perubahan

Selasa, 03 Juni 2008

Segala hal pasti akan berubah, entah tambah baik atau tambah buruk, tapi pasti berubah. Mungkin karena itu juga akhirnya kita suka susah menentukan mana yang baik dan mana yang buruk…

ga jelas yah?

Kalo ngobrol sama orang2 tua (kira2 seumuran ma bokap nyokap kita lah), sering banget mereka bilang klo kita ga tau esensi dari segala sesuatu, kita terlalu berpegang sama peralatan. Misalnya, kita sering ngomong “ah, gimana gw bisa bikin lagu, gitar gw senar 4-nya putus..”. mungkin si ortu2 itu akan komentar, “yaelah, bikin lagu tuh bukan pake gitar 6 senar, tapi pake kreatifitas!”.

(sebenernya gw baru kesepet sih sama lagunya hari rusli yg judulnya gitar satu senar)

Lagu itu cerita tentang betapa dengan gitar satu senar juga ternyata kita bisa bikin lagu yang “mengena di hati” dan satu senar gitar juga masih bisa mainin banyak nada. Intinya dalam hal itu adalah kreatifitas dan menggunakan apa pun yang ada tanpa mengeluh. Mengingatkan kembali akan esensi dari sebuah lagu.

Masalahnya adalah, klo jaman dulu, lagu emang lebih sering dipake sebagai sarana propaganda atau sarana menyampaikan perasaan dengan kata2. Pada jaman itu, lagu2 yang ada emang liriknya “dalem” dibandingin sama lagu2 yang kebanyakan ada sekarang. Emang yang dijual tuh beda, kalo jaman dulu menjual lirik-musik, kalo sekarang lebih menjual musik-lirik. Yang lebih diutamakan adalah musiknya. Salah satu tandanya adalah betapa musik “dugem” sekarang digemari. (dalam tiap jaman ga mungkin Cuma ada satu music yg digemari, pasti ada komunitas2 pecinta music tertentu, tapi disini kita ngeliat dari sudut pandang mainstream).

Dan dalam sudut pandang music (bukan lirik), hilangnya satu senar dalam gitar bisa cukup berpengaruh, dan dalam sudut pandang ini maka komentar orang tua yang bilang “bikin lagu tuh bukan pake 6 senar, tapi kreatifitas” jadi mentah. Bener sih, kita emang masih bisa mainin nada yg ada di (anggeplah) senar 4 dengan mainin senar 3 atau senar 5, tapi ga bisa dipungkiri kadang kaya gitu emang bikin ribet. Hal ini nunjukin bahwa sesuatu hal yang pada jaman dulu bukan hal esensial, ternyata untuk masa sekarang hal itu bisa jadi esensial.

Memang ada perubahan.

Beberapa kali juga terjadi bahwa kita menganggap generasi dibawah kita tidak tau esensi dari suatu hal. Yah, klo diliat2 lagi, mungkin itu sebenernya masalah yang sama dengan saat ortu kita ngeliat kita. Saat kita ngomentarin orang yang beda generasi dengan kita bahwa mereka tidak esensial, mungkin ternyata malah kita sendiri yang kurang melihat esensi dari sebuah perubahan.

Teknologi berubah, kehidupan (atau peradaban) pasti berubah, perilaku masyarakat ikut berubah, maka kultur (atau budaya) juga ikut berubah. Tiap generasi pasti punya esensi masing2, tetapi ada hal yang lebih umum lagi dan berlaku untuk seluruh generasi, yaitu sebuah esensi bahwa perubahan pasti terjadi, dan tidak ada salah/benar yang berlaku universal saat kita bicara tentang perubahan.


DAMAIroom Sociotech ‘n Art, 180308

Bergas Bimo Branarto


-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar