teguk demi teguk

Minggu, 26 Oktober 2008
satu tegukan besar..

lalu aku mulai membayangkan sesosok kawan yang baru saja menayakan bilamana pengumpulan suatu naskah hasil percobaan yang mana beliau belum menuliskan setoreh cretan satu huruf pun ke atas kertasnya yang diliputi kaca bening.. dengan ringan lafalku mulai mengecapkan sebaris penuh makna bahwa tak seorang kerabat pun yang telah menunaikan tugasnya sebagai mahasiswa di atas kertas masing-masing yang berbalut kaca bening.

satu teguk berikutnya..

lalu aku mulai membayangkan seorang kawan lama yang beraksi di hadapan massa pengikutnya. dengan gulungan-gulungan benang wol merah yang dililitkan di sekujur pembalut kulitnya dan ketika itu beliau mengatakan bahwadia bahkan tidak tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya dan mulai bergerak-gerak mengikuti irama musik yang dimainkan oleh seorang kerabat keriting cina kecil berkacamata yang lucu itu..

lalu aku mulai membayangkan seorang gadis lucu berpipi gempal (gemuk se-kepala) yang menatap tajam mataku dan mengatakan bahwa dirinya tengah dilanda suatu hentakan emosi yang menghilangkan keceriaan dari matanya, di sebelahnya duduklah sesosok orang yang ku sebut sebagai kakak sedang menikmati aksi panggung kawan lamaku sambil diam menatap dengan tajam dan konsentrasi sehingga melupakan aroma nafas asap tembakau yang ditiupkan ke seluruh penjuru bangunan oleh dua orang kawan lamaku lainnya..

tegukan ketiga..

rasa hangat mulai menjalari rongga-rongga alat pencernaanku yang kedua yaitu kerongkongan, terus bergerak perlahan menuju lambung, dan mulai mencuci lambungku dari segala macam bakteri yang tidak dapat menahan sengatan suatu fluida yang memiliki rumus kimia dengan awalan OH..

kembali aku mulai mengingat perjalananku di bangunan dan civitas yang menurut pandangan beberapa mahluk tua sebagai institut terbaik di negeri tercinta. saat aku banyak bergaul dengan mahluk-mahluk sejenisku, saat aku mulai pertama kali mengemban amanah dalam menggunakan sebuah penutup tubuh berwarna biru, saat aku mulai mencabik layar bening yang kusebut sebagai layar monitor, saat aku mulai membaca dan menuliskan huruf demi huruf yang terangkai menjadi suatu kalimat yang terangkai lagi membentuk suatu rangkaian paragraf, dan setelah kuamati ternyata merupakan teriakan-teriakan bawah sadarku yang kian menggebu pada masa itu..

dan aku teringat saat aku menyaksikan kemenangan seorang pemimpin yang kukagumi dan kuberusaha mengikuti caranya mengolah suatu data dan kata. dan pada saat itu juga mataku menatap sebongkah bola mata bundar penuh keluguan berusaha menemukan sepetik kalimat untuk diutarakan padaku dan bahwa saat itu aku yakin mataku telah mengungkapkan semua yang terasa di baliknya.

lalu aku teringat saat hari-hariku berubah. saat canda tawa mulai mengisi kembali kesunyian yang kurasakan selama sekian rengkuh waktu yang menginjak-injak semua kenangan bagai sesuatu yang tidak berarti. kembali kuingat saat canda tawa itu berubah menjadi sebentuk amarah yang kian menghapus semua penat di kehampaan jiwa. dan entah mengapa bisa suatu amarah mengerahkan seluruh emosi dan jiwa yang mengingnkan, bahkan menuntut untuk membimbing, menjaga, dan mewartakan segala keadaan yang halusinatif bagiku, kuingin dia melihat dengan mata kepalanya bahwa sebuah lingkungan bisa bertindak sebegitu buruknya terhadap siapa saja. dan aku hanya ingin berada di sampingnya melihat dia tertawa, bayangkan betapa lucunya penampilan wajahnya saat tertawa.

aku merindukannya. entah sengatan apa yang terkirim padanya di detik-detik menjelang coretan ini dimulai, tapi kurasa dinginnya malam menjadi tidak berarti, hangat jiwaku ditolak dengan penuh tanda tanya besar pada dirinya. dan aku tidakbisa mengucap sekata pun kecuali kata maaf. maaf yang tidak kutahu penyebabnya.

lalu aku melihat ke samping monitorku, dan aku menemukan kekosongan pada botol yang mengisi kertas beningku dengan curahan kata demi kata.


-------------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar