intisari

Kamis, 07 Mei 2009

Perjalanan pikiran emang susah ditebak. Tiba2 suka muncul suatu pertanyaan yang ga terduga, dan entah kenapa menuntut jawaban cepat. Sampe semua kegiatan lain (seolah-olah) harus ditinggalkan untuk menjawab pertanyaan yang baru muncul itu.


Gejala tidak fokus? Mungkin..

Gejala rasa ingin tau yang tinggi? Mungkin juga..

Apa semua gejala itu salah? Ga tau juga.. salah tuh apa? Benar tuh apa?


Berbagai pikiran muter-muter, masing-masing berupa pertanyaan, masing-masing menuntut jawaban, masing-masing memaksa difokuskan tanpa peduli kondisi satu sama lain. Hati makin bimbang, makin gelisah, makin kalut, makin tercekat. Dan tubuh hanya bisa diam mengolah semua fenomena tersebut berkelebatan tanpa henti.


Celoteh dari kanan: kembali ke prioritas! Celoteh dari kiri: lu tau ga sih prioritas itu apa?! Celoteh dari depan: apa sih yg sebenernya perlu diprioritasin? Celoteh dari belakang: hey, mabuk aja lah kita biar santai!


Yah, semua itu hanya sekelebatan pikiran yang terus melayang tanpa henti saling menabrak dengan ego masing-masing. satu pikiran yang akan berpindah ke pikiran lain di sebelahnya dalam satu rentang waktu tertentu. Dan pikiran di tempat yang dituju oleh pikiran tadi akan berpindah juga ke pikiran lain di sebelahnya. Jika ternyata arah mereka saling berlawanan maka akan terjadi tumbukan dan salah satu pikiran akan mati. (teringat pada Lattice Gas Automata? Emang nyontek dikit dari teori itu)


Sekali lagi, tubuh hanya bisa diam dan berusaha mencerna dan mengolah berbagai fenomena tersebut. Aku tau ada sebuah kepalan tangan melayang kea rah hidungku. Kepalan itu telah sampai beberapa sentimeter di depan hidungku. Terlihat jelas dengan kedua bola mataku. Tapi tubuh tetap tanpa reaksi, tanpa refleks, hanya mengamati dan membandingkannya lagi dengan berbagai kelebat fenomena di pikiranku.


Teguk demi teguk kehangatan coba ditenggak dengan tujuan relaksasi. Hanya dengan duduk tenang dan hati yang santai lah semua itu bisa dicerna dan diolah. Berbagai kelebatan itu akan bisa ditangkap dengan agresif dan diolah seperlunya tanpa bertele-tele. emosi secukupnya. Itu saja yang kuperlukan. Ingat lagi sebuah tebakan garing yang kusampaikan pada seorang kerabat “kucing apa yang well-motivated? Kucingkirkan semua hal yang mengganggu jalanku mencapai tujuanku”.


Ah bahkan hal itu kembali menimbulkan pertanyaan yang bertahun-tahun ini belum bisa terjawab. Apa sih tujuanku? Worthed kah sesuatu itu dijadikan sebagai tujuan? Hal seperti apakah yang pantas untuk dijadikan tujuan? Bertahan hidup bukanlah tujuan! Karena semua orang tau bahwa pada akhirnya hidup juga akan berahir tanpa bisa diduga sebelumnya, kita makan hanya untuk memperlama waktu hidup, bukan untuk bertahan hidup. Apa pula itu survival?! Hanya seonggok sampah tanpa makna yang jelas, Cuma sekedar buah dari keegoisan manusia.


Akhirnya pertanyaan itu akan sedikit dipersempit dengan “kondisi seperti apa yang kamu inginkan saat kamu mati?”


“aku mau mati muda!”, ah itu bukan jawaban!


“aku mau mati dengan seluruh keluargaku ada di sekelilingku, memelukku dan mengatakan bahwa mereka semua berada dalam keadaan cukup untuk bisa meneruskan kehidupan masing-masing dengan tenang”, hmmm aku suka jawaban itu.. tapi bagimana persisnya hidup dengan tenang? Hidup tanpa tekanan? Atau hidup dengan kondisi siap menghadang berbagai tekanan?


Aku menyukai keindahan. Aku ingin menghembuskan nafas terakhirku di dunia dengan melihat suatu keindahan dunia terpampang di depanku. Aku menikmati alam. Aku menyukai alam. Aku menyukai hijau-hijau daun yang lebat, rumput yang membentang luas, air danau yang biru jernih, suara burung berkicauan, suara aliran sungai yang menghanyutkan emosi, suara tawa kerabat terdekat. Aku ingin melihat itu semua pada saat kematianku.


Ah masih sangat jauh dari saat yang kulihat saat ini.

Aku belum boleh mati sekarang.



-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar