal yang sangat baik dan udah seharusnya kita lakukan. Tapi apa sebenernya parameter ‘menolong’ itu?


Menolong berarti kita membantu orang lain melakukan hal yang tidak dapat dikerjakannya sendiri. Orang melakukan pekerjaan untuk memperoleh tujuannya.


Seorang guru selalu ngelarang muridnya untuk nyontek dan ngasih contekan, dengan alasan kalo muridnya ngasih contekan ke temannya berarti dia menjerumuskan (tidak menolong) temannya itu. Dan untuk menolong temannya berarti harus dengan membiarkan temannya itu berusaha sendiri.

(Misal : murid 1=A, murid 2=B)

Ada yang aneh tuh. Istilah menolong berarti membantu orang lain memperoleh tujuannya. Kalo tujuan B sekolah adalah sekedar untuk dapet nilai dan ijazah, jika A ngasih contekan, berarti A menolong B. Kalo tujuan B adalah untuk nyari ilmu, berarti A emang salah kalo ngasih contekan.


Balik lagi ke soal parameter menolong. Jika menolong adalah berdasarkan tujuan, tujuan siapa yang dipake? Tujuan orang yang minta pertolongan atau tujuan orang lain? Menurut B, yang penting dia dapet nilai dan ijazah, masalah ilmu bisa dia dapet dari kehidupan. Tapi menurut si guru, sekolah itu untuk cari ilmu. Kalo si A sih netral-netral aja.


Salah ga kalo A ngasih contekan?

1. (lupain semua peraturan yang ada, karena peraturan dibuat untuk membantu kelancaran sistem, berarti bukan murid matuhin apa pun peraturannya tapi peraturan harus dibuat adil untuk kepentingan dan tujuan tiap muridnya)
2. (semua orang punya pemikiran sendiri-sendiri dan tiap orang juga tau yang terbaik untuk dirinya sendiri)


-------------

filsafat

October 22nd, 2006 by mazbergaz


Filsafat, secara harfiah artinya adalah “cinta akan kebijakan”. Kebijakan, diambil dari kata dasar bijak. Seseorang disebut bijak jika orang itu memandang sesuatu hal secara objektif. Objektif berarti tidak memihak atau dengan kata lain memandang suatu masalah dari sisi luar masalah itu, tidak menempatkan diri pada subjek maupun objek masalah.


Saat seseorang memiliki suatu pegangan, maka orang tersebut dikatakan telah memihak.


Seorang filsuf adalah orang yang berfilsafat. Dengan gambaran di atas tadi, bisa disimpulkan bahwa filsuf menempatkan diri secara objektif, tidak memihak.


Banyak orang bilang bahwa orang yang bijak adalah orang yang punya prinsip, punya pegangan. Padahal dengan memiliki pegangan berarti orang itu tidak objektif. Tidak objektif berarti tidak bijak. Nietzsche berkata bahwa orang memandang filsuf sebagai orang yang sering atau mudah kehilangan pegangan.


Berarti menurut kebanyakan orang filsuf tidak bijak dong? Padahal filsuf kan orang yang berfilsafat, dan filsafat berarti cinta akan kebijakan..


----------



-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar