ocehan-ocehan 2007

Sabtu, 30 Mei 2009
culture
January 9th, 2007 by mazbergaz

Seorang teman pernah nanya pendapatku tentang akar penyebab lemahnya SDM di Indonesia. Kujawab bahwa menurutku hal itu disebabkan oleh kultur yang salah sehingga menyebabkan kesalahan pola pikir dan akhirnya merembet kemana-mana. Dia mengatakan penyebabnya adalah kualitas pendidikan yang buruk dan tidak merata.

Indonesia terkenal dengan sumber daya alam yang makmur, tanah subur, daerah tropis sehingga memungkinkan banyaknya ragam tanaman. Dengan menanam tanaman yang bisa dijadikan makanan, memelihara ternak yang bisa dimakan, orang Indonesia tidak perlu bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dan karena keadaan seperti itu merata di berbagai tempat, orang Indonesia tidak merasa perlu untuk lebih meningkatkan kualitas hidupnya. Kasarnya sih, “asal bisa hidup ya udah.”.

Keadaan seperti itu berlangsung turun temurun dan hingga kini masih banyak daerah di Indonesia yang masih menerapkan kehidupan seperti itu.

Di beberapa kota besar keadaannya telah berubah. Tontonan tentang kemewahan dan gaya hidup orang barat banyak diperoleh melalui televisi dan lingkungan, sehingga orang-orang yang hidup di kota itu pun terpacu untuk mengikuti gaya hidup mereka yang serba teknologi.

Karena teknologi membutuhkan biaya lebih untuk mendapatkannya, maka untuk mengejar itu mereka akan berusaha lebih keras. Mereka belajar selain untuk mendapat ilmu, mereka juga memerlukan ijazah agar bisa bekerja di tempat yang bisa memberikan gaji tinggi. Hal itu mengakibatkan tingginya persaingan di bidang pendidikan di daerah itu, sehingga kualitas pendidikan pun akan ikut terpicu. Hal itu juga yang menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak merata.

Dari gambaran tadi, aku menyimpulkan bahwa titik awalnya adalah kultur (adat) lalu meluas ke pergaulan dan gaya hidup, lalu berkembang ke pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan status ekonomi.

Pendidikan bukanlah hal yang konstan. Pendidikan berkembang sesuai kebutuhan, jika kebutuhan tidak meningkat maka pendidikan pun tidak akan meningkat.

Kultur yang enggan bersaing dan bekerja keras mengakibatkan kebutuhan yang tidak meningkat sehingga pendidikan cenderung stagnan dan bahkan menurun, dan mengakibatkan ekonomi yang juga stagnan.

Kultur didapat dari karakter masyarakat. Karakter didapat dari kebiasaan masyarakat. Kebiasaan masyarakat didapat dari kebiasaan individu. Dari struktur ini terjawablah apa akar penyebab lemahnya SDM di Indonesia.

---------

teknologi terbaru
January 18th, 2007 by mazbergaz

teknologi dikembangkan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. tapi dengan kemajuan teknologi yang cepat, ada efek negatif juga yaitu bikin orang jadi males.

males jalan karena udah ada mobil atau motor, males keluar rumah karena ada tv, males pergi ke toko karena udah bisa beli barang pake internet. internet juga nyediakan fasilitas chat untuk ngobrol2 sama orang yang jauh banget, yg akan butuh tarif mahal kalo nelpon dan butuh waktu luang utk ktemu.. intinya semua itu untuk memudahkan, dan memanjakan orang2.

rasa malas dan manja ini menimbulkan efek2 negatif lainnya kaya ga berkembangnya perekonomian, dan lain2.

melihat dari efek negatif ini, beberapa pihak mungkin beranggapan bahwa teknologi tetap harus membuat orang tidak malas bergerak.

contohnya, salah satu institut teknik tertua di indonesia, yg bertempat di bandung (baca:itb), telah menerapkan sistem pengisian formulir rencana studi melalui internet. berarti orang yang males seperti gw bisa ngisi form di jakarta dong… ternyata tetap gw ga dibolehin males sama itb, dengan teknologi majunya itu, mahasiswa cuma bisa mengakses pengisian FRS melalui jaringan dalam kampus itb, yang berarti tetep harus ke bandung… what a technology!!!

ada satu pertanyaan, kalo tetep harus ke kampus, ngapain harus online segala? malah ngerepotin, nantinya harus ngeprint lagi, perwalian lagi, blablabla… intinya mah malah lebih repot daripada pake formulir LJK… what a technology!!!

hal itu menunjukkan teknologi maju atau justru teknologi tanggung?

sungguh ironis…

-------

all bout life
January 24th, 2007 by mazbergaz

Tiap kali gw ngobrol sama orang, gw dapet kesimpulan kalo orang2 itu akan merasa lebih hidup kalo dia merasa dibutuhkan. Dengan rasa dibutuhkan itu dia akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan hal2 yang sifatnya menolong atau membantu orang atau hal lain yang sedang kesulitan.

Berarti secara garis besar orang akan merasa lebih hidup dengan adanya tanggung jawab. Ada tanggung jawab berarti ada hal yang harus dilakukan. Dan hal yang dilakukan itu tidak sekedar untuk dirinya sendiri.

Yah, kebayang lah apa yg kira2 dirasain sama orang2 yang terus menerus melarikan diri dari tanggung jawabnya…

--------

24 jam
April 18th, 2007 by mazbergaz

Pernah kebayang kalo hidup manusia cuma 24 jam?

Kalo rata-rata orang hidup 70 taun, berarti detak jantung kita dipercepat
25.550 kali, irama nafas kita dipercepat 25.550 kali, semua gerakan kita juga
dipercepat 25.550 kali. Semuanya serba cepat dan belum tentu kita bisa
menikmati kehidupan kita itu kecuali kecepatan berpikir kita juga meningkat
25.550 kali.

Dalam waktu yang hanya 24 jam kita harus mulai berdiri, berjalan, belajar,
bekerja dan meneruskan keturunan. Semua itu harus dilakukan dengan kecepatan
25.550 kali biasanya. Busettt…

Semua orang harus menemukan dirinya dengan cepat, lalu dengan cepat juga
mengaktualisasikan dirinya itu. Cuma 24 jam!

Hidup terkesan cuma ada 2 hal, lahir trus mati. Dalam hidup kita terkesan kita
harus melakukan sesuatu sebelum mati. Sebenernya
apa sih yang harus kita lakukan itu? Kita seperti buru-buru melakukan
sesuatu sebelum mati. Harus ga sih kita
melakukan sesuatu? Toh hidup cuma sebentar…

Cuma 24 jam!

--------

pemimpin
April 18th, 2007 by mazbergaz

Tiba-tiba inget waktu jadi panitia pemilu himpunan waktu
itu. Tim formatur kepentok di pembahasan peraturan dengan sebuah pertanyaan
“yang kita kejar itu pemimpin yang kuat atau tim yang kuat?”

Pemimpin yang kuat tuh yang kaya gimana sih? Tim yang
kuat maksdnya apa sih?

Klo menurut gw pemimpin yang kuat tuh yang bisa
mengorganisasi bawahannya sesuai apa pun keinginannya.trus dia jelas punya
pemikiran dan karakter yang kuat jadi orang-orang pada segan sama dia.

Tim yang kuat tuh maksudnya tipe kepemimpinan yang
dipegang oleh beberapa orang. Mungkin secara individu mereka kurang bagus tapi
dalam kelompok, mereka bisa mengorganisasi bawahan mereka dengan baik.

Klo dilihat sekilas, awalnya gw lebih milih tim yang kuat
karena ujung2nya seorang pemimpin pasti butuh tim. Tapi klo dilihat lebih jauh
lagi, pemimpin yang kuat kan bisa mengorganisasi bawahannya dan pasti bisa
membentuk tim yang kuat juga, selain itu keunggulannya lagi dengan adanya
seorang pemimpin kuat berarti ada sebuah sosok yang dijadikan pedoman.

Gw nulis apa sih?jelek!ga penting!

Mungkin hanya sekedar sosok. Tapi ternyata sosok itu
adalah sebuah pemersatu yang baik. Dengan adanya sosok yang disegani,
kebersamaan bisa kebentuk. Bisa jadi ada kesadaran untuk berpikir bergerak
bersama-sama.

Hitler pernah membuat sebagian eropa dikuasai oleh
jerman, rasulullah berhasil membuat islam tetap bertahan sampai sekarang, sukarno
pernah membuat indonesia bersatu dan memerdekakan indonesia.

Gitu deh… intinya adalah sebuah sosok kuat yang
disegani, walaupun dalam prakteknya mereka dibantu oleh tim yang kuat.

------

ngayal
April 18th, 2007 by mazbergaz

Ketika itu aku tiduran di atas semen di salah satu tempat yang tinggi dan kebuka. Lama aku liat langit yang banyak bintang trus aku fokus liat ke satu bintang. Ga tau sih itu bintang atau bukan, ada satu titik kecil warna kuning (itu yg gw liat, secara gw buta warna) yang makin lama makin gede. Dari cuma segede titik aja lama-lama benda itu udah segede bola basket, trus nambah gede sampe segede mobil. Tiba-tiba benda itu
(sebut aja bintang lah ya), tiba-tiba bintang itu agak berubah bentuk sampe
berbentuk kepala. Ada mata, ada idung, ada mulut.

Trus bintang muka itu buka
mulutnya dan komat-kamit. Lama-lama aku bisa denger suaranya, tadinya kecil
tapi makin lama makin keras dan lantang. Dia nanya “ngapain kamu tidur-tiduran
doang?! Harusnya kamu lagi ngerjain tugas-tugas atau tidur, bla bla bla
bla…..”

Trus aku nengok ke sebelahku,
mataku ngeliat ke satu orang yang duduk di sebelahku. Aku bilang ke dia tentang
apa yang aku liat dan denger itu trus dia bilang “halah, ngayal lagi…..
betewe lu emang suka ngayal ya?”

Ngayal? Ngayal tuh setau gw
mbayangin hal yang ga ada di duniaku. Sedangkan “penampakan” kaya tadi tuh ada
di duniaku sehari-hari. Itu bagian dari duniaku. aku hidup dalam duniaku
sendiri. Ya iyalah, semua orang juga hidup dalam dunia masing-masing,
sendirian. Dalam hidup semua orang, yang namanya “aku” itu cuma satu, ya si
orang itu doang. Si “aku” mandang hidup dari dunianya sendiri, dari apa yang
dia liat sehari-hari, apa yang dia lakukan sehari-hari, apa yang dia pikirin
sehari-hari, itulah dunianya.

Dari situ ga bener dong kalo
aku tukang ngayal?! Ngayal kan mbayangin sesuatu yang ga ada di duniaku,
padahal itu kan bagian dari duniaku, apa yang aku liat, apa yang aku pikirin…berarti
aku ga ngayal… atau mungkin duniaku yang cuma khayalan? Kalo kamu sepakat
bahwa aku hidup di alam khayal, berarti kamu juga sepakat kalo kamu hanya
bagian dari khayalanku…

Atau mungkin malah kita semua,
termasuk aku, cuma khayalan? Hanya sebuah imajinasi dari suatu sosok?! Mungkin
gitu?

Mungkin banget…

sekarang aku lagi ngeliat ada
sesosok mahluk (entah cowok entah cewek, entah orang entah bukan) lagi ngerokok
samsu sambil ngayal.. di khayalannya ada satu orang yang badannya kurus, rambut
berantakan, ngerokok samsu, lagi ngetik-ngetik di depan komputernya. Dan
ternyata orang itu adalah sesosok orang yang biasa kusebut sebagai “aku”…

aku mengkhayal? Atau aku cuma khayalan?

