sederhana sekali

Selasa, 30 Desember 2008
mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa suatu mahluk hidup disebut manusia ketika dia memiliki akal dan emosi..

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa akal digunakan dengan baik ketika dia digunakan untuk menganalisa, mempertimbangkan, dan kemudian mengambil keputusan..

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa emosi digunakan dengan baik ketika dia digunakan untuk merasakan empati..

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa pilihan adalah suatu keadaan yang diperoleh sebagai hasil adanya analisa dan pertimbangan..

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa keputusan adalah hasil dari serangkaian proses nalar setelah menemui berbagai pilihan..

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa seorang manusia tidak akan bisa memisahkan akal dan emosinya, sehingga jalan yang terbaik adalah mengharmoniskan kedua sifat manusiawi tersebut..

------------

mungkin kita pernah membaca atau mendengar bahwa manusia juga sangat dekat dengan egonya..

dan bahwa ego merupakan hasil dari proses emosi yang merupakan konsep seseorang yang berkaitan dengan karakternya secara individual..

sehingga ego yang berlebih dapat meluluhlantakkan empati..

dan pada akhirnya, nilai kita sebagai seorang manusia yang menuju ideal akan kita jatuhkan sendiri dengan mempertahankan ego yang berlebihan..

------------

mari kita ingat lagi bahwa empati mengajak kita untuk selalu memanusiakan seorang manusia, yang berarti membiarkan seseorang dapat bebas berkehendak dengan akal dan emosinya, tentu saja selama kebebasan itu tidak mengganggu kebebasan yang lainnya..

dan mari kita ingat juga bahwa akal bekerja untuk menganalisa, mempertimbangkan dan memutuskan segala sesuatu, dan bahwa akal juga mempertimbangkan sisi empati..

------------

maka kita bisa simpulkan bahwa penghargaan tertinggi kepada seorang manusia adalah dengan memberi kepercayaan satu sama lain untuk dapat memilih sesuai dengan akal dan emosinya masing2.. 

dan sebagai timbal baliknya, kita akan memberikan penghargaan tertinggi kepada diri kita sendiri jika kita menyadari luhurnya nilai sebuah empati kepada orang lain dan jika kita menggunakan akal kita untuk menyadari bahwa setiap orang lain juga memiliki akal dan berkehendak dengan bebas untuk menentukan pilihannya masing-masing..

dengan demikian, pada akhirnya kita akan menganggap semua manusia lain adalah sederajat dengan kita yaitu sebagai subyek dalam hidupnya masing-masing, bukan sebagai obyek yang bisa kita klaim untuk kita dapatkan atau kita miliki seutuhnya..

------------

sederhana sekali,

semua yang kita lakukan dan/atau pikirkan kepada manusia lainnya akan menunjukkan nilai kita sebagai seorang manusia..

dan akan sangat baik jika kita mampu mengontrol ego kita sendiri untuk tetap memperhatikan empati supaya eksistensi kita sebagai manusia beradab tetap terjaga..

sederhana sekali..


-------------------------------------------------------------------------------------

2 komentar:

Anonim mengatakan...

hahahha..gw tau kenapa lu nulis bginian..

terlihat sederhana tapi susah bgt ngejalaninnya..

anita

BERGAS BIMO BRANARTO mengatakan...

gimanapun yang namanya orang pasti punya ego, tiap orang pasti egois. tapi sampe sebatas mana ego itu perlu dipertahankan?

dengan ego, seseorang bisa aja ngerasa lebih superior dari yang lain dan merasa bisa menguasai si inferior, padahal mana ada orang yang bisa menguasai orang lain? itu sih bukan urusan manusiawi lagi..

kalo diambil kesimpulan:
seberat2nya bacaan kita tentang filosofi manusia, semantep2nya pikiran kita untuk mencerna dan mengingatnya, tapi kalo kita ga bisa ngontrol ego kita sendiri, jadi sampah aja semua bacaan dan memori itu, toh ternyata tindakan kita menunjukkan bahwa kita ga bisa mbedain sejauh mana wewenang kita dan sejauh mana seseorang berwenang atas hidupnya sendiri..

ketika seseorang merasa lebih superior dari yang lainnya dan merasa berhak untuk menguasai si inferior, pada saat itulah si "superior" tadi berada pada titik terendahnya..

Poskan Komentar