--------

ga tau
May 6th, 2007 by mazbergaz

"rasa" emang ga pernah bisa didefinisikan..rasa apa yang gw rasa…

dan sekarang dengan bodoh dan (sok) lugunya gw ngerasa bingung… bahkan gw pun bingung kalo mesti definisiin apa yg gw bingungin… halah jangankan definisiin, utk nyeritain pun bingung… entah apa itu…

(mungkin) gw lagi ngerasa banyak mau;
- mau kuliah bener
- mau kerja
- mau tidur 10 jam sehari
- mau aktif di komunitas
- mau jadi orang yg dibutuhin orang-orang
- mau jadi orang yg nyantai
- mau senang-senang tiap waktu
- mau nikmatin hidup

ga tau kenapa, gw malah lebih sering mikirin itu daripada njalaninnya.. kata orang sih ‘ah lu mah kebanyakan mikir…’ . iya sih, tapi kumaha deui? da urang mah kitu…

gw juga tau bahwa ada sebuah quote yg bilang "saat lu INGIN menjadi sesuatu berarti lu BUKAN sesuatu itu"… berarti semua yang gw tulis diatas tadi bukan gw dong?

yang paling penting sebenernya tuh gw MAU nikmatin hidup, apakah berarti selama ini gw ga menikmati hidup? apakah gw ga dibutuhkan? mungkin gw sedang down banget akhir-akhir ini… yaa ada sih hal-hal yang bikin gw seneng, tapi selalu (dalam satu hari) ada saat gw akan ngerasa kaya sekarang… ngerasa ga jelas, ngerasa kecil, ngerasa ga berguna…

hehehehe,,,, tapi ada satu sisi yang gw suka dengan perasaan kaya gini, gw ngerasa "manusia banget!".. ini kelebihan manusia dibanding mahluk lain, cenah… dengan ngerasa kaya gini paling ga gw jadi yakin kalo gw tuh ternyata masih hidup… masih punya perasaan… dan justru yang kaya gini nih yang bikin semangat utk terus bertahan hidup…

kata orang (yang mengaku) bijak sih "saat lu ngerasa kecil, lu akan ngerasa perlu berjuang… dan saat lu ngerasa besar, lu ga akan ngerasa perlu lagi utk berjuang" trus kata salah satu grup band yg najis: "hidup adalah perjuangan"… jadi kesimpulannya orang yg kecil akan berjuang mati2an dalam hidup (hah?! orangkecil=candrawana? sadis!! ga banget!!!)

kesimpulannya gw ngerasa lebih hidup dengan perasaan kaya gini…

ga tau ah, sebenernya gw tuh mau nulis apa sih?
udahan ah, makin malam makin sigap, makin sigap makin ga konek…
mau nonton aja deh… duduuu

------

tujuan: belajar
August 22nd, 2007 by mazbergaz

Barusan gw tiba-tiba kepikiran tentang sebuah tujuan, tentang perjuangan.

Secara umum tujuan tuh hanya satu. Tapi dalam pencapaiannya, akan ada banyak banget rintangan, ancaman, hal-hal yang njatohin mental, sampe akhirnya ada sesuatu yang naikin mental lagi. Yang disebut perjuangan adalah saat kita ngelewatin itu semua. Biasanya dalam pelaksanaannya, tujuan besar itu dibagi-bagi lagi dalam tujuan-tujuan kecil.

Tujuan gw adalah belajar. Parameter keberhasilan gw, yang jadi tujuan kecil, salah satunya (contoh) adalah wisuda. Wisuda terkait dengan akademis. Tapi apa yang ingin gw pelajari tuh sebenernya bukan akademis, itu ga penting buat gw. Gw pengen sesuatu yang lebih dari sekedar itu, kalo kata temen-temen gw sih istilahnya tuh “esensi”..

Esensi atau makna.. belajar adalah pemaknaan.. bagaimana memaknai sesuatu.. kalo kata orang-orang jagoan agama sih dibilang “hikmah”..

Dan balik lagi ke contoh soal akademis, menurut gw itu Cuma kulitnya doang, tapi ada makna yang jauh lebih dalam dari itu, yaitu gimana kita mengatur diri kita sendiri untuk memahami urusan akademis. Contoh lain misalnya soal organisasi, esensinya menurut gw adalah gimana kita mengatur diri kita sendiri untuk bisa bekerja dalam kelompok dan berjalan ke arah tujuan kelompok.

Dan ternyata hal sepele itulah yang paling sulit untuk dilakukan. Seseorang mungkin punya pemikiran hebat. Tapi belum tentu dia bisa mengatur dirinya sendiri untuk mengkonkritkan pemikirannya itu. Itulah perjuangannya.


Itulah belajar menurut gw. Sebuah proses yang memerlukan kesadaran. Sebuah proses pencarian jati diri. Sebuah proses yang baru akan selesai saat fisik dan otak kita mati.


Sekarang jam 02:45 AM..

Ini salah satu hal yang masih gw pelajari, gimana caranya menghentikan aktivitas pikiran gw yang ga tau waktu dan kondisi.. dalam hal ini, tujuan kecil gw adalah tidur nyenyak.. ngantuk bgt!

------

tentang rasa dan tanggung jawab
August 28th, 2007 by mazbergaz

Lagi2 ngoceh ga jelas tentang “rasa”…

Tapi bedanya kali ini digabungin sama ocehan tentang tanggung jawab…

——– (bingung mau nulis apa) ——–

Tanggung jawab identik dengan kewajiban. Biasanya kewajiban akan terbengkalai karena ada “rasa”. Rasa malas, rasa marah, dan rasa2 yg lain.. kalo hal ini terjadi, berarti rasio atau akal lah yg harus bekerja keras utk menghilangkan rasa2 itu supaya kewajiban tetep bisa dilaksanakan…

Entah kenapa kali ini gw justru berhadapan dengan tanggung jawab yang (justru) muncul dari “rasa”..

Gw definisikan “rasa” sebagai sesuatu fenomena yg kita alami dan ga bisa dideskripsikan dengan kata2, ga bisa dijelasin dari mana datengnya dan kemana perginya..

Beberapa bulan terakhir ini semua hal yg gw lakukan didasari oleh logika atau akal atau rasio atau apa lah namanya, intinya semua itu hasil kerja otak gw.. gw sama sekali ngelupain tentang yg namanya perasaan.. saat itu gw emang dituntut utk bersikap kayak gitu supaya suatu program bisa terlaksana dengan baik dan saat itu gw emang sengaja menghilangkan perasaan gw..

Setelah program itu selesai, gw kembali ke kehidupan normal.. yah, paling ga gw nyoba utk kembali ke kehidupan normal, tapi entah kenapa, sisi “rasa” gw ga kunjung datang… gw ngambil suatu keputusan yg (menurut gw) penting utk masa depan gw, dan keputusan gw itu murni dilandasi oleh logika..

Utk follow up dari keputusan gw itu, gw udah ngomong sama orang2 yg akan berhubungan dengan keputusan gw itu, berdasarkan akal seharusnya urusan gw dengan orang2 itu udah selesai, gw udah ga punya tanggung jawab lagi terhadap mereka…

Tapi entah kenapa pada akhirnya gw masih tetep ngerasa ada tanggung jawab gw yg nempel bareng sama orang2 itu, dan sekali lagi gw coba ilangin rasa itu dengan logika gw.. tiba2 dateng lagi rasa tanggung jawab itu, dan sekali lagi gw coba ilangin.. dan berkali-kali rasa itu dateng, jujur gw sangat ngerasa terganggu dengan rasa itu…

Kata orang mah itu rasa “sayang”, tapi gw ga tau bener atau nggak, masalahnya rasa ini dateng bukan utk 1 orang, tapi kumpulan orang, komunitas, mungkin bahkan organisasi… komunitas/organisasi itu yg ngajarin gw utk lebih ngandelin logika (dalam beberapa bulan terakhir) ternyata karena komunitas/organisasi itu juga gw harus mengakui eksistensi dari perasaan…

yg bikin ribet adalah, saat gw ngikutin "rasa" tanggung jawab gw ke komunitas itu, secara logika tanggung jawab itu akan menghambat gw utk nyelesein tanggung jawab gw yg lain (yg menurut logika gw, tanggung jawab yg lain ini penting bgt utk masa depan gw)

agak ga nyambung ya?entah lah)

Jadi gimana cara memandang tanggung jawab (“rasa” tanggung jawab atau “wajib” tanggung jawab?)…

berbelit2 ya?biarin lah namanya juga belajar….)

-------


-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar